- Jardiyanto (51) menciptakan peci batik ikonik Jogokariyan berawal dari pelatihan kreatif LPMK Mantrijeron tahun 2015.
- Peci tersebut menjadi identitas jamaah setelah mendapat tantangan dari Ustaz Muhammad Jazir untuk dijadikan oleh-oleh khas.
- Produksi peci batik ini meningkat drastis saat Ramadan, menciptakan lapangan kerja lokal dan berhasil menembus pasar internasional.
Suara.com - Jogokariyan memiliki berbagai kisah menarik di balik keriuhan ibadah dan pasar sore setiap Bulan Suci Ramadan. Termasuk cerita kreatif dari tangan Jardiyanto (51), perajin yang berhasil mengubah kain batik menjadi penutup kepala yang kini menjadi identitas bagi banyak jamaah.
Kisah peci ini bermula dari sebuah ruang pelatihan kreatif yang diadakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Mantrijeron pada 2015 silam. Jardiyanto mengenang momen saat dirinya menjadi satu-satunya peserta laki-laki di antara puluhan peserta perempuan yang fokus membuat kerajinan seperti tas dan dompet.
Didorong rasa jenuh melihat penutup kepala di masjid yang hanya didominasi warna hitam dan putih, ia mencoba memanfaatkan kain perca batik untuk menciptakan identitas baru.
"Akhirnya ketika ke masjid kan 'oh peci kok cuma hitam putih ya? Coba saya bikin pakai batik.' Dulu songkok batik masih belum bentuk seperti ini. Akhirnya setelah berkembang saya pakai banyak yang pesan," kata Jardiyanto saat ditemui, Kamis (26/2/2026).

Eksistensi peci batik ini kemudian mendapatkan momentum besar berkat tantangan dari Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ustaz Muhammad Jazir ASP. Sang ustaz meminta Jardiyanto meriset peci khas untuk kemudian diproduksi dan dijadikan oleh-oleh ikonik dari wilayah Jogokariyan.
"Terus di-challenge sama Ustaz Jazir almarhum. Nah, 'Mas bisa nggak buatin peci yang khas Jogokariyan bisa untuk oleh-oleh?' kayak gitu. Akhirnya kita buatin, coba riset kita buatin. Nah jadilah seperti ini," ungkapnya.
Sejak saat itu, peci batik hasil karyanya bertransformasi menjadi identitas visual yang melekat erat pada jamaah Masjid Jogokariyan.
Nuansa Ramadan dan Inovasi Motif
Kini, setiap kali memasuki momentum Ramadan dan menjelang Lebaran, geliat produksi di bengkel kerja Jardiyanto meningkat drastis. Tak mau berhenti berinovasi, ia konsisten merilis desain terbaru sebelum puasa tiba agar para kolektor peci memiliki pilihan yang lebih segar.
"Di momentum Lebaran yang tahun ini kita ada launching delapan motif baru. Sebelum puasa kemarin ya kita launching. Itu untuk refresh motif ya," ungkapnya.
Strategi penyegaran motif ini terbukti ampuh mendongkrak penjualan. Salah satu desain terbaru yang mengusung gaya modern, yakni motif mozaik. Motif yang tampil elegan itu menjadi primadona yang paling diburu oleh masyarakat hingga mendominasi total pesanan selama musim libur panjang.
"Satu ini ada yang motif mozaik, itu kencang banget penjualannya. Jadi dari yang terjual itu bisa sampai 60 persen itu menyukai motif itu," tandasnya.
Kenaikan permintaan di bulan suci ini membawa angin segar bagi sisi finansial usaha. Jardiyanto menyebutkan bahwa pada hari biasa penjualan cenderung melambat, namun mulai merangkak naik saat momen Ramadan.
"Jadi untuk penjualan bisa empat kali lipat dibanding hari-hari biasa ya," imbuhnya.
Meski penjualan meningkat dibanding hari biasa, Jardiyanto tidak menampik adanya dampak dari lesunya ekonomi global yang memengaruhi daya beli masyarakat secara umum.