-
IRGC menetapkan perusahaan Amerika Serikat sebagai target militer sah di wilayah Timur Tengah.
-
Sektor teknologi, energi, dan finansial diminta segera mengosongkan fasilitas industri demi keamanan sipil.
-
Eskalasi terjadi pasca tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS dan Israel.
Tidak hanya teknologi, sektor vital seperti energi yang dikelola ExxonMobil dan Trafigura juga sangat terancam.
Dunia perbankan dan konsultan global seperti Citigroup dan KKR pun tidak luput dari peringatan keras.
Nama besar seperti Boston Consulting Group dan Bain & Company juga tercatat sebagai entitas yang diincar.
Ancaman yang dilontarkan oleh pihak Iran ini ditegaskan bukan merupakan sebuah gertakan politik belaka.
Kenyataannya, kerusakan fisik akibat serangan nyata sudah mulai dirasakan oleh beberapa perusahaan raksasa Amerika tersebut.
Pada tanggal 2 Maret yang lalu, manajemen Amazon telah mengonfirmasi adanya kerusakan pada infrastruktur mereka.
Dua pusat data di Uni Emirat Arab dan satu fasilitas di Bahrain hancur akibat drone.
Serangan pesawat tanpa awak tersebut membuktikan bahwa kapabilitas militer Iran mampu menjangkau target-target strategis.
Situasi ini memicu kepanikan luar biasa bagi para pelaku usaha internasional yang beroperasi di wilayah tersebut.
Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa ini hanyalah awal dari gelombang serangan yang jauh lebih masif.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah serangan gabungan terjadi pada 28 Februari lalu.
Aksi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran memicu kemarahan besar.
Tragedi tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa sedikitnya 1.300 orang dalam waktu yang sangat singkat sekali.
Kehilangan yang paling memukul pihak Teheran adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran yaitu Ayatollah Ali Khamenei.
Kematian pemimpin tertinggi ini menjadi katalisator utama bagi IRGC untuk melakukan aksi balasan yang mematikan.
Sebagai bentuk pembalasan, militer Iran segera meluncurkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel dan Yordania.
Operasi militer ini kemudian meluas dengan menargetkan negara-negara di kawasan Teluk dan juga wilayah Irak.
Negara-negara yang dianggap menampung aset militer milik Amerika Serikat kini berada dalam posisi yang berbahaya.
Aksi saling balas ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan bangunan fisik dan juga hilangnya nyawa manusia.
Dampaknya terasa hingga ke pasar global yang kini mengalami kelumpuhan akibat ketidakpastian situasi keamanan tersebut.
Sektor penerbangan internasional juga terkena imbas langsung dengan penutupan banyak rute udara secara masif sekali.
Banyak maskapai terpaksa membatalkan jadwal penerbangan demi menghindari zona konflik yang dipenuhi rudal dan drone.
Dunia kini menantikan langkah diplomasi untuk mencegah kehancuran ekonomi yang jauh lebih dalam di masa depan.
Namun, hingga saat ini, retorika perang dari kedua belah pihak masih terus terdengar sangat kencang.
Stabilitas di Timur Tengah tampaknya masih jauh dari kata damai selama aset Amerika tetap ada.