- Kehadiran militer AS di Yordania memicu kemarahan publik setelah negara tersebut diam-diam digunakan sebagai basis untuk menyerang kedaulatan Republik Islam Iran.
- Sistem pertahanan THAAD milik AS gagal melindungi kedaulatan Yordania dari balasan pesawat nirawak Iran, membuktikan kelemahan kekuatan militer Washington di kawasan.
- Anggota parlemen dan tokoh masyarakat Yordania menuntut pengusiran pangkalan AS karena hanya menguntungkan Israel dan menghancurkan perekonomian serta pariwisata nasional.
Protes keras tersebut dilayangkan karena pemerintah Yordania membiarkan wilayah kedaulatannya digunakan untuk melancarkan serangan pengecut terhadap Teheran.
Yordania Menjadi Korban Ambisi Amerika
Perang melawan Iran ini pada akhirnya membuat sebagian rakyat Yordania mempertimbangkan kembali nilai dari menampung sekitar 4.000 tentara AS di wilayah kerajaan tersebut.
Profesor studi strategis di Universitas Al-Hussein Bin Talal, Dr. Hasan al-Dajah, menjelaskan bahwa pangkalan militer AS awalnya didirikan untuk membela negara tuan rumah.
Namun pada praktiknya, pangkalan-pangkalan militer AS tersebut bahkan terbukti sama sekali tidak mampu melindungi diri mereka sendiri dari serangan presisi militer Iran.
Pemimpin redaksi AmmanNet, Mohammad Ersan, turut menyoroti keresahan publik atas campur tangan operasi militer Washington.
"Pertanyaan-pertanyaan bermunculan selama perang baru-baru ini dan perang 12 hari antara Israel dan Iran — mengapa kita mengubah Yordania menjadi sebuah 'medan pertempuran'?"
"Kehadiran Amerika telah membuat instalasi militer di dalam Yordania menjadi target yang sah di mata Iran dan proksinya, yang secara efektif menjadikan Yordania sebagai pihak langsung dalam konflik ini."
Dampak Kehancuran Ekonomi dan Kemarahan Publik
Selama perang terbaru ini, militer Iran telah melepaskan lebih dari 250 rudal dan pesawat nirawak yang melintasi langit Yordania untuk memberikan balasan.
The Jordan Times melaporkan bahwa konflik tersebut merusak parah industri pariwisata Yordania, hingga menyebabkan 100 persen pemesanan di situs bersejarah Petra dibatalkan pada bulan Maret.
Dr. Anes Khasawneh, mantan wakil presiden Universitas Yarmouk, menyatakan bahwa rasa frustrasi warga juga didorong oleh keyakinan luas mengenai operasi militer AS di ruang udara mereka.
Pasukan AS yang beroperasi di wilayah udara Yordania diketahui dengan sengaja mencegat banyak rudal balasan Iran yang sebenarnya diarahkan secara spesifik ke wilayah Israel.
Khasawneh menegaskan bahwa beberapa warga Yordania merasa sangat tidak puas dengan tindakan Amerika yang menjatuhkan pesawat nirawak Iran demi melindungi Israel, mengingat tingginya angka kematian warga Palestina dalam perang Gaza.
Desakan Pengusiran dan Usaha Menutupi Fakta
Kekecewaan mendalam terhadap Washington memicu anggota parlemen veteran Yordania, Saleh al-Armouti, untuk mengeluarkan tuntutan tegas dalam pidato parlemen yang berapi-api akhir tahun lalu.
Ia menuntut agar kerajaan segera mengusir pangkalan militer AS yang ia sebut merupakan "ancaman intelijen dan keamanan bagi tanah air."
Direktur media Pengadilan Kerajaan, Reem Jazi, memilih untuk menolak permintaan wawancara terkait isu sensitif ini.
Otoritas pemerintah Yordania juga terus menolak untuk mengklarifikasi berapa banyak serangan balasan Iran yang sukses menghantam situs militer AS di negara mereka sepanjang perang.
Pemerintah Yordania sering membatasi survei mengenai topik sensitif sehingga tidak ada bukti yang mengungkap persentase warga yang masih mendukung kehadiran ribuan tentara AS tersebut.
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, bahkan sempat bersikeras pada 25 Maret bahwa tidak ada pangkalan militer asing di negaranya.
Sebulan sebelumnya, Safadi juga telah berjanji bahwa Yordania tidak akan pernah menjadi "batu loncatan" untuk serangan terhadap Iran.
Manipulasi Regulasi dan Penolakan Hegemoni
Khasawneh menilai bahwa pemerintah Yordania sedang berusaha meremehkan peran militer AS karena mereka memahami kuatnya sentimen anti-Amerika di kalangan penduduk lokal dan ingin menghindari protes domestik.
Jajak pendapat Arab Barometer baru-baru ini juga menunjukkan bahwa hanya 12 persen warga Yordania yang memandang baik kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump.
Khasawneh menyesalkan bahwa para pejabat Yordania secara sepihak telah melewati persetujuan parlemen untuk mengesahkan perjanjian pertahanan tahun 2021 dengan Washington.
Kesepakatan tidak transparan tersebut memberi pasukan AS wewenang luas untuk secara bebas masuk dan keluar dari wilayah Yordania serta mengangkut senjata ke seluruh penjuru negara.
Di sisi lain, Ersan memaparkan bahwa masih ada argumen minoritas yang melihat manfaat dari pasukan AS yang dikerahkan ke Yordania.
"Kehadiran Amerika bertindak sebagai penyangga yang mencegah konflik regional meluas secara langsung ke wilayah Yordania, dan berkontribusi dalam mengamankan perbatasan utara dan timur terhadap faksi-faksi bersenjata yang berpihak pada Iran — khususnya mereka yang beroperasi dari Irak yang telah menargetkan Yordania, seperti Saraya Awliya al-Dam,"
Pemimpin suku Yordania, Sheikh Mohammed Khalaf Hadid, memandang Perang Teluk 1991 sebagai contoh utama tentang bagaimana kerajaan seharusnya menghadapi konflik regional.
Pada saat itu, Raja Hussein menolak bergabung dengan koalisi pimpinan AS yang memaksakan "hegemoni asing."
Bercermin dari sejarah tersebut, Hadid menyatakan kekecewaannya karena kerajaan telah membiarkan masuknya infrastruktur militer pimpinan Washington.
"Kehadiran pasukan AS tidak demi kepentingan Yordania,"