- Pemerintah China mendesak semua pihak di Timur Tengah menghentikan operasi militer untuk menghindari kekacauan regional dan dampak global.
- Direktur Eksekutif IEA menyatakan krisis energi global saat ini lebih parah dari krisis 1970-an akibat gangguan pasokan energi.
- Solusi krusial terhadap krisis energi adalah pembukaan kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz yang terganggu oleh konflik.
Suara.com - Pemerintah China mengeluarkan peringatan keras terkait eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya yang berdampak pada Selat Hormuz.
Beijing mendesak semua pihak segera menghentikan operasi militer dan kembali ke meja perundingan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa penggunaan kekuatan hanya akan memperburuk situasi.
“Jika permusuhan terus meningkat dan situasi memburuk, seluruh kawasan akan jatuh ke dalam kekacauan,” ujarnya dilansir dari Reuters.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas tekanan Presiden Donald Trump terhadap Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur vital distribusi energi global.
China menilai konflik yang terus berlanjut berpotensi menciptakan lingkaran kekerasan tanpa akhir.
“Penggunaan kekuatan hanya akan mengarah pada siklus ganas,” kata Lin Jian, seraya menambahkan bahwa perang ini seharusnya tidak pernah terjadi.
Beijing juga menekankan pentingnya stabilitas kawasan demi menjaga keamanan global.
Seruan ini menjadi bagian dari upaya diplomatik China untuk meredam ketegangan yang semakin meningkat.
Dengan situasi yang kian memanas, China memperingatkan bahwa kegagalan menghentikan konflik dapat membawa dampak luas, tidak hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi ekonomi dan keamanan dunia.
Sementara itu, Dunia kini menghadapi krisis energi yang disebut jauh lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak besar pada 1970-an dan dampak perang Ukraina.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, memperingatkan kondisi ini sebagai ancaman serius bagi ekonomi global.
Berbicara di acara media di Canberra, Australia, Birol menegaskan bahwa krisis energi saat ini merupakan gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas sekaligus.
“Krisis ini sekarang adalah dua krisis minyak dan satu kehancuran gas yang terjadi bersamaan,” ujarnya dilansir dari Aljazeera.