- Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menertawakan rencana blokade militer AS karena hal itu justru akan merusak ekonomi Amerika Serikat.
- Teheran memperingatkan warga Amerika Serikat bahwa kebijakan arogan Donald Trump akan memicu lonjakan ekstrem harga bensin di dalam negeri.
- Militer AS berdalih hanya menargetkan kapal menuju Pelabuhan Iran, di tengah dominasi kekuatan maritim Teheran yang tak tergoyahkan di Selat Hormuz.
Suara.com - Ancaman blokade militer Amerika Serikat di jalur vital perdagangan energi global, Selat Hormuz, rupanya justru menjadi bahan olok-olok bagi jajaran petinggi di Teheran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf dengan tajam memperingatkan bahwa manuver gegabah Presiden Donald Trump di perairan strategis tersebut hanya akan memicu krisis ekonomi parah di dalam negeri AS sendiri.
Alih-alih merasa terintimidasi, otoritas Republik Islam tersebut meyakini bahwa penutupan akses di Selat Hormuz akan menjadi bumerang telak yang mencekik warga Amerika lewat lonjakan harga bahan bakar yang ekstrem.
![Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf ancam Rezim Zionis Israel terkait serangan ke Lebanon. Ia sebut waktu hampir habis dan siap beri reaksi keras.[ncr-iran.org]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/36432-mohammad-bagher-qalibaf.jpg)
Melalui akun media sosial X pribadinya pada Senin (13/4/2026), Mohammad Baqer Qalibaf secara terbuka menertawakan gertakan blokade laut yang dilontarkan oleh sang presiden AS.
Tokoh senior Iran tersebut mengisyaratkan bahwa langkah provokatif Washington tidak akan melumpuhkan Teheran, melainkan justru menghancurkan stabilitas pasar energi global.
Sindiran Tajam Harga Bensin Gedung Putih
"Nikmati angka-angka di pompa bensin saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade', Anda akan segera bernostalgia dengan bensin seharga 4-5 dolar (AS)," tulis Mohammad Baqer Qalibaf di X, Senin (13/4/2026).
Dalam unggahan bernada sarkastis tersebut, sang Ketua Parlemen juga menyertakan sebuah rumus matematis singkat yang berbunyi, "ΔO_BSOH>0 ⇒ f(f(O))>f(O),".
Tidak tanggung-tanggung, kritik tajam itu sengaja disematkan bersama foto peta yang menyoroti tingginya harga bahan bakar di stasiun-stasiun pengisian daya tepat di sekitar Gedung Putih.
Sindiran menohok ini merupakan respons langsung atas deklarasi arogan Donald Trump pada Minggu (12/4/2026), yang bersumpah bahwa Angkatan Laut AS akan segera memblokade perairan vital Timur Tengah tersebut.
Pemimpin Washington itu juga mengancam akan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang kedapatan membayar biaya tol maritim kepada otoritas keamanan Iran.
Dalih Operasi Terbatas Militer AS
Menyadari potensi kepanikan global akibat ancaman tersebut, pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) dengan cepat mencoba meredakan situasi dengan merilis klarifikasi operasional.
CENTCOM berdalih bahwa operasi militer yang digagas presiden mereka ini hanya akan menargetkan kapal-kapal niaga yang secara spesifik berlayar menuju atau bertolak dari Pelabuhan Iran.
Lembaga militer tersebut menjanjikan bahwa armada internasional yang tidak memiliki urusan dagang dengan Teheran akan tetap mendapatkan kebebasan bernavigasi untuk melintasi selat tersebut.