- Perayaan Lebaran 2026 di Timur Tengah seperti Beirut, Gaza, dan Iran diliputi kesuraman akibat konflik dan krisis ekonomi berat.
- Krisis multidimensi memaksa pengungsi Suriah, Alaa, di Beirut kehilangan tempat tinggal dan tidak merencanakan perayaan Idul Fitri.
- Kondisi ekonomi buruk di Gaza menyebabkan melonjaknya harga kebutuhan pokok, membatasi kemampuan masyarakat untuk merayakan hari raya.
Suara.com - Perayaan Lebaran 2026 terasa suram di berbagai wilayah Timur Tengah yang dilanda konflik dan krisis ekonomi.
Di Beirut, Gaza City, hingga Iran, warga kesulitan merasakan kebahagiaan hari raya Idul Fitri di tengah perang dan pengungsian massal.
Seorang pengungsi Suriah bernama Alaa mengaku tak memiliki rencana apa pun untuk merayakan Lebaran.
“Saya hanya mencari tempat untuk tidur. Saya bahkan tidak memikirkan Idul Fitri,” ujarnya dilansir dari Aljazeera.
Alaa sebelumnya tinggal di pinggiran selatan Beirut yang hancur akibat serangan Israel.
Kini, ia terpaksa tidur di ruang terbuka setelah gagal mendapatkan tempat di penampungan.
![Tradisi kue Lebaran di Gaza [Facebook IN Palestine Today]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/19/26739-tradisi-kue-lebaran-di-gaza.jpg)
Situasi serupa terjadi di seluruh Lebanon, di mana lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi.
Ketidakpastian kapan perang berakhir membuat masyarakat sulit merayakan hari besar keagamaan.
Di Iran, kondisi tak kalah berat akibat serangan berkelanjutan AS dan Israel serta krisis ekonomi yang sudah lebih dulu terjadi.
Warga kesulitan membeli kebutuhan Lebaran, bahkan aktivitas belanja di pasar tradisional menjadi berisiko.
Sementara itu di Gaza, tekanan ekonomi semakin parah akibat pembatasan barang yang masuk wilayah tersebut.
Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, membuat banyak keluarga tidak mampu merayakan Idul Fitri seperti biasa.
“Secara kasat mata suasana Lebaran terlihat ramai, tapi secara finansial sangat buruk,” kata Khaled Deeb, warga Gaza berusia 62 tahun.
“Hanya raja yang bisa membeli buah dan sayur, bukan orang miskin seperti kami.”
Ia mengenang masa sebelum perang saat masih mampu memberi hadiah besar kepada keluarganya.
“Dulu saya bisa memberi lebih dari 3.000 shekel, membeli pakaian baru dan makanan. Sekarang, itu semua tidak mungkin,” ujarnya.
Seorang ibu tiga anak, Shireen Shreim, juga merasakan hal serupa.
“Kebahagiaan Lebaran kami tidak lengkap,” katanya. “Kami keluar dari dua tahun perang hanya untuk menghadapi kehidupan tanpa kebutuhan dasar.”
Meski demikian, sebagian warga tetap berusaha menjaga semangat kebersamaan.
Peneliti politik Karim Safieddine menilai solidaritas menjadi kunci bertahan hidup di tengah konflik.
“Tanpa solidaritas, kita tidak bisa membangun kembali masyarakat,” ujarnya.
“Ini adalah awal untuk tetap memiliki harapan, bahkan ketika hidup di bawah bayang-bayang bom.”
Kontributor: M.Faqih