- Emaridial Ulza memperingatkan bahwa Indonesia terjebak dalam kondisi ketidakterlihatan strategis di tengah dinamika konflik global saat ini.
- Ketidakhadiran Indonesia dalam narasi internasional berisiko menurunkan kepercayaan investor serta menghambat berbagai potensi kerja sama ekonomi strategis negara.
- Indonesia perlu mengomunikasikan berbagai capaian nasional secara efektif agar tidak kalah bersaing dengan negara lain dalam percakapan dunia.
Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki "senjata" yang mumpuni untuk mencuri perhatian dunia. Emaridial mencatat prestasi Indonesia dalam menghimpun pajak ekonomi digital yang masuk dalam jajaran tiga besar dunia, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan investasi sumber daya manusia masif.
Sayangnya, berbagai prestasi mentereng tersebut dianggap belum "dijual" dengan efektif ke telinga global. Padahal, di era modern, kemampuan sebuah negara mendefinisikan dirinya sendiri adalah kunci kedaulatan ekonomi.
"Di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting," pungkas Emaridial Ulza. (Antara)