Suara.com - Sepak bola menjadi salah satu olahraga favorit dan terkenal di dunia. Total penggemar cabang olahraga ini ada sebanyak 3,5 hingga 5 miliar orang. Sebuah survei dari country cassette (2025), menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga negara dengan penggemar sepak bola terbanyak dengan total 165,48 juta orang.
Namun, dibalik sisi gemerlap dari permainan sepak bola, terdapat fakta kelam bahwa olahraga ini dapat menimbulkan jejak karbon yang cukup besar.
Alasan Mengapa Sepak Bola Bisa Menyebabkan Emisi Karbon
Dilansir dari Earth.org (31/3/2026), sepak bola diperkirakan menghasilkan lebih dari 30 juta ton setiap tahunnya. Jumlah ini setara dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh satu negara Denmark. Besarnya emisi ini tidak terlepas dari berbagai aktivitas yang mendukung berlangsungnya pertandingan sepak bola.
Salah satu penyumbang utama adalah pembangunan stadion menggunakan bahan konstruksi, seperti baja dan beton yang dikenal sebagai penyumbang emisi karbon di sektor konstruksi.

Tidak hanya itu, transportasi yang digunakan para penonton dan pemain sepak bola juga menyumbang energi yang cukup besar. Journal of Cleaner Production melakukan penelitian terhadap pertandingan sepak bola di Austria.
Dimana sebanyak 42,4 persen penggemar datang dengan menggunakan mobil dan menyumbang sekitar 71,6 persen emisi gas rumah kaca. Jika dikaitkan dengan kondisi di Indonesia, di mana masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi, tentunya potensi emisi karbon yang dihasilkan menjadi lebih besar. Para pemain sepak bola yang menggunakan pesawat sebagai transportasi untuk bertanding di negara lain juga ikut menambah emisi karbon.
Selain itu, industri pendukung, seperti penjualan produk merchandaise juga ikut menyumbang emisi karbon melalui proses pembuatan dan distribusinya. Tak hanya itu, sampah plastik yang dihasilkan dari makanan dan minuman selama pertandingan juga memperburuk jejak karbon yang dihasilkan.
Penyelenggaraan event besar, seperti Piala Dunia, semakin memperparah dampak tersebut. Mulai dari pembangunan infrastruktur hingga mobilitas antar negara dapat menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar.
Sebagai contoh, Piala dunia Qatar 2022 yang menghasilkan jumlah karbon sebanyak 3,36 juta ton selama penyelenggaraannya. Emisi tersebut terdiri dari 1,89 juta tCO2e dari transportasi, 728.404 tCO2e dari akomodasi, 162.556 tCO2e dari konstruksi sementara, dan 654.658 tCO2e dari konstruksi permanen.
Solusi yang Sudah Dilakukan
Untuk mengatasi permasalahan ini, terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan. Pada tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah meluncurkan program Sports for Climate Action Framework yang bertujuan untuk mengurangi emisi dan mencapai nol emisi di tahun 2040.
Selanjutnya, pada tanggal 6 Maret 2024, Union of European Football Associations (UEFA), memperkenalkan alat bernama Kalkulator Jejak Karbon untuk mengelola emisi karbon yang dihasilkan setiap klub sepak bola.
Di Indonesia sendiri, beberapa langkah juga mulai dilakukan, seperti penerapan konsep green stadium yang dapat menekan emisi karbon hingga 38 persen.
Sebagai penutup, penggemar, klub sepak bola, dan pemerintah perlu berperan aktif dalam praktik yang lebih berkelanjutan. Hal ini penting dilakukan untuk menekan emisi karbon yang dihasilkan.