-
Amerika Serikat menghancurkan 16 kapal penebar ranjau Iran di sekitar wilayah Selat Hormuz.
-
Presiden Donald Trump mengancam konsekuensi militer luar biasa jika Iran nekat memasang ranjau.
-
Operasi Epic Fury akan terus berlanjut hingga semua ancaman di Teluk Persia hilang.
Suara.com - Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik didih di perairan Teluk, di Selat Hormuz.
Angkatan bersenjata Paman Sam secara resmi mengumumkan keberhasilan operasi tempur di wilayah strategis tersebut.
Sebanyak 16 kapal milik Iran yang diidentifikasi sebagai penebar ranjau di Selat Hormuz dilaporkan telah berhasil dilumpuhkan.
Insiden penghancuran armada laut tersebut berlangsung pada hari Selasa, tepatnya tanggal 10 Maret waktu setempat.
Lokasi penyerangan ini terfokus pada titik koordinat yang berdekatan dengan wilayah krusial Selat Hormuz.
Langkah ofensif ini bukan tanpa alasan karena sebelumnya sudah ada peringatan dari otoritas tertinggi.
Presiden Donald Trump secara spesifik menyoroti keberadaan alat peledak bawah air di jalur perdagangan itu.
Trump menegaskan bahwa segala bentuk ancaman ranjau di jalur tersebut harus segera dibersihkan total.
Perintah ini menjadi landasan bagi militer untuk mengambil tindakan preventif guna mengamankan arus logistik.
Baca Juga: Pemain Timnas Putri Iran di Australia Terbelah, Satu Ubah Keputusan dan Pulang ke Iran
Keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz menjadi prioritas utama bagi strategi pertahanan Amerika saat ini.
Komando Pusat Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai CENTCOM membenarkan adanya penghancuran armada tersebut.
Mereka memberikan pernyataan resmi terkait penghapusan ancaman kapal-kapal penyebar ranjau milik pihak Iran.
Bahkan pihak militer AS tidak ragu untuk mempublikasikan rekaman video saat serangan mematikan itu terjadi.
Visualisasi tersebut menunjukkan bagaimana kapal-kapal target meledak setelah dihantam oleh kekuatan tempur Amerika Serikat.
Dunia internasional kini bisa melihat secara langsung intensitas operasi militer yang sedang berlangsung di Teluk.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan rincian tambahan mengenai jumlah kapal yang sudah berhasil dihancurkan.
Secara spesifik sang Presiden menyebut ada sepuluh unit kapal yang kondisinya sudah tidak aktif lagi.
Keterangan ini disampaikan secara terbuka melalui platform komunikasi pribadinya yang langsung mendapatkan sorotan media global.
"Saya dengan senang hati melaporkan dalam beberapa jam terakhir, kami telah menyerang dan sepenuhnya menghancurkan sebanyak 10 kapal penebar ranjau yang tidak aktif, dan operasi lainnya akan menyusul," tulis Trump dalam unggahan di Truth Social, dikutip dari Reuters.
Trump nampaknya ingin memastikan bahwa dominasi militer AS di kawasan tersebut tetap terjaga sangat kuat.
Pihak Gedung Putih tampaknya tidak main-main dengan peringatan yang mereka layangkan kepada pemerintah di Teheran.
Donald Trump secara terbuka mengancam akan ada balasan militer yang jauh lebih besar kedepannya.
Hal ini berkaitan erat dengan potensi sabotase jalur laut menggunakan ranjau oleh militer pihak Iran.
"Jika Iran telah menempatkan ranjau di Selat Hormuz, dan kami tidak memiliki laporan bahwa mereka melakukannya, kami ingin ranjau itu segera disingkirkan!" kata Trump.
Presiden Amerika tersebut ingin memastikan tidak ada satu pun hambatan bagi kapal yang melintas di sana.
Ketegasan Trump semakin terlihat ketika ia membahas mengenai tingkat kekuatan tempur yang akan dikerahkan nantinya.
Amerika siap menggunakan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya jika peringatan tersebut diabaikan oleh musuh.
"Jika dengan alasan apa pun ranjau dipasang dan tidak segera dihapus, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," tambah dia.
Hingga saat ini kesiagaan pasukan Amerika di perairan Timur Tengah tetap berada pada level tertinggi.
Target operasi adalah memastikan wilayah laut benar-benar bersih dari ancaman bahan peledak yang membahayakan kapal.
Kehadiran militer AS di wilayah Teluk Persia ini memiliki target waktu dan sasaran yang jelas.
Operasi besar-besaran ini secara resmi disebut oleh pihak Amerika Serikat sebagai Operasi Epic Fury.
Segala bentuk serangan dan patroli akan terus dilakukan hingga tujuan utama dari misi ini tercapai.
Stabilitas di Selat Hormuz dianggap sebagai harga mati bagi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Amerika.
Dunia kini menanti respon selanjutnya dari pihak Iran atas penghancuran belasan kapal militer milik mereka.