- Korlantas Polri menutup sementara Tol MBZ pada Kamis (19/3/2025) karena volume kendaraan dari Jakarta menuju timur meningkat tajam.
- Penutupan selama 1,5 jam bertujuan mengurai kepadatan di tol layang, yang kemudian dibuka kembali setelah arus mulai terurai.
- Volume kendaraan mencapai 270 ribu unit hingga Kamis pagi, naik signifikan dari 221 ribu unit pada Selasa (17/3).
Suara.com - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mengambil langkah diskresi dengan menutup sementara ruas tol layang Mohamed Bin Zayed (MBZ) pada Kamis (19/3/2025) siang.
Keputusan ini diambil menyusul terjadinya peningkatan volume kendaraan yang signifikan dari arah Jakarta menuju arah timur, yang memicu kepadatan arus lalu lintas di jalur tersebut.
Penutupan tol MBZ dilakukan untuk mengurai penumpukan kendaraan yang terjadi di atas tol layang yang membentang dari Jakarta hingga Cikampek tersebut.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Irjen Pol. Agus Suryonugroho memberikan penjelasan langsung mengenai situasi di lapangan saat memantau kondisi dari Posko Command Center KM 29 Tol Cikampek, Jawa Barat.
Kondisi arus lalu lintas pada periode ini dinilai memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan periode sebelumnya, terutama terkait dengan volume kendaraan yang terus mengalir masuk ke jalur tol utama meskipun skema rekayasa telah dijalankan.
“Tahun ini agak sedikit berbeda karena kami tadi harus menutup MBZ untuk sementara. Karena sudah kami lakukan one way nasional, tetapi puncak arusnya masih tinggi,” kata Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Irjen Pol. Agus Suryonugroho di Posko Command Center KM 29 Tol Cikampek, Jawa Barat, sebagaimana dilansir Antara, Kamis.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak kepolisian di Command Center KM 29, total volume kendaraan yang melintas hingga Kamis pagi telah menyentuh angka 270 ribu unit.
Angka ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang sangat tajam dalam waktu singkat di sepanjang jalur utama yang menghubungkan Jakarta dengan wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Peningkatan ini terpantau secara real-time melalui sistem monitoring lalu lintas yang terintegrasi di sepanjang jalur tol.
Data statistik menunjukkan bahwa jumlah 270 ribu kendaraan tersebut mengalami kenaikan yang cukup drastis jika dibandingkan dengan data pada hari Selasa (17/3).
Pada Selasa tersebut, volume kendaraan tercatat berada di angka 221 ribu unit.
Selisih kenaikan yang mencapai puluhan ribu kendaraan dalam kurun waktu dua hari ini menjadi dasar pertimbangan utama bagi Korlantas Polri untuk memberlakukan rekayasa lalu lintas tambahan guna mencegah terjadinya kemacetan total di atas tol layang.
Implementasi rekayasa lalu lintas yang dilakukan petugas di lapangan mencakup penutupan akses masuk menuju tol MBZ secara bertahap.
Selama masa penutupan tersebut, para pemudik dan pengguna jalan diarahkan untuk menggunakan jalur tol Jakarta-Cikampek eksisting yang berada di bagian bawah.
Pengalihan arus ini bertujuan untuk membagi beban kendaraan agar tidak terkonsentrasi hanya pada satu jalur layang yang memiliki keterbatasan bahu jalan untuk penanganan darurat.
Setelah dilakukan penutupan dan pengaturan arus selama kurang lebih 1,5 jam, pihak kepolisian mengevaluasi bahwa kepadatan di atas tol MBZ mulai terurai.
Penurunan kepadatan ini memungkinkan petugas untuk membuka kembali akses bagi kendaraan yang ingin melintas di jalur layang tersebut.
Kondisi di jalur bawah tol Jakarta-Cikampek juga dilaporkan tetap bergerak meskipun terjadi pengalihan arus dari jalur atas.
“MBZ tadi kita tutup hampir 1,5 jam. Karena langkah-langkah daripada contraflow sudah selesai, tentunya kita buka lagi dan alhamdulillah sekarang lancar,” ucapnya.
Situasi lonjakan kendaraan ini sebenarnya sudah mulai terbaca sejak beberapa hari sebelumnya.
PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC) selaku pengelola jalan tol layang MBZ mencatat pergerakan kendaraan yang sangat masif meninggalkan wilayah Jakarta.
Pada Selasa (17/3), data internal perusahaan menunjukkan sebanyak 63.275 kendaraan terpantau melintasi Tol MBZ menuju arah Cikampek.
Lonjakan yang terjadi pada Selasa tersebut menjadi indikator awal bagi petugas untuk bersiap menghadapi puncak arus.
Berdasarkan data lalu lintas yang dirilis, volume kendaraan yang meninggalkan Jakarta melalui Tol MBZ pada hari itu mengalami peningkatan hingga 200,54 persen jika dibandingkan dengan kondisi lalu lintas normal harian yang biasanya hanya mencapai 21.054 kendaraan.
Persentase kenaikan yang mencapai dua kali lipat lebih dari kondisi normal ini menjadi catatan penting dalam pengelolaan arus lalu lintas di salah satu ruas tol tersibuk di Indonesia tersebut.