- Pengemudi ojol bernama Donatus Darso dikeroyok sekelompok orang dari AWSTAR di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Senin (13/4/2026).
- Insiden kekerasan tersebut menyebabkan korban mengalami trauma fisik dan psikis sehingga tidak dapat bekerja selama dua hari.
- Polres Manggarai Barat sedang melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku serta menuntut proses hukum agar tuntas dan tegas.
Namun, sesuai kesepakatan antara ojol dan sopir angkutan wisata setempat, ia tidak diperbolehkan menjemput di area dekat bandara.
Ia kemudian mengarahkan penumpang untuk bertemu di depan sebuah minimarket yang lokasinya cukup jauh dari pintu keluar bandara.
Penumpang tersebut menyetujui dan mendatangi lokasi tersebut.
Namun saat penumpang tiba, Donatus justru didatangi sekelompok orang yang membentaknya dan meminta penumpang turun dari sepeda motor, hingga berujung pada aksi penganiayaan.
Menanggapi kejadian ini, Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menilai insiden tersebut sangat disayangkan, terlebih terjadi di wilayah yang menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia.
"Kami sangat menyayangkan aksi-aksi seperti ini (pengeroyokan dan provokasi). Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi yang sedang bekerja," ujar Leonardus, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, sebagai destinasi super prioritas, Labuan Bajo seharusnya menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh pihak, baik pelaku transportasi maupun wisatawan.
Leonardus pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan memastikan proses hukum berjalan sampai tuntas.
"Tentu kami meminta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Harus ada efek jera supaya ke depannya tidak ada lagi intimidasi atau kekerasan terhadap driver di area publik," tegasnya.
Selain penegakan hukum, ia juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan transportasi di kawasan bandara, termasuk aturan yang berlaku di lapangan.
Di satu sisi, Leonardus mengapresiasi langkah cepat Dinas Perhubungan (Dishub) dan kepolisian yang telah melakukan mediasi untuk meredam situasi.
"Kami apresiasi langkah mediasi dari Dishub dan kepolisian. Namun, kami juga mendorong adanya evaluasi mendalam terkait sistem pelayanan di bandara agar lebih transparan dan optimal," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa evaluasi yang lebih tegas dan komprehensif menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang, sekaligus menjaga citra Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan Indonesia.
Sebagai bagian dari ekosistem transportasi lokal, Komunitas Grab Komodo Cama Laing menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga kondusivitas. Leonardus juga berharap koordinasi antar stakeholder terus diperkuat.
"Tujuan kita sama, ingin Labuan Bajo ini aman dan nyaman bagi siapa saja. Kami siap berkolaborasi untuk memastikan pelayanan terbaik bagi tamu yang datang," tutupnya.