- Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokatif dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
- Pemerintah Iran dan berbagai pihak mengecam keras aksi tersebut karena dianggap melanggar status quo situs suci umat Islam.
- Tindakan provokasi ini memicu kemarahan publik serta meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di wilayah Palestina dan Israel.
Suara.com - Pemerintah Iran mengecam keras aksi penistaan dan penodaan Masjid Al Aqsa yang dilakukan ekstremis Zionis yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.
Teheran menyebut tindakan provokatif Itamar Ben-Gvir di Al Aqsa sebagai bagian dari rangkaian pelanggaran yang terus terjadi di wilayah Palestina.
Juru bicara pemerintah Iran, Esmaeil Baqaei menegaskan posisi Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam dan situs suci yang memiliki nilai historis tinggi.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan upaya untuk mengubah identitas Islam dan sejarah kota suci Al-Quds serta memicu kemarahan umat Muslim dunia.
Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
![Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/63609-tamar-ben-gvir-dan-benjamin-netanyahu.jpg)
Ben-Gvir memasuki area masjid dengan pengawalan ketat aparat Israel dan didampingi para pemukim.
Ben-Gvir bahkan melakukan doa Yahudi di lokasi yang secara kesepakatan sejak 1967 hanya diperuntukkan bagi ibadah umat Muslim, meski non-Muslim diizinkan berkunjung.
Aksi ini memicu kecaman keras dari Palestina dan negara-negara kawasan karena dinilai melanggar status quo tempat suci tersebut.
Kementerian Luar Negeri Yordania menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius.
“Ini adalah penodaan kesucian Al-Aqsa, eskalasi yang tercela dan provokasi yang tidak dapat diterima,” demikian pernyataan resmi Kemenlu Yordania seperti dilansir dari Aljazeera.
Berikut 5 fakta kontroversial politisi 49 tahun tersebut.
Punya Pemikiran Kahanisme
Ben-Gvir menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional sejak 2022.
Dikutip dari Haaretz, pemikiran dan tindak tanduk Ben-Gvir sebagai pejabat publik didasari tradisi Kahanisme, ideologi ultra-nasionalis yang dianggap rasis dan anti-Arab.
Pemikiran kahanisme yang dianut oleh Ben-Gvir menurut sejumlah media Israel membangkitkan pemikiran rasis zionis kelompok sayap kanan.