- IDAI mengadakan pelatihan penanganan kegawatdaruratan anak di Jakarta pada 13 April 2026 untuk mengedukasi masyarakat umum.
- Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan bantuan hidup dasar karena anak memerlukan penanganan sangat cepat atau golden minutes.
- Materi mencakup prosedur tersedak dan resusitasi jantung paru, serta larangan memberikan minum saat anak mengalami kondisi tersedak.
Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar media briefing sekaligus pelatihan praktis penanganan kegawatdaruratan pada anak. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat melalui media mengenai pentingnya langkah cepat dalam menangani kondisi kegawatdaruratan medis pada anak, seperti tersedak atau henti napas, yang dapat terjadi kapan saja.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa penanganan pada anak memiliki urgensi waktu yang jauh lebih sempit dibandingkan orang dewasa.
"Kalau di dewasa itu kita kenal ada Golden Hour, mungkin di anak itu Golden Minutes ya karena anak kejang 1 atau 3 menit itu udah bisa merusak banyak sel-sel sarafnya," ujar Piprim dalam sambutannya di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (13/4/2026).
Sementara itu, Ketua IDAI DKI Jakarta, Prof. DR Dr Rismala Dewi, menambahkan bahwa edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian menjelang World Emergency Day pada 27 Mei mendatang.
Ia berharap kemampuan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bisa menjadi keterampilan wajib bagi masyarakat umum di Indonesia.
Langkah Pertama: Penanganan Anak Tersedak
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Emergensi dan Terapi Intensif Anak (ETIA) IDAI, dr. Yogi Prawira menjelaskan bahwa langkah pertama saat anak tersedak adalah menilai kemampuannya bereaksi.
Jika anak masih bisa menangis kencang atau batuk kuat, artinya jalan napas masih aman. Namun, jika suara mulai hilang dan wajah membiru, tindakan segera harus dilakukan.

Berikut panduan menangani bayi di bawah 1 tahun yang tersedak:
- Back Blow (Tepukan Punggung):
- Penolong bisa berlutut ataupun duduk di kursi sehingga dapat menopang bayi dengan aman.
- Letakkan bayi telungkup di lengan Anda dengan posisi kepala lebih rendah dari badan.
- Topang kepala dengan ibu jari di satu sisi rahang dan satu–dua jari lainnya di sisi lain, tanpa menekan jaringan lunak di bagian bawah rahang.
Berikan 5 kali hentakan di punggung di antara dua tulang belikat menggunakan pangkal telapak tangan.
- Chest Thrust (Hentakan Dada):
- Jika benda asing belum keluar, balikkan bayi.
- Penolong bisa duduk di kursi, posisikan salah satu kaki anda lebih rendah dengan meluruskannya.
- Letakkan bayi telentang di atas paha yang Anda luruskan dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari badan.
- Pegang bagian dada bayi dengan kedua tangan Anda (di bawah ketiak bayi), kemudian posisi dua ibu jari Anda di tengah-tengah tulang dada, berikan hentakan sebanyak 5 kali. Jika benda asing belum keluar, ulangi tindakan dari awal.
Untuk anak 1 sampai 8 tahun, penolong bisa menggunakan cara Heimlich Manuver, dengan cara sebagai berikut:
- Posisikan penolong di belakang anak yang sedang tersedak.
- Letakkan lengan Anda di bawah lengan anak mengelilingi pinggangnya (seperti posisi memeluk dari belakang). Usahakan sejajar dengan Anak.
- Kepalkan satu tangan Anda di antara pusar dan tulang dada (tulang iga) anak. Lalu, raih kepalan tangan anda dengan tangan satunya.
- Sambil agak tunduk (posisi agak membungkuk), dorong kepalan tangan ke arah dalam dan hentakan sebanyak 5 kali.
- Setelah itu periksa atau evaluasi anak apakah benda asing telah keluar. Jika belum lakukan kembali tindakan tersebut sampa benda asing tersebut keluar.
"Tujuan kita meningkatkan tekanan di rongga dada secara tiba-tiba sehingga benda yang itu akan terdorong keluar," tambahnya.
Panduan RJP (Resusitasi Jantung Paru) untuk Anak
Jika anak tidak sadar dan tidak bernapas, segera lakukan RJP. Berbeda dengan dewasa yang menggunakan urutan CAB(Compression, Airway, Breathing), pada anak IDAI tetap merekomendasikan urutan ABC (Airway, Breathing, Circulation).
"A-nya itu jalan nafas (Airways), B-nya itu nafasnya (breathing), kemudian C-nya baru jantungnya," jelas Yogi.
Berikut panduan praktis melakukan RJP pada anak agar Anda bisa memeragakannya:
Panggil Bantuan: Jangan menolong sendirian. "Panggil bantuan. Kalau di Jakarta, minta orang lain telepon ambulans di nomor 112 atau 119," tegas dr. Yogi.
A - Airway (Buka Jalan Napas):
- Letakkan anak di permukaan yang keras dan datar (lantai).
- Tengadahkan kepala anak dan angkat dagunya sedikit agar jalan napas terbuka.
- Lalu tahan kepala anak dengan salah satu tangan Anda di dahi anak.
B - Breathing (Napas Buatan):
- Lihat apakah dada anak bergerak naik-turun. Jika tidak ada napas sama sekali atau napas terlihat sangat lemah dan jarang-jarang (megap-megap), bantuan napas buatan harus segera dilakukan.
- Berikan 5 kali napas bantuan dengan menggunakan masker resusitasi yang dijual bebas di apotek atau toko alat kesehatan.
- Pegang masker resusitasi dengan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf ‘C’, kemudian tekan masker. Lalu, 3 jari sianya membentuk huruf ‘E’ untuk tekan dan angkat rahang anak guna membuka jalan napas.
- Tangan satunya gunakan untuk meremas balon secara perlahan namun tegas, kemudian lepaskan remasan tangan dan biarkan balon mengembang.
Cara mengetahui bantuan nafas efektif adalah dada anak tampak naik (mengembang) saat ditiup.
C - Circulation (Kompresi Dada): Jika tidak ada tanda kehidupan (batuk, gerak, atau napas), lakukan kompresi dada:
- Posisikan tubuh di permukaan yang keras dan rata.
- Bukan jalan napas anak. Tengadahkan kepala anak sedikit ke belakang menggunakan telapak tangan Anda yang diletakkan dahi sang anak.
- Pada anak usia 1-8 tahun, posisikan tumit salah satu tangan Anda di tengah dada (di separuh bawah tulang dada/setara garis puting).
- Pada bayi di bawah 1 tahun gunakan dua jari (jari telunjuk dan jari tengah).
- Tekan tulang dada ke bawah dengan kuat. Tekan tegak lurus dengan kecepatan 100-120 kali per menit.
- Pastikan dada sang anak kembali ke posisi secara utuh sebelum melakukan kompresi berikutnya.
- Lakukan 15 kali tekanan dada, diikuti 2 kali napas bantuan.
- Tips Irama: Gunakan irama lagu "Baby Shark" atau "Stayin' Alive" agar kecepatannya stabil.
Jangan Langsung Dikasih Minum!
Salah satu kesalahan umum masyarakat saat melihat anak tersedak adalah langsung memberikan air minum. Dokter Tuti Rahayu, Sp.A(K), Ketua Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI JAYA memperingatkan dengan tegas agar kebiasaan ini dihentikan.
"Makanya kalau lagi tersedak kita kasih minum, dia kontrolnya aja engap-engap. Ada saluran nafasnya udah sempit kita kasih guyur lagi, nanti kalau masuk ke saluran nafas malah jadi biru," tegas Tuti.
Ia menjelaskan bahwa saat tersedak, mekanisme katup antara saluran napas dan pencernaan sedang tidak stabil. Memberikan air justru berisiko membuat cairan masuk ke paru-paru.
"Kita tidak boleh memasukkan apapun, malah kita bebaskan kalau bisa yang ada kelihatan di mulut. Tapi kalau nggak kelihatan, nggak boleh dikorek-korek,"pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K