- Asosiasi AMDATARA berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dan praktik industri hijau yang berkelanjutan.
- Industri AMDK memberikan dampak ekonomi signifikan dengan menyerap 46 ribu tenaga kerja dan mencatatkan investasi Rp27,8 triliun.
- Komisi VII DPR RI meninjau pabrik di Klaten dan Bekasi guna memastikan implementasi keberlanjutan industri berjalan dengan positif.
Suara.com - Tekanan terhadap praktik industri yang lebih ramah lingkungan terus menguat, seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap dampak lingkungan. Di sisi lain, industri air minum dalam kemasan (AMDK) masih menghadapi kritik terkait eksploitasi sumber daya dan kontribusinya terhadap sampah plastik.
Di tengah situasi tersebut, Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Nusantara memperkuat kerja sama dengan pemerintah untuk menjawab tantangan industri ke depan, sekaligus mendorong penerapan prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.
Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, menegaskan bahwa industri AMDK berupaya menjadi bagian dari solusi lingkungan melalui penguatan praktik industri hijau.
“Kami ingin memberikan jawaban konkret bahwa industri ini merupakan leading untuk ekonomi sirkular dan keberlanjutan,” ujarnya dalam acara halal bihalal bersama pemerintah di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, pelaku industri terus mengintegrasikan praktik berkelanjutan dalam proses bisnis, termasuk mendorong dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar industri tetap adaptif sekaligus berkontribusi dalam transisi menuju ekonomi sirkular.

Selain itu, AMDATARA juga memperkuat komunikasi dengan DPR, khususnya Komisi VII DPR RI, untuk merespons persepsi publik yang kerap menilai industri AMDK sebagai sektor ekstraktif. Karyanto berharap, komunikasi ini dapat memperbaiki pandangan masyarakat terhadap kontribusi industri.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mengapresiasi kontribusi industri AMDK terhadap perekonomian nasional. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merijanti Punguan Pintaria, menyebut sektor ini telah menyerap lebih dari 46 ribu tenaga kerja dengan nilai investasi mencapai Rp27,8 triliun.
Ia menambahkan, industri AMDK juga memiliki efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi, meski masih menghadapi tantangan persepsi publik. Karena itu, pelaku usaha didorong untuk lebih transparan dan aktif mendokumentasikan praktik keberlanjutan yang telah dilakukan.
Sebelumnya, Panja AMDK Komisi VII DPR RI juga melakukan kunjungan ke sejumlah pabrik di Klaten dan Kabupaten Bekasi untuk meninjau langsung implementasi prinsip keberlanjutan. Hasilnya, praktik yang telah berjalan dinilai positif dan diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di seluruh industri.