-
Minat warga China terhadap budaya Iran melonjak akibat kerusakan situs sejarah oleh serangan militer.
-
Pameran artefak kuno Iran di Hohhot menjadi simbol solidaritas masyarakat China di tengah perang.
-
Warga mempelajari sejarah Iran untuk memahami dampak konflik terhadap pasokan energi global saat ini.
Dong mengatakan kepada CNN: "Perang telah membuat saya merasakan dorongan ini – insting perlindungan ini – untuk menjaga dan melestarikan mereka sebaik mungkin."
Persamaan nasib sebagai bangsa dengan akar sejarah ribuan tahun menjadi pengikat emosional antara masyarakat China dan Iran.
Kedua negara memiliki kebanggaan besar terhadap silsilah peradaban kuno yang telah membentuk struktur sosial mereka hingga hari ini.
Situs Persepolis adalah bukti nyata kemajuan arsitektur kekaisaran Achaemenid yang tidak memiliki tandingan di dunia arkeologi internasional.
Namun, laporan kementerian warisan budaya menyebutkan lebih dari 130 situs sejarah telah hancur selama kampanye pengeboman berlangsung.
Meskipun AS dan Israel membantah sengaja menargetkan situs budaya, ancaman terhadap kehancuran peradaban Iran tetap menjadi ketakutan global.
Literasi Sejarah Sebagai Bentuk Perlawanan
Ketegangan diplomatik antara China dan Amerika Serikat turut memperkuat simpati publik domestik terhadap posisi sulit yang dihadapi Iran.
Toko buku di Beijing melaporkan lonjakan permintaan literatur tentang Iran yang sebelumnya hampir tidak pernah dilirik oleh pembeli.
Bahkan di lingkungan universitas, mahasiswa mulai mendalami alasan di balik ambisi militer Amerika Serikat terhadap negara Timur Tengah tersebut.
Novel grafis "Persepolis" karya Marjane Satrapi kini menjadi buruan utama di perpustakaan dan toko buku di seluruh wilayah Beijing.
Pustakawan bermarga Zhang mengatakan kepada CNN: "Lebih banyak siswa datang untuk memeriksa buku tentang Iran sejak bulan lalu, bahkan buku komik seperti 'Persepolis' diperiksa oleh lebih banyak pembaca setiap hari."
Bagi pekerja seperti Karen Yan, dokumenter arsitektur kuno Iran menjadi pelarian sekaligus cara memahami dampak ekonomi dari perang tersebut.
Keindahan geometris bangunan Persia dianggap memberikan ketenangan di tengah ketidakpastian data pasar keuangan global yang terdampak konflik.
Sentimen ini diperkuat oleh Echo Zhao yang merasa perlu berempati dengan penderitaan rakyat biasa melalui studi literatur sejarah.