- Seorang warga Singapura, Nicholas Wu, menyatakan keheranannya karena harga BBM Indonesia tetap stabil meskipun terjadi gejolak global.
- Pemerintah Indonesia mempertahankan harga bensin bersubsidi selama tiga minggu terakhir untuk melindungi daya beli masyarakat.
- Nicholas memprediksi pemerintah Indonesia kemungkinan harus menyesuaikan harga BBM jika konflik Timur Tengah belum mereda.
Suara.com - Salah seorang warga negara Singapura yang tinggal di Indonesia, Nicholas Wu, mengungkapkan keheranannya soal harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia yang tetap terkendali di tengah gejolak global.
Sementara harga BBM di Singapura sudah melonjak dalam tiga pekan terakhir. Begitu juga di negara-negara lain.
"Kenaikan harga bahan bakar baru-baru ini memengaruhi semua orang kecuali warga Indonesia. Tahukah Anda, selama tiga minggu terakhir, pemerintah Indonesia tidak pernah menaikkan harga bensin bersubsidi mereka," kata Nicholas, melalui akun Instagramnya @paknicaman, dikutip pada Kamis (26/3).
Ia menambahkan, harga BBM di Indonesia diatur oleh pemerintah. Ada anggaran subsidi BBM untuk menjaga daya beli masyarakat Indonesia. Berbeda dengan Singapura, harga BBM diserahkan pada mekanisme pasar.
"Saya sangat mengagumi pemerintah Indonesia karena mereka benar-benar berusaha untuk melindungi warganya," ujar Nicholas.
Meski demikian, bila konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran tak segera berakhir, ia yakin pemerintah Indonesia pun mau tak mau harus melakukan penyesuaian.
Ia berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat menghadapi tantangan tersebut.
"Beberapa hari atau minggu mendatang, saya yakin akan ada pengumuman dari pemerintah karena tidak mungkin mereka bisa mensubsidinya. Jadi, ketika hari itu tiba, saya harap rakyat Indonesia akan siap," tutupnya.