- IDAI memperingatkan orang tua di Jakarta agar waspada terhadap gangguan tidur anak karena berisiko menyebabkan insiden fatal pernapasan.
- Pakar kesehatan melarang praktik sleep training serta posisi tidur tengkurap bagi bayi di bawah usia enam bulan tanpa pengawasan.
- Orang tua diminta berhenti mengikuti tren pengasuhan tanpa pemahaman medis agar bayi tetap terpantau secara ketat demi keselamatan.
Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan keras bagi para orang tua untuk lebih waspada terhadap gangguan tidur atau sleep disorder pada anak. Meski terkesan sepele, kondisi ini bisa berujung fatal jika tidak ditangani dengan benar, terutama di tengah tren pengasuhan yang kini marak di media sosial.
Ketua IDAI DKI Jakarta, Rismala Dewi, mengungkapkan banyak kasus gangguan tidur pada anak yang tidak terdeteksi hingga akhirnya terjadi insiden fatal.
“Jadi kalau mungkin gangguan sleep disorder itu pada anak-anak memang nggak semua mengalami seperti itu ya, jadi ada kasus-kasus tertentu. Kadang-kadang tidak diketahui sampai terjadi istilahnya kecelakaannya gitu,” ujar Dewi dalam media briefing di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dewi juga mengingatkan orang tua untuk menghindari faktor risiko yang bisa menghambat pernapasan anak, seperti membiarkan anak tidur bersama orang dewasa yang lebih besar atau menelungkupkan anak tanpa pengawasan.
Selain itu, bayi yang perkembangan fisiknya belum sempurna, seperti belum mampu mengangkat kepala, menurutnya juga sangat rentan mengalami gagal napas jika diletakkan dalam posisi tidur yang salah.
“Nah kadang-kadang ya kalau tidak dalam pengawasan, ya dia tuh tetap seperti itu sampai dia tidak bisa bernapas gitu,” jelas Dewi.
![Ketua Unit Kerja Emergensi IDAI Jakarta Raya, Tuti Rahayu. [Suara.com/ Dinda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/21446-tuti-rahayu.jpg)
Peringatan Keras Soal 'Sleep Training'
Sementara dokter spesialis anak sekaligus Ketua Unit Kerja Emergensi IDAI Jakarta Raya, Tuti Rahayu, menyebut gangguan tidur pada anak hampir selalu berkaitan dengan saluran pernapasan.
Ia menyoroti bahaya penggunaan selimut yang menutupi wajah atau kasur yang terlalu empuk sehingga wajah bayi "melesek" ke dalam.
Tuti juga secara khusus mengkritisi praktik sleep training yang dilakukan pada bayi di bawah usia enam bulan.
“Nah, sebelum 6 bulan kalau dia belum tegak, dia belum bisa berguling, itu sangat tidak aman membiarkan dia dalam kondisi tengkurap ya,” tegas Tuti.
Ia mengingatkan bahwa tangisan bayi adalah sinyal bahaya yang harus direspons, bukan dibiarkan begitu saja hingga bayi kelelahan.
Sedangkan Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, meminta para orang tua untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau sekadar mengikuti tren sleep training tanpa pemahaman medis yang cukup.
Metode melatih tidur anak, menurut Piprim, tidak bisa dipukul rata dan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing anak.
Ia juga menyentil orang tua yang lebih asyik berselancar di dunia maya ketimbang memantau kondisi buah hatinya.