Riset: Perempuan Jadi Garda Terdepan Jaga Hutan dan Ketahanan Iklim

Vania Rossa

Jum'at, 10 April 2026 | 10:22 WIB
Riset: Perempuan Jadi Garda Terdepan Jaga Hutan dan Ketahanan Iklim
Peluncuran buku Echoes of Partnership. (Dok. Ist)
baca 10 detik
  • KONEKSI meluncurkan buku Echoes of Partnership berisi 20 proyek riset kolaborasi Indonesia dan Australia terkait perubahan iklim.
  • Perempuan terbukti berperan vital melindungi hutan dan menjaga ekosistem dalam pengelolaan perhutanan sosial di berbagai wilayah Indonesia.
  • Riset menekankan pentingnya keterlibatan kelompok rentan dan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan solusi iklim yang lebih inklusif.

Suara.com - Perempuan memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan hutan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi krisis iklim. Dalam banyak praktik perhutanan sosial di Indonesia, perempuan bahkan kerap berada di garis depan dalam melindungi ekosistem hutan dari berbagai ancaman.

Peran tersebut menjadi salah satu sorotan dalam buku Echoes of Partnership yang diterbitkan oleh KONEKSI (the Australia–Indonesia Knowledge Partnership Platform). Buku ini merangkum perjalanan kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Lilis Mulyani, mengatakan keterlibatan perempuan dalam pengelolaan perhutanan sosial terbukti memberikan dampak signifikan, baik terhadap keberlanjutan ekosistem maupun penghidupan masyarakat.

Hal tersebut ia temukan melalui riset berjudul Evaluating the Contribution of Social Forestry Management Rights towards Climate Proof Livelihoods of Women and Men in Indonesia yang menelaah kontribusi hak pengelolaan perhutanan sosial terhadap penghidupan perempuan dan laki-laki yang berketahanan iklim.

“Di banyak tempat terdapat women champions. Selain menjadi garda terdepan dalam melindungi hutan dari praktik illegal logging, perempuan juga berperan aktif dalam merawat dan menjaga keberlanjutan hutan,” ujar Lilis dalam peluncuran buku Echoes of Partnership di Katadata Lounge, Kamis (9/4).

Secara normatif, menurut Lilis, regulasi perhutanan sosial sebenarnya telah membuka ruang yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Hal ini tercermin dalam sejumlah kebijakan, termasuk Peraturan Menteri Kehutanan tahun 2021 dan 2024.

Namun dalam praktiknya, kesetaraan tersebut belum sepenuhnya terwujud di lapangan.

Ia menambahkan, perempuan juga memiliki kontribusi penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, sementara laki-laki cenderung lebih terlibat dalam aspek ekonomi pemanfaatan hutan. Karena itu, Lilis mendorong adanya kebijakan afirmatif, termasuk penetapan target keterlibatan perempuan dalam perhutanan sosial hingga 20–30 persen.

Selain menyoroti peran perempuan, buku Echoes of Partnership juga mengangkat pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

baca juga

Peneliti Monash University, Dr. Tanvi Maheswari, menjelaskan riset bertajuk Indonesia-Australia Citarum Action Research Program (CARP) – Circular Economy Transitions for Resilient Climate and Environmental Futures berfokus pada pemulihan lingkungan Sungai Citarum.

Melalui penelitian ini, tim peneliti mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, seperti mengurangi limbah sejak awal, meningkatkan tingkat daur ulang, serta memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Pendekatan tersebut tidak hanya berpotensi menekan tingkat pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.

Strategi yang diterapkan pun disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah, mulai dari penguatan pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga di kawasan padat penduduk hingga pengembangan usaha daur ulang berbasis komunitas di daerah dengan potensi tertentu.

Tanvi menekankan bahwa keberhasilan transisi menuju ekonomi sirkular memerlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat.

“Permasalahan iklim tidak dapat diselesaikan dengan satu regulasi, karena setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda,” ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

KPI Konsolidasikan Gerakan Perempuan Jelang Kongres VI, Soroti Kepemimpinan dan Keadilan Iklim

KPI Konsolidasikan Gerakan Perempuan Jelang Kongres VI, Soroti Kepemimpinan dan Keadilan Iklim

News | Jum'at, 10 April 2026 | 07:46 WIB

Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani

Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 13:00 WIB

Kekerasan Seksual di Transportasi Online Berulang, Sistem Keamanannya Bermasalah?

Kekerasan Seksual di Transportasi Online Berulang, Sistem Keamanannya Bermasalah?

News | Rabu, 08 April 2026 | 17:21 WIB

Terkini

7 Cara Membedakan Tas Goyard Asli dan KW Super, Jangan Tertipu Motif

7 Cara Membedakan Tas Goyard Asli dan KW Super, Jangan Tertipu Motif

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Perlukah Indonesia Punya UU Anti-Perundungan? Ini Aturan yang Sudah Ada dan Tantangannya

Perlukah Indonesia Punya UU Anti-Perundungan? Ini Aturan yang Sudah Ada dan Tantangannya

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:05 WIB

5 Moisturizer Niacinamide untuk Usia 40 Tahun, Samarkan Flek Hitam dan Kerutan

5 Moisturizer Niacinamide untuk Usia 40 Tahun, Samarkan Flek Hitam dan Kerutan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang

Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Kotak Rokok Berisi Sabu, Kurir Sistem Tempel Tak Berkutik Dicegat Polisi di Kedaton

Kotak Rokok Berisi Sabu, Kurir Sistem Tempel Tak Berkutik Dicegat Polisi di Kedaton

Lampung | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Teknologi AI Lokal Bidik Industri Kreatif, dari Pengembangan Ide hingga Produksi Video

Teknologi AI Lokal Bidik Industri Kreatif, dari Pengembangan Ide hingga Produksi Video

Tekno | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:58 WIB

Topeng Alim Pembunuh Ibu-Anak Asal Madiun: Ikut Yasinan Warga Sebelum Diciduk di Jombang

Topeng Alim Pembunuh Ibu-Anak Asal Madiun: Ikut Yasinan Warga Sebelum Diciduk di Jombang

Jatim | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:54 WIB

Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana

Jangan Tunggu Korban Berjatuhan! Sarif Abdillah Desak Pemda Ubah Total Cara Tangani Bencana

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:48 WIB

Gerak Cepat! Pasukan Oranye Sapu Bersih 26 Ton Sampah di Bundaran HI Pasca Demo

Gerak Cepat! Pasukan Oranye Sapu Bersih 26 Ton Sampah di Bundaran HI Pasca Demo

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:45 WIB

Hilangkan Nyawa Ibu Kandung, Oknum Polda Riau Terancam Dipecat

Hilangkan Nyawa Ibu Kandung, Oknum Polda Riau Terancam Dipecat

Riau | Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:40 WIB

×