-
Personel militer Amerika Serikat mulai memprotes kebijakan perang karena enggan mati demi Israel.
-
Mental prajurit jatuh akibat ketidakjelasan tujuan politik dalam agresi militer melawan kekuatan Iran.
-
Pentagon tengah menyiapkan rencana pengerahan pasukan darat meskipun moral anggota militer sedang terpuruk.
Suara.com - Gejolak internal kini mulai melanda jajaran angkatan bersenjata tentara Amerika Serikat di tengah meningkatnya tensi pertempuran melawan Iran.
Sejumlah personel militer dilaporkan merasa sangat kecewa dengan arah kampanye serangan udara yang melibatkan kekuatan Pentagon di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan terbaru dari media HuffPost, banyak prajurit mulai menyuarakan ketidakpuasan mereka secara terbuka melalui berbagai kanal informasi.
Keresahan ini muncul seiring dengan meningkatnya intensitas kontak senjata yang melibatkan aliansi strategis antara Amerika Serikat dan pihak Israel.
Fenomena ini mencerminkan adanya keretakan moral yang serius di dalam struktur organisasi militer yang sedang bertugas di lapangan.
Banyak anggota militer aktif maupun pasukan cadangan mengeluhkan kondisi keamanan mereka yang semakin rentan di zona konflik yang panas.
Mereka dilaporkan mengalami tingkat stres yang luar biasa tinggi akibat tekanan psikologis yang datang secara bertubi-tubi setiap hari.
Rasa frustrasi yang mendalam membuat beberapa di antara mereka mulai berpikir serius untuk mengakhiri masa pengabdian di dunia militer.
Kondisi mental para prajurit ini menjadi sorotan utama bagi organisasi hak asasi manusia yang mendampingi personel keamanan negara tersebut.
Narasi yang berkembang di barak militer menunjukkan adanya penolakan terselubung terhadap kebijakan luar negeri pemerintah yang dianggap merugikan.
"Saya mendengar dari mulut para anggota militer kata-kata, 'Kami tidak ingin mati untuk Israel — kami tidak ingin menjadi pion-pion politik,'" kata seorang pasukan cadangan dan mentor prajurit muda seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Informasi mengenai merosotnya mentalitas tempur ini juga dikonfirmasi oleh anggota pasukan cadangan lain yang terus memantau situasi rekan mereka.
Kecenderungan untuk mempertanyakan tujuan perang semakin kuat di kalangan prajurit yang berada di garis depan maupun pendukung.
Publikasi tersebut memberikan penekanan bahwa ketidakpuasan massal ini dapat mengancam keberhasilan seluruh operasi Washington di kawasan Timur Tengah.
Moral yang rendah dianggap sebagai faktor krusial yang dapat menggagalkan strategi militer jangka panjang yang telah disusun pemerintah.