-
Agresi militer Israel di Lebanon menyebabkan lebih dari 2.000 warga sipil tewas dalam enam minggu.
-
Fasilitas kesehatan utama di Beirut terancam lumpuh akibat blokade logistik dan zona evakuasi paksa.
-
Seperlima populasi Lebanon mengungsi akibat penghancuran sistematis pemukiman dan infrastruktur jalan oleh Israel.
Di antara korban tewas tersebut, tercatat sedikitnya 172 anak-anak dan 91 petugas medis yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.
Rumah Sakit Umum Makassed di Beirut juga mulai kehabisan stok obat-obatan esensial akibat blokade dan tingginya arus pasien luka.
Manajer Umum Rumah Sakit Makassed, Joumana Najjar, menyatakan kesiapan personelnya namun sangat mengkhawatirkan ketersediaan logistik medis.
“Jika perang berlanjut, secara fisik kami ada di sini; kami siap. Dokter kami siap; staf kami siap. Tetapi kami memiliki kapasitas terbatas dalam hal persediaan, dalam hal pengobatan. Saya tidak tahu berapa lama perang akan berlangsung dan berapa lama kami dapat mempertahankan perang seperti itu,” kata Joumana Najjar.
Ketidakpastian ini diperparah dengan trauma mendalam yang dialami pasien anak-anak yang harus bersembunyi dari suara ledakan setiap malam.
“Kita harus selalu khawatir dengan Israel. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kita melihat apa yang mereka lakukan di Gaza,” tambah Joumana Najjar.
Lumpuhnya Jalur Transportasi dan Isolasi Wilayah
Militer Israel secara sistematis menghancurkan jembatan-jembatan vital yang menghubungkan wilayah selatan dengan pusat pemerintahan di Beirut.
Langkah ini mengisolasi ribuan warga dan memutus jalur distribusi bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh para pengungsi.
Lebih dari satu juta orang, atau sekitar seperlima populasi Lebanon, terpaksa meninggalkan rumah mereka demi mencari keselamatan yang tidak pasti.
Kondisi di kamp-kamp pengungsian sangat memprihatinkan dengan fasilitas sanitasi yang minim dan keterbatasan ruang gerak bagi warga lansia.
Abu Mohamed, seorang pengungsi berusia 85 tahun, menceritakan kepedihannya kehilangan tempat tinggal yang telah dihuni selama puluhan tahun.
“Situasi kami sangat suram. Kami pergi bahkan tanpa membawa pakaian; kami tidak bisa membawa apa-apa. Mereka menyuruh kami berlindung di sini, dan kami telah berada di sini di tenda-tenda ini sejak saat itu,” tutur Abu Mohamed.
Meskipun menderita, ia menyatakan dukungan moral yang kuat terhadap pihak-pihak yang menjaga kedaulatan tanah air mereka dari pendudukan.
“Kami kehilangan rumah. Jika kami kembali, kami harus membawa tenda kami. Tidak ada yang tersisa,” pungkas Abu Mohamed.
Pemerintah Lebanon melalui Kementerian Urusan Sosial berupaya memindahkan pengungsi dari tenda jalanan ke fasilitas yang lebih layak namun menghadapi penolakan.
Menteri Urusan Sosial, Hanin Sayyed, menjelaskan bahwa banyak warga yang menolak pindah karena masih berharap bisa segera kembali ke kampung halaman.
“Masalahnya adalah banyak dari mereka tidak mau pergi. Mereka ingin pulang, dan itu bisa dimengerti,” jelas Hanin Sayyed.
Ia mengakui sulit memberikan kenyataan pahit kepada warga bahwa rumah-rumah mereka di wilayah selatan mungkin sudah tidak ada lagi.
“Mereka masih memiliki harapan bahwa besok, mereka akan dapat kembali ke rumah mereka di Dahiyeh atau di selatan. Sulit bagi saya untuk memberi tahu mereka bahwa saya pikir itu tidak akan terjadi,” tambah Hanin Sayyed.
Di kota Tyre, warga dari berbagai latar belakang agama memilih untuk tetap bertahan dan saling menguatkan di tengah bayang-bayang jet tempur.
Marwan al-Jouni, seorang penduduk lokal, menegaskan solidaritas antarwarga adalah kunci untuk menghadapi tekanan militer yang kian meningkat.
“Kami berdiri berpegangan tangan dan saling mendukung. Kami berdiri berdampingan agar kami tidak merasa takut,” ungkap Marwan al-Jouni.
Ia berkomitmen untuk tidak meninggalkan tanah kelahirannya meskipun ancaman bahaya mengintai setiap detik dari udara maupun laut.
“Selama masa-masa sulit ini, kami tidak akan meninggalkan tanah kami. Kami akan tetap tegar. Bahkan melalui semua tekanan dan semua kesulitan yang kami hadapi, kami akan tetap berdiri di sini,” tutupnya.
Konflik ini merupakan kelanjutan dari ketegangan panjang antara militer Israel dan kelompok Hezbollah yang berbasis di Lebanon Selatan.
Serangan terbaru ini dipicu oleh eskalasi lintas batas yang meningkat sejak dimulainya perang Israel di Gaza, yang kemudian meluas menjadi serangan udara besar-besaran di pusat kota Beirut.
Israel berdalih serangannya menyasar infrastruktur militer, namun data lapangan menunjukkan kehancuran masif pada sektor sipil dan fasilitas publik Lebanon.