- Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, bertemu aktivis lintas generasi pada Senin (9/3) di Jakarta Selatan untuk menyerap aspirasi.
- Diskusi menyoroti pentingnya kehati-hatian posisi Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza dan dampak konflik Selat Hormuz.
- Masukan domestik mencakup kajian ulang program Makan Bergizi Gratis dan penguatan peran Koperasi Desa Merah Putih.
Suara.com - Sejumlah aktivis sosial lintas generasi, termasuk eksponen Reformasi 1998, menggelar buka puasa bersama Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad.
Namun, acara yang digelar hari Senin (9/3) itu bukan sekadar bukber, tapi juga ajang Dasco menyerap aspirasi dari para aktivis senior.
Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat stabilitas nasional melalui dialog yang konstruktif dengan elemen masyarakat sipil.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut digelar di kediaman aktivis senior '98 yang kini menjadi Bupati Lahat Sumsel, Bursah Zarnubi, di kawasan Jakarta Selatan.
Para aktivis senior yang hadir dalam acara itu ialah Hariman Siregar (aktivis mahasiswa era 70an), Dr Effendi Choiri atau Gus Coy, dan Yandri Susanto yang kini menjadi Menteri Desa.
Lalu ada Agus Jabo Priyono eks aktivis PRD yang sekarang menjadi Wakil Menteri Sosial, Iwan Sumule (wakil ketua BP Taskin), dan pakar militer Dr Connie Rahakundini Bakrie.
Kemudian akademisi hukum tata negara Dr Ferry Amsari, budayawan Hamid Basyaib, dan politisi yang kini jadi youtuber Akbar Faisal.
Dalam kesempatan itu, Sufmi Dasco Ahmad hadir untuk mendengarkan langsung berbagai kegelisahan, masukan, dan kritik dari para akademisi serta tokoh bangsa terkait arah kebijakan negara di tengah kondisi global yang tidak menentu.
Pengamat Pertahanan dan Militer, Connie Rahakundini Bakrie, yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mengungkapkan bahwa diskusi berlangsung cukup intens dan mendalam.
Kehadiran Dasco di sana bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk keseriusan pemerintah dalam menyerap aspirasi dari berbagai lini.
"Kami semua diundang Bang Hariman (Siregar; aktivis era 70'an) dan Bang Bursah. Kami sambil berdiskusi, karena dia (Dasco) mau mendengar apa yang kami gelisahkan," kata Connie dikutip hari Rabu (18/3/2026).
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP).
Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, posisi diplomatik Indonesia dianggap sangat krusial agar tetap selaras dengan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Connie menjelaskan, sejumlah tokoh masyarakat memberikan masukan strategis agar pemerintah berhati-hati dalam menavigasi posisi Indonesia di BoP.
Hal ini berkaitan erat dengan implikasi perjanjian tarif internasional, serta dinamika global yang dapat menggoyang stabilitas ekonomi maupun geopolitik dalam negeri.