Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 25 Februari 2026 | 16:10 WIB
Terdampak Krisis Iklim: Bagaimana Panas Ekstrem Membuat Harga Kopi Makin Melejit?
Ilustrasi pohon kopi (Freepik/freepik)

Suara.com - Bagi sebagian orang, kopi adalah bagian dari rutinitas harian. Namun, secangkir kopi yang diminum setiap pagi menyimpan cerita panjang dari hulu produksi—termasuk tantangan cuaca ekstrem yang kian sulit diprediksi.

Industri kopi kini berada di bawah tekanan krisis iklim. Peningkatan emisi karbon memicu perubahan suhu dan pola hujan, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas panen. Di berbagai daerah penghasil kopi, petani menghadapi musim yang tak menentu, gagal panen, hingga penurunan hasil produksi.

Laporan terbaru dari Climate Central mengungkapkan fakta pahit bahwa perubahan iklim secara drastis mengubah lanskap produksi kopi dunia, menjadikannya lebih sulit ditanam dan lebih mahal untuk dibeli.

Analisis terbaru menunjukkan bahwa selama periode 2021-2025, perubahan iklim telah "menyuntikkan" gelombang panas tambahan yang merusak tanaman di hampir seluruh wilayah penghasil kopi dunia. Jika kita tidak bertindak, kenikmatan kafein harian kita akan menjadi sejarah yang terkubur oleh suhu yang terus memanas.

Panas Ekstrem: Musuh Utama Biji Kopi

Tanaman kopi, khususnya varietas Arabika, sangat sensitif terhadap suhu. Dari survei 25 negara, dapat dianalisis bahwa penghasil kopi utama menunjukkan bahwa antara tahun 2021 hingga 2025, perubahan iklim telah memicu lonjakan hari-hari dengan panas yang merusak.

Ambang batas suhu berbahaya bagi kopi adalah di atas 30 derajat Celcius atau setara dengan 86 derajat Fahrenheit. Jika melebihi itu, suhu di atas titik ini dapat merusak kualitas dan kuantitas panen, terutama bagi Arabika yang bahkan sudah mulai tertekan pada suhu 25 derajat Celcius.

Fakta Angka dari Lima Raksasa Kopi

Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia, dan Etiopia selama ini menjadi tulang punggung pasokan kopi dunia, menyumbang sekitar 75 persen kebutuhan global. Namun, kelima negara produsen terbesar ini kini menghadapi tekanan serius akibat pemanasan global.

Di Brasil, perubahan iklim memicu tambahan sekitar 70 hari panas ekstrem setiap tahun. Indonesia bahkan mengalami sekitar 73 hari panas berbahaya tambahan. Sementara itu, Vietnam dan Kolombia masing-masing menghadapi kenaikan 59 dan 48 hari cuaca panas yang berisiko merusak tanaman. Di Etiopia, rata-rata terdapat tambahan 34 hari suhu ekstrem setiap tahunnya.

Lonjakan hari panas ini bukan sekadar angka. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu fase berbunga, menurunkan kualitas biji, hingga meningkatkan risiko gagal panen—ancaman nyata bagi keberlanjutan produksi kopi dunia.

Secara rata-rata, negara-negara ini akan mengalami sekitar 57 hari tambahan cuaca panas yang dapat merusak kopi setiap tahunnya disebabkan oleh polusi karbon.

Dampak Langsung bagi Kantong Konsumen

Pernahkan Anda bertanya-tanya mengapa harga latte atau kopi kemasan favorit Anda terus meroket? Jawabannya bukan sekadar inflasi biasa, melainkan efek domino dari krisis iklim. Pada Desember 2024 dan Februari 2025, harga kopi global mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Hal ini bermula dari kekeringan parah yang melanda Brasil pada 2023 hingga gelombang panas yang membakar ladang-ladang global, pasokan kopi dunia kini berada dalam tekanan hebat. Di balik setiap kenaikan harga di kasir, ada cuaca ekstrem yang sedang bekerja merusak panen para petani.

Masa Depan yang Berubah

Tanpa adaptasi yang memadai, lahan yang cocok untuk menanam kopi diprediksi bisa berkurang hingga 50% pada tahun 2050. Para petani, yang mayoritas adalah petani kecil dengan lahan kurang dari 12 hektar, kini berada di garis depan perjuangan ini.

Namun, masih ada secercah harapan di tengah panas yang menyengat. Para petani kini mulai berpacu dengan waktu untuk beradaptasi, salah satunya melalui praktik pertanian berkelanjutan. Mereka menanam pohon peneduh yang disebut dengan shade-grown coffe untuk melindungi tanaman dari panas menyengat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati. Kita harus berterima kasih pada mereka karena strategi ini bukan hanya tentang menyelamatkan rasa dalam cangkir kopi kita, meainkan juga menjaga ekosistem dan habitat satwa liar agar tetap lestari di dunia.

Krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan. Dengan mendukung praktik pertanian yang tangguh iklim, berarti tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga memastikan aroma kopi tetap ada untuk generasi mendatang.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bolehkah Minum Kopi saat Sahur Puasa Ramadan? Ini Kata Dokter Tirta

Bolehkah Minum Kopi saat Sahur Puasa Ramadan? Ini Kata Dokter Tirta

Lifestyle | Selasa, 24 Februari 2026 | 11:03 WIB

Bolehkah Minum Kopi saat Buka Puasa? Ini yang Perlu Diperhatikan

Bolehkah Minum Kopi saat Buka Puasa? Ini yang Perlu Diperhatikan

Lifestyle | Jum'at, 20 Februari 2026 | 10:00 WIB

Aksi Brutal di Kemang: 4 Pria Diduga Mabuk Ngamuk di Kafe, Pengunjung dan Karyawan Babak Belur

Aksi Brutal di Kemang: 4 Pria Diduga Mabuk Ngamuk di Kafe, Pengunjung dan Karyawan Babak Belur

News | Rabu, 18 Februari 2026 | 17:28 WIB

Terkini

Blackout Sumatra Dinilai Ungkap Kelemahan Sistemik Kelistrikan, PLN Didesak Audit Menyeluruh

Blackout Sumatra Dinilai Ungkap Kelemahan Sistemik Kelistrikan, PLN Didesak Audit Menyeluruh

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:28 WIB

Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo Ajak Megawati Jalan Berdampingan

Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Prabowo Ajak Megawati Jalan Berdampingan

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:21 WIB

Penghormatan Terakhir Presiden Prabowo untuk Mantan Menhan Ryamizard

Penghormatan Terakhir Presiden Prabowo untuk Mantan Menhan Ryamizard

News | Senin, 01 Juni 2026 | 11:06 WIB

Invasi Jauh ke Lebanon Selatan, Israel Klaim Rebut Benteng Beaufort

Invasi Jauh ke Lebanon Selatan, Israel Klaim Rebut Benteng Beaufort

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:49 WIB

Yasinta Moiwend: Perempuan Adat Papua Konsisten Suarakan Lingkungan, Hingga Polemik Pesta Babi

Yasinta Moiwend: Perempuan Adat Papua Konsisten Suarakan Lingkungan, Hingga Polemik Pesta Babi

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:38 WIB

TPS Tambora Uji Coba Eco Lindi untuk Atasi Bau Sampah dan Gas Metana

TPS Tambora Uji Coba Eco Lindi untuk Atasi Bau Sampah dan Gas Metana

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:23 WIB

Ledakan Bubuk Mesiu Hancurkan Desa di Myanmar, 55 Orang Tewas

Ledakan Bubuk Mesiu Hancurkan Desa di Myanmar, 55 Orang Tewas

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:16 WIB

Disambut Menhan Sjafrie, Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Jenderal Ryamizard di Kemhan

Disambut Menhan Sjafrie, Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Jenderal Ryamizard di Kemhan

News | Senin, 01 Juni 2026 | 10:02 WIB

Warga Teriak Minta Tolong! 9 Nyawa Lolos dari Maut saat Rumah Dinas TPU Kebon Nanas Terbakar

Warga Teriak Minta Tolong! 9 Nyawa Lolos dari Maut saat Rumah Dinas TPU Kebon Nanas Terbakar

News | Senin, 01 Juni 2026 | 09:43 WIB

Mimpi Nikah Kandas! Pasutri WO Jaktim Penipu Rp2,6 M Ditahan usai Jerat 58 Pasangan

Mimpi Nikah Kandas! Pasutri WO Jaktim Penipu Rp2,6 M Ditahan usai Jerat 58 Pasangan

News | Senin, 01 Juni 2026 | 09:29 WIB