-
Sambaran petir menewaskan 14 orang di Bangladesh termasuk seorang anak berusia sepuluh tahun.
-
Deforestasi menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian akibat hilangnya pelindung alami pohon tinggi.
-
Sebagian besar korban merupakan petani yang sedang bekerja di area terbuka tanpa perlindungan.
Suara.com - Gelombang sambaran petir yang mematikan baru saja merenggut nyawa sedikitnya 14 orang di berbagai wilayah Bangladesh.
Fenomena mematikan ini bukan sekadar faktor alam murni melainkan dampak nyata dari penggundulan hutan secara masif.
Dikutip dari Skynews, ketiadaan pohon-pohon tinggi di area terbuka membuat tubuh manusia menjadi titik tertinggi yang rentan disambar muatan listrik.

Seorang bocah berusia sepuluh tahun menjadi salah satu korban tragis yang kehilangan nyawa saat berada di luar rumah.
Angka kematian ini menyoroti betapa rentannya penduduk di pedesaan terhadap perubahan lanskap lingkungan yang tidak terkendali.
Mayoritas korban yang tewas merupakan para petani dan buruh lapangan yang sedang beraktivitas di area terbuka.
Kondisi lapangan yang gundul tanpa vegetasi pelindung membuat mereka tidak memiliki tempat berlindung saat badai tiba.
Media lokal mengabarkan bahwa anak laki-laki tersebut tewas bersama dua orang lainnya akibat satu sambaran tunggal.
![Ilustrasi petir dan angin kencang. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/29/63008-ilustrasi-petir-dan-angin-kencang-ist.jpg)
Hujan deras dan badai intens yang melanda ibu kota Dhaka hingga pelosok desa memperparah situasi keselamatan warga.
Beberapa warga lainnya dilaporkan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit akibat luka bakar yang parah.
Pakar lingkungan menegaskan bahwa hilangnya pohon-pohon besar telah menghilangkan konduktor alami yang menjauhkan petir dari manusia.
Tanpa adanya pohon tinggi, petir akan langsung menyasar objek apa pun yang berada di permukaan tanah yang lapang.
Deforestasi telah mengubah peta risiko bencana di negara tersebut menjadi jauh lebih berbahaya bagi masyarakat sipil.
Perubahan iklim yang diikuti dengan kelembapan tinggi menciptakan ketidakstabilan cuaca yang memicu munculnya petir dalam jumlah banyak.
Pemerintah terus memantau situasi medis para korban luka yang saat ini sedang berjuang melewati masa kritis.
Risiko kematian akibat sambaran petir biasanya melonjak tajam pada bulan April hingga Juni setiap tahunnya.
Masa pra-monon ini ditandai dengan suhu panas yang ekstrem dan tingkat kelembapan yang memicu badai hebat.
Meskipun petir adalah fenomena alami, namun frekuensi korban jiwa di Bangladesh dianggap sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.
Ratusan nyawa melayang setiap tahunnya di negara ini hanya karena fenomena listrik statis dari awan tersebut.
Masyarakat diimbau untuk segera mencari bangunan permanen dan menghindari area terbuka saat langit mulai terlihat mendung.
Pemerintah Bangladesh secara resmi menetapkan sambaran petir sebagai bencana alam nasional pada tahun 2016 yang lalu.
Keputusan ini diambil setelah sebuah tragedi besar pada bulan Mei tahun itu menelan korban hingga 200 jiwa.
Bahkan dalam satu hari yang sama di tahun 2016, tercatat sebanyak 82 orang tewas akibat serangan petir.
Hingga saat ini, belum ada solusi struktural yang efektif selain upaya penanaman kembali pohon-pohon berbatang tinggi.