-
Iran dan Amerika Serikat memperpanjang negosiasi damai di Islamabad untuk membahas sepuluh syarat.
-
Teheran mengklaim kemenangan militer memaksa pihak Amerika Serikat menerima kerangka kerja gencatan senjata.
-
Tuntutan utama Iran meliputi pengakuan hak uranium dan penarikan pasukan asing dari Timur Tengah.
Suara.com - Ketegangan panjang antara Iran dan Amerika Serikat kini beralih ke meja perundingan formal yang berlangsung di Islamabad.
Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa dialog diplomatik dengan delegasi Amerika Serikat resmi diperpanjang selama satu hari tambahan.
Dikutip dari Sputnik, langkah ini diambil guna mengakomodasi pembahasan mendalam mengenai poin-poin krusial yang masih menjadi ganjalan kedua pihak.
![Warga Iran memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei. [Khamenei News]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/72982-warga-iran-memegang-foto-ayatollah-mojtaba-khamenei.jpg)
Meskipun atmosfer pertemuan diwarnai perbedaan pandangan yang tajam, kedua negara sepakat untuk tetap berada di jalur komunikasi.
Perpanjangan waktu ini menunjukkan adanya urgensi besar bagi kedua negara untuk menghindari eskalasi militer yang lebih luas.
Delegasi tingkat tinggi dikirim langsung untuk memastikan substansi dari sepuluh tuntutan dasar dapat dibahas secara tuntas.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memimpin rombongan besar yang terdiri dari para menteri dan pejabat keamanan.
Di barisan Iran, hadir pula Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati untuk urusan ekonomi.
Pihak Amerika Serikat mengutus Wakil Presiden J.D. Vance sebagai pemimpin delegasi dalam misi perdamaian yang sangat krusial ini.
Tokoh kunci seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner juga terlihat mendampingi untuk memperkuat posisi tawar administrasi Donald Trump.
Klaim Kemenangan Diplomatik Teheran
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa posisi negaranya saat ini berada di atas angin.
"Negosiasi akan terus berlanjut meskipun terdapat sejumlah perbedaan," kata Mohammad Boroujerdi.
Boroujerdi menegaskan bahwa keberanian militer Iran selama empat puluh hari terakhir telah memaksa lawan menuju meja runding.
Keberhasilan menahan gempuran udara dan serangan siber dianggap sebagai modal utama dalam memaksakan agenda gencatan senjata tersebut.