-
Personel militer Amerika Serikat mulai memprotes kebijakan perang karena enggan mati demi Israel.
-
Mental prajurit jatuh akibat ketidakjelasan tujuan politik dalam agresi militer melawan kekuatan Iran.
-
Pentagon tengah menyiapkan rencana pengerahan pasukan darat meskipun moral anggota militer sedang terpuruk.
Banyak pihak menilai bahwa kegagalan menjaga mental prajurit akan berdampak sistemik pada efektivitas serangan terhadap target-target strategis di Iran.
Ketidakjelasan narasi dari pemerintah pusat menjadi pemicu utama mengapa banyak tentara merasa kehilangan pegangan dalam menjalankan tugas negara.
Faktor utama yang menurunkan semangat tempur adalah ketiadaan pembenaran yang konsisten mengenai agresi militer yang dilakukan bersama pihak Israel.
Para prajurit merasa tidak mendapatkan alasan logis mengapa mereka harus terlibat jauh dalam konfrontasi langsung melawan kekuatan militer Iran.
Di sisi lain, laporan dari CBS News mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai persiapan skala besar yang sedang digarap oleh pihak Pentagon.
Pentagon dikabarkan telah merancang skema yang sangat mendalam mengenai potensi pengiriman pasukan angkatan darat secara langsung ke wilayah Iran.
Langkah berisiko tinggi ini diambil guna menyediakan berbagai pilihan tindakan bagi pemerintahan Trump di tengah situasi yang makin keruh.
Berbagai skenario militer kini telah tersedia di meja pengambil kebijakan sebagai respons atas dinamika keamanan di wilayah Teluk.
Konflik ini sendiri diketahui telah pecah sejak akhir Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terkoordinasi.
Iran tidak tinggal diam dan segera meluncurkan berbagai serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta pangkalan militer milik Amerika.
Fasilitas militer Amerika Serikat di seantero Timur Tengah kini berada dalam posisi siaga tertinggi akibat ancaman roket dan drone.
Kondisi saling serang ini menciptakan lingkaran kekerasan yang membuat personel militer di lapangan merasa nyawa mereka sedang dipertaruhkan.
Ketegangan yang tidak kunjung mereda ini semakin memperburuk kesehatan mental para prajurit yang harus bersiaga selama dua puluh empat jam.
Tanpa adanya kepastian politik, gelombang pengunduran diri dari kedinasan militer diprediksi akan menjadi kenyataan pahit bagi pihak Departemen Pertahanan.
Para pengamat militer memperingatkan bahwa tanpa dukungan moral dari prajurit sendiri, setiap rencana invasi darat akan menghadapi kendala yang sangat besar.