Studi: Model Iklim Meleset, Laut Selatan Memanas Lebih Cepat

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 22 April 2026 | 10:50 WIB
Studi: Model Iklim Meleset, Laut Selatan Memanas Lebih Cepat
Ilustrasi laut siang hari, ombak tenang, burung camar terbang rendah, pantai berpasir (Freepik)

Suara.com - Perubahan iklim menurut model-model ilmiah diprediksi akan menyebabkan lautan di belahan Bumi Utara menghangat lebih cepat daripada lautan di belahan Bumi Selatan.

Namun, penelitian terbaru dari Northeastern University menyoroti adanya kesenjangan antara prediksi model iklim konvensional dengan data observasi laut aktual selama 70 tahun terakhir.

Dikutip dari Phys.org, temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications ini memberikan perincian bagaimana model iklim saat ini cenderung memberikan perkiraan yang berbeda dibandingkan dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Kesenjangan Antara Pemodelan dan Observasi

Argumen bahwa belahan Bumi Utara akan lebih cepat mengalami pemanasan ini berasal dari asumsi bahwa daratan di belahan Bumi Utara lebih luas daripada belahan Bumi Selatan, dan daratan cenderung menghangat lebih cepat daripada air.

Kenyataannya, lautan di belahan Bumi Selatan tercatat mengalami pemanasan lebih cepat. Menurut assistant professor of marine and environmental sciences di Northeastern, Chengfei He, perbedaan ini muncul karena model iklim cenderung terlalu sensitif terhadap keberadaan gas rumah kaca. Ia mengungkapkan hal ini akan mengakibatkan tekanan berlebih pada umpan balik variabel seperti kecepatan angin, suhu air laut, dan penguapan yang berdampak pada cuaca tropis.

Batasan Penggunaan Rata-Rata Global

Model iklim konvensional umumnya sejalan dengan hasil pemantauan suhu laut aktual yang dilakukan oleh para ilmuan. Ini mengandalkan ukuran suhu permukaan rata-rata global untuk menilai dampak perubahan iklim. Namun, meskipun metrik ini konsisten dalam melacak kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,5°C sejak awal abad ke-20, metrik ini juga masih memiliki keterbatasan dalam konteks regional.

Chengfei He menekankan pentingnya penggunaan kontras suhu antarbelahan bumi, yakni perbedaan suhu permukaan laut rata-rata antara belahan bumi Utara dan Selatan. Dengan menggunakan indikator ini, perbedaan laju pemanasan yang tidak tertangkap oleh rata-rata global menjadi terlihat jelas. Inilah yang mengonfirmasi bahwa lautan di belahan Bumi Selatan memanas lebih cepat daripada belahan Bumi Utara.

Dinamika Umpan Balik Angin Pasat

Chengfei He menyebutkan bahwa hal ini sangat rumit karena perbedaan laju pemanasan memiliki kaitan dengan mekanisme umpan balik yang melibatkan angin pasat di daerah tropis. Angin ini bergerak dari timur dan melengkung menuju khatulistiwa.

Proses yang terjadi adalah perbedaan suhu antara lautan yang menghangat dan udara di atasnya memengaruhi kekuatan angin. Lalu, angin yang lebih kuat meningkatkan penguapan uap air dari laut ke atmosfer. Proses penguapan ini dapat mendinginkan permukaan laut. Pada akhirnya, permukaan laut yang dingin kemudian meningkatkan kecepatan angin permukaan, hingga kembali memicu penguapan lebih lanjut.

Penelitian ini menemukan bahwa gas rumah kaca tidak memperkuat siklus umpan balik ini sekuat yang diprediksi oleh model konvensional. Akibatnya, pelemahan angin pasat yang diprediksi akan terjadi di belahan Bumi Utara dan memicu suhu laut lebih hangat di utara, tidak terjadi sesuai dengan simulasi model.

Dampak terhadap Distribusi Curah Hujan

Perubahan dinamika ini secara langsung memengaruhi posisi sabuk hujan tropis, yaitu wilayah sepanjang khatulistiwa sebagai tempat bertemunya angin pasat dan uap air.

Karena pemanasan laut tidak berjalan sesuai model, sabuk hujan tropis tersebut mendarat di posisi yang berbeda dari prediksi awal. Sabuk ini cenderung bergerak lebih ke selatan daripada yang diperkirakan oleh model iklim konvensional. Bagi daerah yang berada di tepi utara, sabuk hujan tropis saat ini berisiko menerima curah hujan lebih sedikit, yang berkaitan dengan potensi peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan di masa depan. Di Selatan, daerah yang berada tepat di luar tepi sabuk hujan tersebut berpotensi menerima curah hujan yang lebih tinggi.

“Sabuk hujan tropis, badai, kekeringan, kebakaran hutan, semuanya saling terkait,” kata Chengfei He.

Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan akurasi proyeksi iklim di masa depan, model harus lebih efektif dalam mengintegrasikan kontras suhu antarbelahan bumi guna memperbaiki prediksi terhadap cuaca tropis, termasuk perilaku badai dan pola kekeringan.

"Kita harus memperbaikinya agar dapat memprediksi iklim tropis dengan lebih baik," tambahnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ancaman El Nino di Depan Mata, Pramono Siapkan Jurus Jaga Stok Beras hingga Daging

Ancaman El Nino di Depan Mata, Pramono Siapkan Jurus Jaga Stok Beras hingga Daging

News | Jum'at, 17 April 2026 | 15:20 WIB

Bukan Hanya Hutan, Blue Carbon Jadi Kunci Baru Redam Krisis Iklim: Seberapa Efektif?

Bukan Hanya Hutan, Blue Carbon Jadi Kunci Baru Redam Krisis Iklim: Seberapa Efektif?

News | Kamis, 16 April 2026 | 12:15 WIB

Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya

Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya

Your Say | Jum'at, 10 April 2026 | 15:55 WIB

Terkini

Heroik! Niat Bantu Warga, Petugas Damkar Malah Tertimpa Gedung dan Harus Jalani CT Scan

Heroik! Niat Bantu Warga, Petugas Damkar Malah Tertimpa Gedung dan Harus Jalani CT Scan

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 14:45 WIB

Tolak Tawaran Masuk Pemerintahan Prabowo, Andi Gani: Saya Pilih Jadi Presiden Buruh

Tolak Tawaran Masuk Pemerintahan Prabowo, Andi Gani: Saya Pilih Jadi Presiden Buruh

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 14:06 WIB

Transisi Energi di Laut Janjikan Masa Depan Hijau, Tapi Bagaimana Nasib Masyarakat Pesisir?

Transisi Energi di Laut Janjikan Masa Depan Hijau, Tapi Bagaimana Nasib Masyarakat Pesisir?

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 14:00 WIB

Waspada Badai PHK! Pemerintah Gelar Rapat Khusus Pekan Depan

Waspada Badai PHK! Pemerintah Gelar Rapat Khusus Pekan Depan

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:44 WIB

Jaga Jarak Etik! Satgas PKH Harus Hindari Celah Konflik Kepentingan Dalam Penertiban

Jaga Jarak Etik! Satgas PKH Harus Hindari Celah Konflik Kepentingan Dalam Penertiban

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:34 WIB

Kenaikan Permukaan Laut Ancam Kemampuan Mangrove Menyimpan Karbon

Kenaikan Permukaan Laut Ancam Kemampuan Mangrove Menyimpan Karbon

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:29 WIB

Prabowo: Jangan Takut Dihina, Saya Jadi Presiden pun Masih Sering Diejek!

Prabowo: Jangan Takut Dihina, Saya Jadi Presiden pun Masih Sering Diejek!

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:16 WIB

Krisis Iklim Bikin Ruang Kelas Makin Panas: Ngaruh ke Konsentrasi Siswa?

Krisis Iklim Bikin Ruang Kelas Makin Panas: Ngaruh ke Konsentrasi Siswa?

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:12 WIB

Markas Love Scamming di Semarang Digerebek! 604 HP Disita, 4 WN China dan 2 WNI Ditangkap

Markas Love Scamming di Semarang Digerebek! 604 HP Disita, 4 WN China dan 2 WNI Ditangkap

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 13:01 WIB

Susul Jumhur Hidayat, Said Iqbal Dilantik Jadi Penasihat Prabowo Besok Senin!

Susul Jumhur Hidayat, Said Iqbal Dilantik Jadi Penasihat Prabowo Besok Senin!

News | Minggu, 07 Juni 2026 | 12:44 WIB