- Konflik Timur Tengah mengancam rantai pasok minyak dunia, berpotensi memicu kenaikan harga dan kelangkaan BBM di Indonesia.
- Pengemudi ojol seperti Jaka Yanto mengkhawatirkan beban operasional harian mereka terbebani oleh kenaikan biaya BBM.
- Ojol menuntut penyesuaian tarif aplikasi jika BBM naik, bahkan mengancam mogok kerja jika kenaikan tidak diimbangi.
Suara.com - Konflik bersenjata yang terus memanas di Timur Tengah tidak hanya mengguncang ekonomi global, tetapi juga mulai menghantui masyarakat kelas pekerja di Indonesia.
Ancaman terganggunya rantai pasok minyak dunia yang berpotensi memicu lonjakan harga hingga kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi mimpi buruk, khususnya bagi para pengemudi ojek online (ojol).
Bagi mereka yang menggantungkan hidup di jalanan, BBM adalah nyawa operasional sehari-hari.
Kekhawatiran ini diungkapkan oleh salah seorang pengemudi Ojol, Jaka Yanto. Ia mengaku terus memantau pemberitaan mengenai dampak perang tersebut terhadap Indonesia.
"Kalau saya sih khawatir, ya. Dari berita-berita juga katanya BBM bakal susah atau harganya naik. Buat saya yang kerja di jalan tiap hari, ini pasti ngaruh banget," ungkap Jaka saat ditemui, Jumat (27/3/2026).
Jaka membeberkan, dalam sehari ia harus merogoh kocek sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu hanya untuk membeli bensin.
Angka tersebut tak menentu, tergantung pada seberapa ramai pesanan yang masuk dan jarak tempuh operasionalnya.
Ia memprediksi, jika wacana kenaikan atau kelangkaan BBM benar-benar terjadi, beban kerjanya akan semakin berat.
Pendapatan yang didapat dari memeras keringat seharian bisa-bisa hanya habis untuk menutupi biaya bahan bakar.
"Pengaruhnya besar banget. Penghasilan kami itu kan tergantung jumlah order, tapi bensin keluar terus. Jujur saja, untuk tarif sekarang kadang masih pas-pasan. Kalau lagi ramai orderan ya lumayan, tapi kalau sepi, tarif sekarang belum tentu nutup semua biaya, apalagi kalau ditambah bensin mahal," ungkapnya.
Tuntutan Penyesuaian Tarif ke Aplikator
Menghadapi ancaman krisis energi ini, Jaka tidak tinggal diam. Jika pemerintah pada akhirnya terpaksa menaikkan harga BBM imbas harga minyak mentah dunia yang melonjak, Jaka mendesak pihak perusahaan aplikasi untuk segera merespons dengan kebijakan yang berpihak pada mitra pengemudi.

"Kalau BBM naik, saya berharap ada penyesuaian tarif dari Gojek-nya, supaya tarif bisa disesuaikan lagi," ujarnya.
Selain itu, Jaka juga menyatakan bahwa bekerja sebagai ojol memiliki ambang batas keekonomian.
Jika kenaikan harga BBM dirasa sudah di luar nalar dan tidak diimbangi dengan kenaikan tarif yang sepadan, ia tak segan untuk memarkirkan kendaraannya.
"Selama masih memungkinkan, saya tetap narik. Tapi kalau naiknya drastis banget sampai tidak masuk akal, ya saya bakal mikir-mikir juga mau narik," kata dia.