Mendadak! Warga China Berbondong Mempelajari Sejarah Iran, Lho Ada apa?

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 16 April 2026 | 16:02 WIB
Mendadak! Warga China Berbondong Mempelajari Sejarah Iran, Lho Ada apa?
Gelombang keingintahuan warga China terhadap identitas dan sejarah Iran mencapai titik tertinggi akibat eskalasi konflik perang Amerika Serikat di Timur Tengah. (Inner Mongolia Museum)
baca 10 detik
  • Minat warga China terhadap budaya Iran melonjak akibat kerusakan situs sejarah oleh serangan militer.

  • Pameran artefak kuno Iran di Hohhot menjadi simbol solidaritas masyarakat China di tengah perang.

  • Warga mempelajari sejarah Iran untuk memahami dampak konflik terhadap pasokan energi global saat ini.

Suara.com - Gelombang keingintahuan warga China terhadap identitas dan sejarah Iran mencapai titik tertinggi akibat eskalasi konflik perang Amerika Serikat di Timur Tengah.

Masyarakat di Negeri Tirai Bambu kini melihat Iran bukan sekadar wilayah konflik, melainkan cermin peradaban yang setara.

Dilaporkan CNN, ketertarikan ini muncul sebagai respons emosional atas rusaknya berbagai situs bersejarah di Iran akibat gempuran militer.

Ilustrasi perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel. (Dok. Suara.com)
Ilustrasi perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel. (Dok. Suara.com)

Banyak warga mulai memburu literatur dan pameran seni untuk memahami esensi negara yang kini menjadi pusat perhatian dunia.

Fenomena ini mencerminkan adanya ikatan solidaritas baru yang terbentuk melalui jalur budaya dan sejarah kuno.

Di tengah dentuman bom, ratusan artefak Persia justru tersimpan aman dalam pameran di wilayah Hohhot, China Utara.

Fakta Mengejutkan tentang Iran (shutterstock)
Fakta Mengejutkan tentang Iran (shutterstock)

Dong Bibing, seorang kurator museum, mengelola lebih dari 150 barang antik mulai dari kaca bermotif hingga karpet rumit.

Pameran ini mendadak populer karena warga ingin melihat langsung bukti kemegahan budaya yang kini terancam punah di asalnya.

Akibat antusiasme yang luar biasa, jadwal pameran yang seharusnya berakhir Maret terpaksa diperpanjang hingga bulan April.

baca juga

Dong mengaku merasa hancur saat mendengar kabar Istana Golestan di Teheran mengalami kerusakan parah akibat serangan perang.

Dorongan Insting Melindungi Warisan Dunia

"Tetapi sekarang, tepat di depan mata saya, ada koleksi artefak Iran yang benar-benar luar biasa," ujar Dong Bibing dengan haru.

Interaksi pengunjung dengan benda-benda bersejarah tersebut menciptakan gerakan organik di media sosial untuk saling mengajak berkunjung.

Setiap sudut pameran menjadi ruang kontemplasi bagi masyarakat China tentang betapa rapuhnya sebuah peradaban di bawah bayang-bayang senjata.

Kurator merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga benda-benda tersebut agar tetap utuh bagi generasi mendatang.

Dong mengatakan kepada CNN: "Perang telah membuat saya merasakan dorongan ini – insting perlindungan ini – untuk menjaga dan melestarikan mereka sebaik mungkin."

Persamaan nasib sebagai bangsa dengan akar sejarah ribuan tahun menjadi pengikat emosional antara masyarakat China dan Iran.

Kedua negara memiliki kebanggaan besar terhadap silsilah peradaban kuno yang telah membentuk struktur sosial mereka hingga hari ini.

Situs Persepolis adalah bukti nyata kemajuan arsitektur kekaisaran Achaemenid yang tidak memiliki tandingan di dunia arkeologi internasional.

Namun, laporan kementerian warisan budaya menyebutkan lebih dari 130 situs sejarah telah hancur selama kampanye pengeboman berlangsung.

Meskipun AS dan Israel membantah sengaja menargetkan situs budaya, ancaman terhadap kehancuran peradaban Iran tetap menjadi ketakutan global.

Literasi Sejarah Sebagai Bentuk Perlawanan

Ketegangan diplomatik antara China dan Amerika Serikat turut memperkuat simpati publik domestik terhadap posisi sulit yang dihadapi Iran.

Toko buku di Beijing melaporkan lonjakan permintaan literatur tentang Iran yang sebelumnya hampir tidak pernah dilirik oleh pembeli.

Bahkan di lingkungan universitas, mahasiswa mulai mendalami alasan di balik ambisi militer Amerika Serikat terhadap negara Timur Tengah tersebut.

Novel grafis "Persepolis" karya Marjane Satrapi kini menjadi buruan utama di perpustakaan dan toko buku di seluruh wilayah Beijing.

Pustakawan bermarga Zhang mengatakan kepada CNN: "Lebih banyak siswa datang untuk memeriksa buku tentang Iran sejak bulan lalu, bahkan buku komik seperti 'Persepolis' diperiksa oleh lebih banyak pembaca setiap hari."

Bagi pekerja seperti Karen Yan, dokumenter arsitektur kuno Iran menjadi pelarian sekaligus cara memahami dampak ekonomi dari perang tersebut.

Keindahan geometris bangunan Persia dianggap memberikan ketenangan di tengah ketidakpastian data pasar keuangan global yang terdampak konflik.

Sentimen ini diperkuat oleh Echo Zhao yang merasa perlu berempati dengan penderitaan rakyat biasa melalui studi literatur sejarah.

Ia menilai adanya kesamaan fondasi peradaban dan sejarah penindasan yang membuat warga China merasa satu frekuensi dengan Iran.

Zhao menambahkan: "Jadi kami selalu memandang AS sebagai musuh – sama seperti Iran – dan dalam semua aspek propaganda kami, kami telah mengadopsi sikap anti-Amerika, memperlakukan AS sebagai musuh utama kami."

Dampak Logistik dan Masa Depan Energi

Ketertarikan publik juga didorong oleh kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi dan gangguan pada rantai pasok global.

Penerbit akademik seperti Gao Shan mulai meneliti kembali peran Iran sebagai titik krusial dalam jalur perdagangan sutra kuno.

Memahami geopolitik Iran dianggap sangat penting untuk memprediksi sejauh mana krisis ini akan menghantam cadangan bahan bakar di Asia Timur.

Gao menyatakan: "Tetapi sekarang saya ingin membaca untuk memahami bagaimana AS memulai perang dengan negara ini yang mungkin memengaruhi pasokan energi kami."

Kepala kurator Yin Quanbin berharap melalui seni, rakyat China bisa melihat sisi kemanusiaan yang lebih dalam dari masyarakat Iran.

"Saya percaya ini meningkatkan citra peradaban Iran dan negara itu sendiri, dan itu benar-benar memberi saya kepuasan besar," ungkap Yin Quanbin.

Ia menekankan bahwa pada dasarnya rakyat Iran memiliki emosi dan pandangan dunia yang serupa dengan masyarakat di belahan bumi lainnya.

Yin Quanbin mengatakan: "Mereka ingin melihat bahwa orang Iran adalah orang-orang seperti kita, bukan?"

"Mereka memiliki kegembiraan dan kesedihan mereka sendiri, perspektif mereka sendiri tentang dunia," lanjut Yin menjelaskan esensi pamerannya.

Pameran ini rencananya akan terus berlanjut ke kota-kota lain di China sebagai bagian dari tur nasional yang sangat dinanti.

Krisis ini bermula dari meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah yang melibatkan serangan udara ke wilayah kedaulatan Iran.

Insiden ini memicu kekhawatiran internasional setelah UNESCO melaporkan potensi kerusakan permanen pada situs warisan dunia yang tak tergantikan.

Di sisi lain, China yang memiliki hubungan strategis dengan Iran melihat situasi ini sebagai ancaman terhadap stabilitas energi global.

Hal ini memicu gelombang dukungan publik di China yang diwujudkan melalui peningkatan literasi dan apresiasi budaya terhadap sejarah Persia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Manuver Diam-diam Jepang demi Selat Hormuz, Hubungi Iran Minta Hal Ini

Manuver Diam-diam Jepang demi Selat Hormuz, Hubungi Iran Minta Hal Ini

News | Kamis, 16 April 2026 | 16:00 WIB

Iran Ancam Tutup Jalur Ekspor Impor Laut Merah, Hal Mengerikan Ini Bisa Terjadi

Iran Ancam Tutup Jalur Ekspor Impor Laut Merah, Hal Mengerikan Ini Bisa Terjadi

News | Kamis, 16 April 2026 | 15:32 WIB

Panas! Kapal Perusak Angkatan Laut AS Cegat Tanker Berbendera Iran yang Mau Menghindari Blokade

Panas! Kapal Perusak Angkatan Laut AS Cegat Tanker Berbendera Iran yang Mau Menghindari Blokade

News | Kamis, 16 April 2026 | 15:14 WIB

Terkini

Polemik Tunggakan PBB Rp2,33 Miliar Yayasan IGM Palembang, Ratu Dewa Singgung Evaluasi Data

Polemik Tunggakan PBB Rp2,33 Miliar Yayasan IGM Palembang, Ratu Dewa Singgung Evaluasi Data

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:16 WIB

Pembalut Dikenai PPN 11 Persen, Bu Tejo 'Tilik' Kritik Keras Pemerintah: Ora Duwe Utek!

Pembalut Dikenai PPN 11 Persen, Bu Tejo 'Tilik' Kritik Keras Pemerintah: Ora Duwe Utek!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak

Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak

Jawa Tengah | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:10 WIB

CASA Maybank Indonesia Tumbuh 16,7%, Rasio Dana Murah Capai 64,1%

CASA Maybank Indonesia Tumbuh 16,7%, Rasio Dana Murah Capai 64,1%

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:10 WIB

Masduki Sebut Ada Upaya Sistematis Alihkan Isu Evaluasi Pemerintah Lewat Framing Anarkisme

Masduki Sebut Ada Upaya Sistematis Alihkan Isu Evaluasi Pemerintah Lewat Framing Anarkisme

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:06 WIB

Cara Pakai Moisturizer Retinol Hanasui untuk Pudarkan Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas

Cara Pakai Moisturizer Retinol Hanasui untuk Pudarkan Flek Hitam di Usia 40 Tahun ke Atas

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:05 WIB

Sempat Syok! Siswa Sekolah Rakyat Korban Penganiayaan Kadet Unhan di Jember Mulai Bersekolah Lagi

Sempat Syok! Siswa Sekolah Rakyat Korban Penganiayaan Kadet Unhan di Jember Mulai Bersekolah Lagi

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:04 WIB

Mendag Buka Peluang Papua Jadi Hub Ekspor RI ke Pasifik

Mendag Buka Peluang Papua Jadi Hub Ekspor RI ke Pasifik

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:02 WIB

Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru

Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 19:00 WIB

Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z

Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 18:55 WIB

×