-
Negosiasi nuklir antara AS dan Iran di Islamabad berakhir buntu tanpa ada kesepakatan resmi.
-
Penolakan Iran terhadap syarat nuklir AS mengancam pembukaan jalur energi Selat Hormuz.
-
JD Vance menegaskan posisi Washington tidak akan berkompromi terhadap pengembangan senjata nuklir Iran.
Perselisihan paling tajam di antara kedua negara terletak pada isu pengembangan teknologi persenjataan atom.
Pemerintah Amerika Serikat menginginkan adanya jaminan tertulis bahwa Iran tidak akan pernah memiliki bom atom.
“Kami perlu melihat komitmen afirmatif bahwa [Iran] tidak akan mencari senjata nuklir, dan mereka tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka mencapai senjata nuklir dengan cepat,” jelas Vance.
Kepastian tersebut merupakan target utama yang dicanangkan oleh Presiden Trump dalam diplomasi luar negerinya.
Namun, media pemerintah Iran justru menuding Amerika Serikat mengajukan permintaan yang terlalu berlebihan.
Kantor berita Tasnim menyebut hambatan utama muncul dari tekanan sepihak yang dianggap tidak masuk akal.
Sinyal Kontradiktif dari Delegasi Teheran
Sebelum pernyataan resmi Vance keluar, pihak Iran sempat mengisyaratkan bahwa komunikasi teknis masih akan berlanjut.
Melalui unggahan di media sosial, mereka menyebutkan bahwa para ahli dari kedua belah pihak tetap bertukar dokumen.
Pertemuan di Islamabad ini sebenarnya menjadi momen sejarah karena merupakan diskusi tingkat tertinggi sejak 1979.
Pakistan memainkan peran krusial sebagai mediator dalam pertemuan yang melibatkan menteri luar negeri dan ketua parlemen Iran.
Situasi di dalam ruang pertemuan dilaporkan sangat emosional dengan suasana yang berubah-ubah secara drastis.
Konflik ini bermula dari perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Jalur laut tersebut sangat vital karena menjadi tempat perlintasan bagi sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Iran menuntut pembebasan aset yang dibekukan, pembayaran reparasi perang, serta kendali penuh atas wilayah selat tersebut.