- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berkomitmen mempertahankan kawasan Kota Tua sebagai wilayah rendah emisi pada April 2026.
- Pemprov DKI Jakarta berencana menghadirkan kembali moda transportasi trem untuk mengurangi polusi udara serta menambah daya tarik wisata.
- Pembangunan jalur trem akan disinkronkan dengan proyek MRT agar tidak terjadi tumpang tindih infrastruktur di kawasan bersejarah tersebut.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan revitalisasi kawasan Kota Tua tetap mengedepankan status wilayah tersebut sebagai kawasan rendah emisi atau Low Emission Zone.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menegaskan komitmen tersebut dalam upaya menata kembali kawasan bersejarah di perbatasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara itu.
Figur yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Revitalisasi dan Penataan Kota Tua ini menyampaikan rencananya di Balai Kota Jakarta, Kamis (9/4/2026).
"Memang salah satu tujuan pertama untuk mengurangi emisi. Ada satu format, mungkin rencana kami akan membangun, bahasanya trem di dalam Kota Tua itu," ujar Rano.
Ia kemudian mengenang kembali moda transportasi legendaris yang pernah melintasi jalanan ibu kota puluhan tahun silam.
Mantan pemeran Si Doel ini mengaku memiliki memori pribadi yang sangat kuat terhadap eksistensi trem di Jakarta pada masa lampau.
"Dulu, Harmoni Jakarta dari Pasar Baru ke Kota Tua, saya masih ingat waktu itu saya masih kira-kira umur delapan tahun, saya masih sempat naik trem. Itu sebetulnya trem itu kan bisa menurunkan emisi," tuturnya mengenang.
Kehadiran trem di masa depan diharapkan menjadi solusi ampuh untuk menekan polusi udara sekaligus menambah daya tarik wisata di Kota Tua.
Kendati demikian, implementasi rencana pembangunan transportasi berbasis rel tersebut membutuhkan sinkronisasi yang matang dengan proyek strategis lainnya.
Langkah ini diambil agar tidak terjadi tumpang tindih infrastruktur di kawasan yang menjadi jantung sejarah Jakarta tersebut.
"Kami harus mendesain bersama-sama dengan MRT, karena di situ akan menjadi juga jalur MRT," kata Rano memungkasi penjelasannya.
Revitalisasi kawasan Kota Tua sendiri bertujuan untuk memulihkan jati diri Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada nilai sejarah.
Dalam teknis pelaksanaan revitalisasi, kawasan seluas ratusan hektare tersebut akan dibagi ke dalam tiga segmentasi wilayah yang memiliki fungsi berbeda.
Zona inti yang menjadi jantung dari situs bersejarah tersebut akan mendapatkan perhatian pertama, sebelum merambah ke zona pengembangan dan penunjang.