Ukraina Tuduh Israel Bantu Perdagangan Gandum Curian Rusia

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 10:36 WIB
Ukraina Tuduh Israel Bantu Perdagangan Gandum Curian Rusia
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (YouTube/Office of the Presidenr of Ukraine)
  • Zelensky menuduh Israel sengaja menampung gandum hasil jarahan Rusia di pelabuhan domestik.

  • Israel membantah tuduhan tersebut dan menuntut bukti hukum yang kuat dari pihak Ukraina.

  • Uni Eropa mengancam sanksi bagi entitas yang memfasilitasi perdagangan ilegal hasil perang Rusia.

Suara.com - Ketegangan antara Kyiv dan Tel Aviv mencapai titik didih baru akibat arus logistik ilegal.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kini menyoroti aktivitas pelabuhan Israel yang diduga menerima komoditas jarahan Rusia.

Dikutip dari CNN, tuduhan ini muncul setelah kapal Panormitis terdeteksi membawa gandum dari wilayah pendudukan menuju Tel Aviv.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (x.com)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (x.com)

Zelensky menegaskan bahwa membiarkan kapal tersebut bersandar adalah bentuk dukungan terhadap tindakan kriminal perang.

Pemerintah Ukraina mengancam akan menjatuhkan sanksi bagi setiap pihak yang terlibat dalam rantai pasokan ini.

“Di negara normal mana pun, membeli barang curian adalah tindakan yang membawa tanggung jawab hukum. Ini berlaku, khususnya, untuk gandum yang dicuri oleh Rusia,” tulis Zelensky di platform X.

Ilustrasi gandum utuh (Pixabay.com/NatureFriend)
Ilustrasi gandum utuh (Pixabay.com/NatureFriend)

Kyiv mengeklaim bahwa otoritas pelabuhan Israel mustahil tidak mengetahui asal-usul muatan kapal yang masuk.

“Ini bukan – dan tidak bisa menjadi – bisnis yang sah. Otoritas Israel tidak mungkin tidak menyadari kapal mana yang tiba di pelabuhan negara itu dan kargo apa yang mereka bawa,” tegas Zelensky.

Pihak Ukraina memandang masuknya gandum ini sebagai upaya Moskow mendanai invasi militer secara ilegal.

Isu ini telah mengganggu stabilitas hubungan bilateral yang sebelumnya sudah dalam kondisi yang sangat rapuh.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, segera merespons tudingan tersebut dengan nada yang cukup keras.

Saar menuduh Ukraina hanya melakukan "diplomasi Twitter" tanpa memberikan bukti dokumen yang kuat di lapangan.

Ia menegaskan bahwa kapal Panormitis yang dimaksud saat ini masih berada di perairan lepas pantai.

Otoritas pajak Israel dikabarkan tengah melakukan pemeriksaan mendalam terhadap dokumen legalitas muatan kapal tersebut.

Israel berdalih tidak bisa menyita kapal tanpa proses hukum internasional yang sesuai dengan protokol berlaku.

Laporan investigasi media Haaretz mengungkap bahwa skandal ini bukan pertama kalinya terjadi di pelabuhan Israel.

Setidaknya terdapat empat pengiriman gandum ilegal Rusia yang berhasil bersandar di pelabuhan Israel tahun ini.

Data menunjukkan praktik serupa telah berlangsung sejak 2023 dengan total pengiriman mencapai lebih dari 30 kali.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, langsung memanggil Duta Besar Israel di Kyiv untuk memprotes keras.

Kyiv merasa Israel tidak merespons peringatan diplomatik yang telah disampaikan melalui saluran rahasia selama ini.

Uni Eropa kini ikut memantau perkembangan kasus ini dan meminta klarifikasi resmi dari otoritas Israel.

Eropa memperingatkan bahwa mereka siap menjatuhkan sanksi kepada entitas di negara ketiga yang membantu Rusia.

“Kami mengutuk semua tindakan yang membantu mendanai upaya perang ilegal Rusia dan menghindari sanksi Uni Eropa dan tetap siap untuk menargetkan tindakan tersebut dengan mencantumkan individu dan entitas di negara ketiga jika diperlukan,” ujar juru bicara Uni Eropa.

Langkah ini diambil untuk menutup celah penyelundupan hasil bumi Ukraina yang dijual ke pasar global.

Ukraina mengeklaim memiliki bukti adanya praktik sistematis dalam memfasilitasi aktivitas ekonomi ilegal Rusia.

Sejak invasi besar-besaran dimulai empat tahun lalu, Rusia secara konsisten dituduh menjarah sumber daya pertanian Ukraina.

Hubungan Israel dan Ukraina terus menegang karena Israel enggan mengirimkan bantuan senjata militer kepada Kyiv.

Tel Aviv memilih tetap menjaga hubungan dengan Moskow demi kepentingan keamanan mereka di kawasan Timur Tengah.

Ukraina kini mulai memposisikan diri sebagai penyedia teknologi pertahanan bagi rival-rival Rusia di berbagai wilayah.

Di sisi lain, bantuan kemanusiaan non-letal menjadi batas maksimal yang diberikan Israel kepada Ukraina sejauh ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:46 WIB

Kapal Mewah Rp8 T Milik Taipan Rusia Tembus Blokade Hormuz, AS Gak Berani Nyerang

Kapal Mewah Rp8 T Milik Taipan Rusia Tembus Blokade Hormuz, AS Gak Berani Nyerang

News | Selasa, 28 April 2026 | 07:24 WIB

Menlu Iran Abbas Araghchi ke Rusia di Tengah Negosiasi Buntu Teheran-Washington

Menlu Iran Abbas Araghchi ke Rusia di Tengah Negosiasi Buntu Teheran-Washington

News | Senin, 27 April 2026 | 11:58 WIB

Terkini

Donald Trump Minta Israel Jangan Asal Bom Lebanon, Serangan Harus Tepat Sasaran

Donald Trump Minta Israel Jangan Asal Bom Lebanon, Serangan Harus Tepat Sasaran

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:58 WIB

Apresiasi Praja IPDN, Wamendagri Bima: Latih Kepemimpinan Atasi Dinamika Pemerintahan

Apresiasi Praja IPDN, Wamendagri Bima: Latih Kepemimpinan Atasi Dinamika Pemerintahan

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:47 WIB

Kebakaran Apartemen Mediterania Diduga karena Korsleting Listrik, 5 Penghuni Dievakuasi ke RS

Kebakaran Apartemen Mediterania Diduga karena Korsleting Listrik, 5 Penghuni Dievakuasi ke RS

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:47 WIB

Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Plus Minusnya?

Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Plus Minusnya?

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:41 WIB

DPRD DKI: Jakarta Mimpi Jadi Kota Global Tapi Anak Putus Sekolah Masih Banyak

DPRD DKI: Jakarta Mimpi Jadi Kota Global Tapi Anak Putus Sekolah Masih Banyak

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:35 WIB

Indonesia Berpotensi Ciptakan 10 Juta Green Jobs, Surya dan Air Jadi Kontributor Utama

Indonesia Berpotensi Ciptakan 10 Juta Green Jobs, Surya dan Air Jadi Kontributor Utama

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:30 WIB

Babak Baru Blokade Selat Hormuz, Donald Trump Pilih Jalur Isolasi Maritim Total

Babak Baru Blokade Selat Hormuz, Donald Trump Pilih Jalur Isolasi Maritim Total

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:28 WIB

Riset Koaksi Ungkap Paradoks Green Jobs di Indonesia: Mengapa Lulusan Formal Sulit Direkrut?

Riset Koaksi Ungkap Paradoks Green Jobs di Indonesia: Mengapa Lulusan Formal Sulit Direkrut?

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:25 WIB

Sinyal 'Baju Kuning' di Kebakaran Apartemen Mediterania, Penghuni dan Bayi Terjebak Asap

Sinyal 'Baju Kuning' di Kebakaran Apartemen Mediterania, Penghuni dan Bayi Terjebak Asap

News | Kamis, 30 April 2026 | 12:22 WIB

Wamendagri Wiyagus Apresiasi Peran Strategis Damkar, Satpol PP, dan Linmas Jaga Stabilitas Daerah

Wamendagri Wiyagus Apresiasi Peran Strategis Damkar, Satpol PP, dan Linmas Jaga Stabilitas Daerah

News | Kamis, 30 April 2026 | 11:59 WIB