- Program Kampung Nelayan Merah Putih di Biak, Papua, berhasil meningkatkan produktivitas tangkapan ikan nelayan hingga dua kali lipat.
- Peningkatan efisiensi melalui fasilitas modern berhasil menaikkan pendapatan bulanan nelayan di Samber Binyeri sebesar 75 persen secara signifikan.
- Pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih di seluruh Indonesia pada 2026 guna menyerap 27.000 tenaga kerja.
Suara.com - Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto berdampak signifikan pada produktivitas nelayan.
Kepala Staf Kantor Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyampaikan bahwa keberadaan KNMP mampu meningkatkan produktivitas nelayan hingga dua kali lipat, dari 5,35 ton menjadi 10,85 ton tangkapan ikan.
Hal ini terlihat di lokasi percontohan (modeling) KNMP Samber Binyeri, Biak, Papua.
Program tersebut juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah hari melaut, dari 9 hari menjadi 13 hari atau naik 44 persen.
“Ini menunjukkan bahwa dengan dukungan sarana dan sistem yang tepat, kemampuan produksi nelayan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat dan hari kerja untuk melaut lebih sering dan lebih produktif,” kata Qodari dalam konferensi pers yang diselenggarakan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) di Kantor KSP, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Alhasil, kata Qodari, peningkatan produktivitas ini berdampak langsung pada pendapatan nelayan. Pendapatan nelayan di Samber Binyeri naik dari Rp4,35 juta menjadi Rp7,73 juta per bulan, atau meningkat 75 persen.
“Ini terjadi karena produktivitas meningkat dan harga ikan menjadi lebih baik berkat kualitas yang terjaga dan akses pasar lebih luas,” kata Qodari.
Qodari berharap keberhasilan KNMP di Biak dapat menjadi tolok ukur (benchmark) untuk penerapan di daerah lain. Ia menyebut, program ini berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan antara 100 persen hingga 200 persen pada setiap lokasi yang telah beroperasi secara penuh.
Di lapangan, para nelayan merasakan langsung manfaat dari kehadiran fasilitas modern yang dibangun melalui program ini.
“Kehadiran fasilitas modern seperti pabrik es, gudang beku (cold storage), dan dermaga yang terintegrasi sangat membantu nelayan dalam menjaga kualitas kesegaran ikan hasil tangkapan serta mempermudah proses distribusi tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota,” kata Abraham Sen, nelayan setempat.
Hal senada disampaikan Artisan, nelayan lainnya. Ia menyebut program KNMP membawa perubahan signifikan bagi kehidupan masyarakat pesisir, di mana pendapatan nelayan meningkat hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.
“Program ini memberikan dampak nyata terhadap taraf hidup masyarakat pesisir, yang dibuktikan dengan kenaikan pendapatan bulanan nelayan hingga dua kali lipat dibandingkan saat masih menggunakan sarana tradisional, sehingga mampu menjamin stabilitas ekonomi keluarga secara berkelanjutan,” ujarnya.
Program KNMP juga diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 27.000 orang, terdiri atas 20.000 tenaga kerja nonpermanen (konstruksi) dan 7.000 tenaga kerja permanen.
Tenaga kerja permanen tersebut akan ditempatkan di berbagai fasilitas seperti cold storage, mobil pengangkut, pabrik es, galangan kapal, tambatan kapal, kios perbekalan, SPBN, sentra kuliner, hingga pengelolaan koperasi dan aktivitas nelayan.
Saat ini, program KNMP telah memasuki tahap kedua pembangunan. Pada tahap pertama yang dimulai pada September 2025, telah terbangun 65 KNMP di 60 kabupaten/kota di 25 provinsi, dengan progres mencapai 99,23 persen per 30 Maret 2026.