- Polres Garut sedang menyelidiki penemuan kerangka manusia tanpa identitas di Hutan Batumeungpeuk pada Kamis, 19 Maret 2026.
- Warga menemukan kerangka dalam kondisi tanpa pakaian dan tanpa benda pribadi saat sedang berburu di lokasi sulit.
- Kerangka dibawa ke RSUD dr Slamet Garut untuk pemeriksaan forensik guna menentukan identitas dan penyebab kematian korban.
Suara.com - Kepolisian Resor (Polres) Garut saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait penemuan kerangka manusia yang menggegerkan warga di kawasan Hutan Batumeungpeuk, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Penemuan ini bermula ketika sejumlah warga yang sedang melakukan aktivitas berburu di dalam hutan secara tidak sengaja menemukan sisa-sisa tulang belulang manusia yang tergeletak di area terbuka.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih berupaya keras untuk mengidentifikasi sosok di balik kerangka tersebut serta mencari tahu apa yang menjadi penyebab utama kematiannya.
Kondisi kerangka yang ditemukan tanpa identitas dan petunjuk pendukung lainnya membuat proses penyelidikan memerlukan ketelitian ekstra dari tim ahli forensik.
Kepala Polsek Banjarwangi, Ipda Ipar Suparlan, memberikan konfirmasi mengenai langkah-langkah yang sedang diambil oleh jajarannya.
"Kami masih melakukan penyelidikan guna mengungkap identitas korban serta penyebab pasti kematian," kata Ipda Ipar Suparlan di Garut, Jumat (20/3/2026).
Kronologi penemuan ini dilaporkan terjadi pada Kamis (19/3). Saat itu, masyarakat yang tengah berburu di kawasan hutan Blok Batumeungpeuk, Kampung Sodong, Desa Tanjungjaya, dikagetkan dengan pemandangan tulang belulang manusia.
Para saksi mata yang menemukan lokasi tersebut mengaku sangat terkejut dan tidak berani mengambil tindakan gegabah di tempat kejadian perkara (TKP).
Berdasarkan keterangan saksi, kerangka manusia tersebut ditemukan dalam posisi terlentang di atas tanah.
Karena rasa takut dan ngeri, warga yang berada di lokasi tidak berani mendekat apalagi menyentuh sisa-sisa tubuh tersebut.
Mereka memilih untuk mendokumentasikan temuan itu dari kejauhan sebelum melaporkannya kepada pihak berwajib.
"Mereka hanya merekam video dari jarak sekitar tiga meter, kemudian segera melaporkan kejadian itu ke petugas di Pos Pengamanan Lebaran setempat," katanya sebagaimana dilansir Antara.
Laporan tersebut segera direspons oleh Polsek Banjarwangi yang langsung berkoordinasi dengan Tim Inafis Polres Garut untuk melakukan olah TKP secara profesional.
Proses evakuasi dan olah TKP tidak berjalan dengan mudah. Lokasi penemuan kerangka di Hutan Batumeungpeuk dikenal memiliki medan yang cukup berat.
Petugas harus menempuh perjalanan yang jauh dengan akses jalan yang sulit, didominasi oleh bebatuan dan tanah perbukitan yang curam.
Tantangan geografis ini membuat tim memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai titik koordinat penemuan.
Setibanya di lokasi, Tim Inafis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap area sekitar.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kerangka manusia tersebut ditemukan dalam kondisi tanpa pakaian sama sekali.
Tidak ditemukan pula benda-benda pribadi seperti dompet, perhiasan, atau dokumen yang bisa menjadi petunjuk awal identitas korban.
Kondisi kerangka juga sudah tidak utuh secara sempurna. Beberapa bagian tulang ditemukan berserakan di sekitar lokasi utama, yang diduga kuat akibat aktivitas binatang liar di dalam hutan.
Meskipun demikian, tim medis dari Puskesmas Banjarwangi yang ikut ke lokasi telah melakukan pemeriksaan luar terhadap sisa-sisa tulang tersebut.
"Pemeriksaan medis luar oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Banjarwangi juga tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan yang mencolok," katanya.
Hal ini menambah teka-teki mengenai penyebab kematian korban, apakah karena faktor alami, tersesat, atau ada faktor lain yang belum terungkap.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan ilmiah, pihak kepolisian memutuskan untuk membawa seluruh kerangka manusia tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Slamet Garut.
Di sana, tim dokter forensik akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna menentukan usia, jenis kelamin, hingga perkiraan waktu kematian korban melalui metode saintifik.
Di sisi lain, kepolisian juga membuka ruang bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dalam kurun waktu tertentu. Kerja sama dari masyarakat dianggap sangat krusial untuk mempercepat proses identifikasi ini.
"Mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk segera melapor guna membantu proses identifikasi," katanya.