Lautan Serap Energi Berlebih, Jadi Ancaman Serius bagi Pangan Global: Kenapa?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 03 April 2026 | 12:30 WIB
Lautan Serap Energi Berlebih, Jadi Ancaman Serius bagi Pangan Global: Kenapa?
Ilustrasi laut biru dengan burung camar terbang (Freepik/freepik)

Suara.com - Jalur produksi pangan global saat ini sedang mengalami perubahan drastis karena Bumi menyerap lebih banyak energi daripada yang dilepaskannya. Setiap tahun, World Meteorological Organization (WMO) melacak serangakaian indikator iklim utama dan suhu Bumi, termasuk jumlah karbon dioksida di atmosfer.

Laporan terbaru turut memperkenalkan parameter baru dalam memantau pemanasan global, yakni Ketidakseimbangan Energi Bumi (The Earth’s energy imbalance, atau EEI). Indikator baru ini digunakan untuk mengklarifikasi dinamika mendasar dari pemanasan global dan menyajikannya secara sederhana.

Dikutip dari Grist.org, EEI merupakan selisih antara jumlah energi matahari yang diserap oleh Bumi dengan jumlah energi yang dipancarkan kembali ke luar angkasa. Lebih sederhananya adalah perubahan iklim.

Penulis utama laporan ini, John Kennedy, menjelaskan bahwa indikator ini sangat krusial karena variasi suhu udara tahunan yang dipicu oleh pola cuaca El Niño dan La Niña sering kali mengaburkan tren pemanasan global jangka panjang.

“Selama ketidakseimbangan energi itu masih ada, Bumi akan terus menghangat, es akan terus mencair, dan permukaan laut akan terus naik,” tambahnya. 

Lautan sebagai Penampung Utama Energi

Data WMO menunjukkan bahwa penumpukan energi di Bumi bukanlah fenomena baru. Planet ini telah menyimpan lebih banyak panas yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca sejak tahun 1960-an. Namun, intensitas penyerapan ini mencapai rekor baru setiap tahun dalam sembilan tahun terakhir.

Salah satu temuan paling signifikan adalah distribusi panas tersebut, yakni ke mana sebagian besar panas mengalir di Bumi. Menurut WMO, samudra diketahui menyerap 91 persen dari kelebihan energi dalam sistem iklim Bumi.

Profesor environmental science and policy di University of Miami, Jennifer Jacquet, menganalogikan lautan sebagai "spons karbon" untuk menekankan bahwa ekosistem ini memiliki titik jenuh. Ia khawatir bahwa penyerapan panas yang masif oleh laut telah menutupi skala sebenarnya dari perubahan iklim yang terjadi selama abad ini, yaitu banyaknya panas yang diserap daripada yang dipantulkan kembali ke luar angkasa.

baca juga

Dampak Bagi Ekosistem dan Rantai Pangan

Peningkatan suhu laut yang terus berlanjut membawa konsekuensi signifikan bagi jalur rantai makanan global. Beberapa dampak yang teridentifikasi meliputi lebih banyak pemutihan karang, degradasi habitat, dan penurunan hasil tangkapan ikan.

Kenaikan permukaan laut juga menyebabkan erosi pantai, di mana secara tidak langsung hal ini dapat menghancurkan mata pencaharian nelayan yang bekerja di sektor perikanan sekaligus bagi manusia dan hewan lain yang sumber makanannya bergantung di ekosistem ini.

Ketika gletser mencair, banjir yang terjadi juga dapat mengganggu pertanian di darat. Dalam hal spesies, seiring dengan menghangatnya lautan, populasi ikan liar cenderung bergerak menuju kutub untuk mencari perairan yang lebih dingin dan kaya oksigen. Fenomena ini dapat merugikan sektor perikanan di wilayah khatulistiwa dan meningkatkan risiko kerawanan pangan di daerah tersebut.

Tantangan Sektor Perikanan Budidaya

Selain perikanan tangkap, gelombang panas laut juga sangat memengaruhi ikan budidaya. Berbeda dengan ikan liar, ikan dalam penangkaran atau keramba tidak memiliki kemampuan untuk berpindah tempat dan bergerak bebas saat terjadi perubahan kondisi lingkungan secara mendadak.

Sebagai contoh, pada tahun 2016 di Chili, peternak ikan mencatat bahwa salmon Atlantik mengalami tingkat kematian yang tinggi akibat ledakan alga yang dipicu oleh kondisi laut tertentu. Mereka tidak bisa menghidari ledakan tersebut.

Ketidakmampuan ikan budidaya untuk menghindari fenomena lingkungan ini menjadikan sektor tersebut sangat rentan terhadap gelombang panas laut.

Seperti yang dikatakan Kennedy bahwa selama ketidakseimbangan energi ini tetap ada, proses penghangatan Bumi, pencairan es, dan kenaikan permukaan laut akan terus berlanjut. Indikator EEI memberikan konteks mendasar bahwa perubahan iklim bukan sekadar kenaikan suhu udara, melainkan pergeseran mendalam pada keseimbangan energi yang berdampak langsung pada sistem pendukung kehidupan manusia.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

WFH Diangap Tak Ganggu Produktivitas, Begini Penjelasan Pengamat

WFH Diangap Tak Ganggu Produktivitas, Begini Penjelasan Pengamat

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 10:23 WIB

Bahlil Teken MoU dengan Korea Selatan, Kerja Sama Energi Bersih, CCS, dan Mineral Kritis Diperkuat

Bahlil Teken MoU dengan Korea Selatan, Kerja Sama Energi Bersih, CCS, dan Mineral Kritis Diperkuat

Bisnis | Jum'at, 03 April 2026 | 07:43 WIB

AAKI Bahas WFH ASN, Solusi Efisiensi di Tengah Krisis Energi Global

AAKI Bahas WFH ASN, Solusi Efisiensi di Tengah Krisis Energi Global

News | Kamis, 02 April 2026 | 17:59 WIB

Terkini

Pelajaran Merelakan dari Lagu Percuma Mahalini: Ketika Usaha Tak Lagi Didengar

Pelajaran Merelakan dari Lagu Percuma Mahalini: Ketika Usaha Tak Lagi Didengar

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:00 WIB

Profil Nurkholisoh Ibnu Aman: Wamenkeu Baru dari Bank Indonesia

Profil Nurkholisoh Ibnu Aman: Wamenkeu Baru dari Bank Indonesia

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:57 WIB

Garuda Gelar Rights Issue 124,35 Miliar Saham

Garuda Gelar Rights Issue 124,35 Miliar Saham

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:57 WIB

Dulu Tukang Kritik, Kini Ekonom INDEF Dradjad Wibowo Jadi Wamenko Perekonomian

Dulu Tukang Kritik, Kini Ekonom INDEF Dradjad Wibowo Jadi Wamenko Perekonomian

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55 WIB

Finis 10 Besar Di Cremona Belum Cukup Sembunyikan Masalah Posisi Start Aldi Satya Mahendra

Finis 10 Besar Di Cremona Belum Cukup Sembunyikan Masalah Posisi Start Aldi Satya Mahendra

Otomotif | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55 WIB

Urutan Zodiak Paling Kreatif dan Inovatif dalam Memecahkan Masalah

Urutan Zodiak Paling Kreatif dan Inovatif dalam Memecahkan Masalah

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:54 WIB

Diplomat Murah Senyum itu Kini Jadi Menteri Luar Negeri

Diplomat Murah Senyum itu Kini Jadi Menteri Luar Negeri

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:54 WIB

Tutorial Menguasai Rumus Aturan Cosinus untuk Mencari Panjang Sisi Segitiga

Tutorial Menguasai Rumus Aturan Cosinus untuk Mencari Panjang Sisi Segitiga

Tekno | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:52 WIB

Penampakan Mencekam Bendungan Bili-bili, 180 Ribu Pelanggan PDAM Terancam Krisis Air

Penampakan Mencekam Bendungan Bili-bili, 180 Ribu Pelanggan PDAM Terancam Krisis Air

Sulsel | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:49 WIB

Haul Habib Ali Diprediksi Dihadiri Ribuan Jamaah, 480 Personel Disiagakan

Haul Habib Ali Diprediksi Dihadiri Ribuan Jamaah, 480 Personel Disiagakan

Surakarta | Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:45 WIB

×