Ketergantungan Batu Bara Jadi Bom Waktu, IESR Desak Percepatan Transisi Ekonomi

Bimo Aria Fundrika

Senin, 13 April 2026 | 13:25 WIB
Ketergantungan Batu Bara Jadi Bom Waktu, IESR Desak Percepatan Transisi Ekonomi
ilustrasi tambang batu bara. (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Pemerintah menargetkan penurunan produksi batu bara menjadi 600 juta ton pada 2026 akibat melemahnya permintaan pasar global.
  • Daerah seperti Paser dan Muara Enim menghadapi risiko ekonomi tinggi karena ketergantungan pendapatan pada dana bagi hasil batu bara.
  • IESR mendorong diversifikasi ekonomi melalui sektor alternatif dan penguatan sumber daya manusia guna mewujudkan transisi energi yang berkeadilan.

Suara.com - Ketergantungan daerah penghasil batu bara tak lagi bisa dipandang sebagai kekuatan ekonomi semata, melainkan juga sumber kerentanan.

Sinyal ini makin nyata ketika pemerintah menetapkan target produksi batu bara sekitar 600 juta ton pada 2026, turun 24 persen dari realisasi 2025 yang mencapai 790 juta ton. Bahkan, kuota awal 2026 untuk sejumlah perusahaan dipangkas hingga 40–70 persen.

Di saat yang sama, permintaan dari pasar utama seperti Tiongkok dan India melemah, sementara ketidakpastian geopolitik global terus meningkat. Kombinasi ini menegaskan satu hal: daerah yang terlalu bergantung pada batu bara akan paling terdampak ketika pasar berbalik arah dan kebijakan diperketat.

Manajer Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan Institute for Essential Services Reform (IESR), Martha, menyebut risiko ini sudah nyata di wilayah seperti Kabupaten Paser (Kalimantan Timur) dan Muara Enim (Sumatera Selatan).

Studi IESR menunjukkan ketergantungan tersebut tercermin dari kontribusi dana bagi hasil (DBH) batu bara terhadap APBD, yang mencapai 20 persen di Muara Enim dan rata-rata 27 persen di Paser. Angka ini menandakan struktur ekonomi daerah yang belum cukup beragam dan rentan terhadap guncangan eksternal.

“Transformasi ekonomi tidak cukup hanya mencari sektor pengganti. Daerah harus membangun diversifikasi yang kompetitif dan saling terhubung agar menciptakan nilai tambah lokal yang lebih kuat,” ujar Martha dalam diskusi Pesta Media 2026.

IESR mengidentifikasi sejumlah sektor potensial sebagai pintu masuk transformasi. Di Paser, sektor jasa keuangan, manufaktur, dan pendidikan dinilai memiliki peluang berkembang. Sementara di Muara Enim, sektor manufaktur serta akomodasi dan makanan-minuman dapat menjadi motor ekonomi baru.

Di wilayah seperti Lahat, komoditas kopi bahkan bisa diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, dari biji hingga limbah kulitnya. Artinya, transformasi tidak hanya soal mengganti sektor, tetapi membangun rantai nilai yang lebih panjang dan berkelanjutan.

Namun, transformasi ini membutuhkan fondasi yang kuat. Martha menekankan tiga prasyarat utama: tata kelola dan pembiayaan yang efektif, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah, serta penguatan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan ekonomi.

baca juga

Di sisi lain, Antropolog Universitas Indonesia, Suraya Afif, mengingatkan bahwa transisi energi tidak boleh semata berfokus pada penurunan emisi karbon. Tanpa memperbaiki ketimpangan sosial dan ekonomi, transisi justru berisiko melahirkan ketidakadilan baru.

“Transisi yang berkeadilan mensyaratkan partisipasi aktif pekerja, komunitas lokal, hingga masyarakat luas,” ujarnya.

Senada, Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho, menilai transformasi harus melampaui pengendalian produksi batu bara. Ia menekankan pentingnya percepatan energi terbarukan sekaligus penciptaan basis ekonomi baru yang berkelanjutan.

“Diversifikasi tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Perusahaan juga harus proaktif mengamankan masa depannya,” katanya.

Dengan tekanan global yang terus meningkat, masa depan daerah penghasil batu bara kini ditentukan oleh kecepatan bertransformasi. Jika tidak, ketergantungan yang selama ini dianggap sebagai kekuatan justru akan menjadi beban yang sulit ditanggung.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Purbaya Ungkap Cara Kerja Dana SAL Rp 300 T Milik Pemerintah Buat Gerakkan Ekonomi

Purbaya Ungkap Cara Kerja Dana SAL Rp 300 T Milik Pemerintah Buat Gerakkan Ekonomi

Bisnis | Minggu, 12 April 2026 | 13:35 WIB

Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya

Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya

Your Say | Minggu, 12 April 2026 | 13:22 WIB

3 Persoalan Masih Jadi Sengketa Amerika Serikat - Iran di Perundingan

3 Persoalan Masih Jadi Sengketa Amerika Serikat - Iran di Perundingan

News | Minggu, 12 April 2026 | 12:54 WIB

Terkini

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Waspada Hujan Lebat Imbas Bibit Siklon 97 W

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Waspada Hujan Lebat Imbas Bibit Siklon 97 W

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 06:46 WIB

Akademisi: Korupsi Batu Bara PLTU Jangan Berhenti di Eks Jampidsus, Ungkap Seluruh yang Terlibat

Akademisi: Korupsi Batu Bara PLTU Jangan Berhenti di Eks Jampidsus, Ungkap Seluruh yang Terlibat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:14 WIB

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

Panja Awasi Kasus Korupsi Febrie, DPR: Biar Tak Ada Fitnah, Jangan Emas Batangan Ditukar Cokelat

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:45 WIB

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

DPR Desak Hukuman Mati untuk Febrie Adriansyah: Penghianat Hukum yang Lukai Rakyat!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:25 WIB

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

DPR Desak Kejagung Bentuk Tim Steril untuk Usut Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 19:10 WIB

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

Jadi Ketua Panja Awasi Penanganan Kasus Febrie Adriansyah, Habiburokhman: Ini Kasus Mega Korupsi

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:29 WIB

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

DPRD DKI Apresiasi Mobil Klinik Hewan Keliling, Dorong Sosialisasi Lebih Masif

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:18 WIB

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

Minta Dihukum Mati! DPR Geram Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Jadi Tersangka Korupsi: Menjijikkan!

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 18:02 WIB

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

Jejak Kasus Febrie Adriansyah: Penggeledahan, Penyitaan Aset hingga Dilimpahkan ke Kejagung

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:46 WIB

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

Tersangka Don Ritto Sudah Ditahan di Polda Metro, Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:20 WIB

×