- Israel dan AS melancarkan serangan udara masif Sabtu dini hari, menghantam lebih dari 2.000 target strategis di Iran.
- Operasi besar ini melibatkan koordinasi berbulan-bulan, menargetkan infrastruktur militer vital dan tokoh senior, termasuk Ayatollah Khamenei.
- Dampak serangan adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan drone dan rudal ke Israel dan aset AS.
Kematian tokoh tertinggi di Iran ini menjadi pukulan telak bagi stabilitas politik dalam negeri Iran dan diprediksi akan mengubah peta kekuatan di kawasan Timur Tengah secara drastis.
Hingga saat ini, proses identifikasi dan konfirmasi mengenai korban jiwa dari pihak pejabat senior lainnya masih terus berkembang di tengah reruntuhan pusat komando yang hancur.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam menghadapi bombardir yang menghancurkan ribuan titik di wilayahnya.
Teheran merespons dengan melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, aset-aset Amerika Serikat, serta sejumlah negara di kawasan Teluk.
Aksi balasan ini memicu kepanikan di berbagai kota besar di kawasan tersebut, mengingat jangkauan rudal Iran yang mampu mencapai pangkalan-pangkalan militer asing dan fasilitas strategis milik sekutu Amerika Serikat.
Pertukaran serangan ini menandakan berakhirnya periode ketenangan relatif di kawasan dan menyeret negara-negara tetangga ke dalam pusaran konflik yang lebih luas.
Situasi mencekam ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ketegangan yang sudah lama terpendam.
Eskalasi ini menyusul serangan serupa Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Juni tahun lalu, yang memicu perang selama 12 hari sebelum gencatan senjata diumumkan.
Namun, operasi kali ini dinilai jauh lebih destruktif dibandingkan kejadian tahun lalu, mengingat jumlah target yang mencapai angka 2.000 lokasi dan keterlibatan langsung aset militer Amerika Serikat dalam jumlah yang lebih besar.
Baca Juga: Niat Prabowo Jadi Juru Damai Iran dengan AS-Israel Diragukan: Misi "Bunuh Diri Politik"
Dunia internasional kini memantau dengan ketat perkembangan di lapangan, terutama terkait pergerakan armada laut dan udara di sekitar Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Penggunaan lebih dari 700 sorti udara menunjukkan bahwa superioritas udara menjadi kunci utama dalam operasi gabungan AS-Israel ini untuk menembus sistem pertahanan udara Iran yang selama ini diklaim sangat canggih.
Ribuan amunisi yang dijatuhkan telah menyebabkan kerusakan infrastruktur yang sangat masif, yang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pemulihan, sementara ketegangan militer masih terus berlangsung di perbatasan dan ruang udara regional.