- Militer Israel dilanda krisis personel yang sangat parah akibat beban peperangan multi-front di Iran, Lebanon, Jalur Gaza, hingga kawasan Tepi Barat.
- Kepala Staf Eyal Zamir memperingatkan bahwa militer bisa runtuh dari dalam karena tingginya jumlah misi sama sekali tidak sebanding dengan prajurit tersisa.
- Keputusan pencabutan perpanjangan wajib militer dianggap memperparah krisis di tengah eskalasi konflik mematikan yang telah menelan ribuan korban jiwa.
Keputusan pemerintah untuk mencabut kebijakan perpanjangan masa wajib militer dianggap sebagai salah satu pemicu utama krisis kekurangan prajurit ini.
Rangkaian konflik multi-front ini sendiri mulai meledak secara brutal sejak tanggal 28 Februari lalu di tengah upaya negosiasi damai yang masih berlangsung.
Operasi militer gabungan bersama Washington tersebut secara tragis merenggut nyawa mantan pemimpin spiritual Iran beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Tindakan agresif tersebut langsung dibalas oleh Teheran dengan menembakkan rentetan rudal ke berbagai negara regional yang menjadi tuan rumah pangkalan Amerika Serikat.
Sementara itu, eskalasi di depan utara semakin tidak terkendali sejak pihak Tel Aviv mengumumkan masuknya proyektil mematikan dari arah Lebanon pada awal Maret lalu.
Militer Zionis meresponsnya dengan gempuran udara brutal yang menyasar ibu kota Beirut serta mengerahkan kekuatan invasi darat dan laut secara masif.
Dampak kesejahteraan dari luasnya perang ini sangat mengerikan karena pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 1.162.000 warganya kini terpaksa mengungsi dari rumah mereka.