Selain kekerasan langsung dari pertempuran berkelanjutan, Dujarric menyoroti ancaman serius lain yang menambah krisis kemanusiaan yakni sisa-sisa perang berupa bom dan muatan eksplosif yang belum meledak tersebar di seluruh wilayah Gaza.
Pihak-pihak yang bekerja pada program de-mining dan pembersihan ranjau telah menjalankan sesi edukasi keselamatan untuk puluhan ribu warga sipil tentang bahaya sisa-sisa perang ini. Namun, upaya ini terhambat oleh pembatasan akses yang ketat.
PBB menekankan bahwa mengatasi ancaman ini secara efektif memerlukan masuknya peralatan khusus dan seperangkat lengkap kegiatan pembersihan serta pemusnahan bom.
Pembatasan yang berlaku termasuk keterbatasan pada entri peralatan yang diperlukan untuk membuang amunisi eksplosif terus menghambat respons kemanusiaan secara keseluruhan.
"Upaya untuk mengatasi ancaman munisi yang belum meledak lebih efektif membutuhkan akses masuk peralatan khusus dan serangkaian aktivitas pembersihan yang komprehensif," jelas Dujarric dalam rinciannya.
Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Berlanjut
![Israel dan AS turut mengebom SD khusus perempuan di Minab, sebuah kota di provinsi Hormozgan, Iran selatan, dalam serangan Sabtu (28/2/2026). [IRNA/Al Jazeera]](https://media.arkadia.me/v2/articles/triasrohmadoni/jVxkOjpJk2rkpBktw11iP5p9AWEkEVS9.png)
Data dari Gaza Media Office mengungkapkan bahwa sejak perjanjian gencatan senjata ditandatangani, telah terjadi 2.400 pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan Israel.
Pelanggaran ini mencakup pembunuhan, penangkapan sewenang-wenang, blokade pasokan, dan tindakan yang menyebabkan kekurangan pangan bagi penduduk sipil.
Dampak nyata dari setiap pelanggaran ini tercermin dalam data Kementerian Kesehatan Gaza. Hingga hari Senin terakhir, pelanggaran-pelanggaran tersebut telah mengakibatkan kematian 777 warga Palestina dan luka-luka pada 2.193 orang lainnya.
Jumlah ini terus bertambah seiring berjalannya waktu, menunjukkan bahwa gencatan senjata yang semestinya membawa ketenangan justru menjadi perpanjangan dari peperangan dengan intensitas yang fluktuatif namun tetap membunuh dan melukai.
Kekerasan Meluas ke Tepi Barat yang Diduduki
Laporan PBB tidak hanya fokus pada Gaza. Mereka juga mencatat pola mengkhawatirkan dari kekerasan Israel di Tepi Barat yang diduduki, daerah lain yang menjadi bagian dari konflik Palestina-Israel yang lebih luas.
Data dari Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menunjukkan bahwa selama kuartal pertama tahun 2026, sebanyak 33 warga Palestina telah tewas dan 790 orang lainnya terluka oleh tangan pasukan Israel atau penggemar bersenjata Israel.
Dalam periode yang sama, lebih dari 540 serangan yang dilakukan oleh para penggemar Israel menyebabkan korban jiwa atau kerusakan properti.
Desakan Pertanggungjawaban Internasional
Dalam pernyataannya, Dujarric menekankan komitmen PBB terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Dia menegaskan bahwa setiap serangan yang menyasar penduduk sipil harus diselidiki secara menyeluruh, dan penduduk sipil harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan.