Selly Gantina Soroti Temuan 11 Bayi di Sleman, Minta Negara Utamakan Perlindungan Anak

Bella, Bagaskara Isdiansyah

Senin, 11 Mei 2026 | 19:21 WIB
Selly Gantina Soroti Temuan 11 Bayi di Sleman, Minta Negara Utamakan Perlindungan Anak
Lokasi penitipan belasan bayi di Padukuhan Randu, Dusun Wonokerso, Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Senin (11/5/2026). [Suara.com/Hiskia]
  • Anggota DPR Selly Andriany meminta negara memprioritaskan keselamatan serta pemenuhan hak dasar sebelas bayi yang ditemukan di Sleman.
  • Penemuan sebelas bayi di Pakem menunjukkan sistem pengawasan sosial pemerintah daerah belum berjalan optimal dalam melakukan deteksi dini.
  • Pemerintah didorong menggunakan pendekatan sosial dan kemanusiaan untuk menangani penampungan bayi dari orang tua yang tidak terikat pernikahan.

Suara.com - Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Selly Andriany Gantina, memberikan respons mendalam terkait temuan 11 bayi yang dititipkan di sebuah rumah di wilayah Pakem, Kabupaten Sleman.

Ia menekankan bahwa penanganan kasus ini harus mengutamakan keselamatan dan masa depan anak-anak tersebut di atas segala latar belakang kelahirannya.

Selly mengingatkan semua pihak untuk fokus pada pemenuhan hak-hak dasar para bayi tersebut agar mereka tidak memikul beban sosial dari situasi orang tuanya.

"Terkait temuan 11 bayi di Sleman, saya memandang bahwa hal pertama yang harus dikedepankan adalah perspektif kemanusiaan dan perlindungan anak. Fokus utama kita jangan sampai berhenti pada latar belakang kelahiran anak-anak tersebut, melainkan pada bagaimana negara memastikan hak hidup, keselamatan, kesehatan, dan masa depan mereka tetap terlindungi. Anak-anak ini tidak boleh menjadi korban kedua dari situasi sosial yang terjadi di sekelilingnya,” ujar Selly saat dihubungi Suara.com, Senin (11/5/2026).

Lebih lanjut, Selly mengajak publik dan pemerintah untuk melihat fenomena ini secara jernih.

Menurutnya, keberadaan tempat penampungan mandiri tersebut bisa jadi merupakan bentuk inisiatif masyarakat untuk mencegah tindakan yang lebih buruk, seperti pembuangan bayi atau aborsi.

Untuk itu, ia meminta negara hadir dengan pendekatan yang lebih luas dari sekadar penegakan hukum.

"Di sisi lain, fenomena ini juga perlu dilihat secara lebih jernih dan utuh. Di tengah berbagai keterbatasan, ada masyarakat yang berinisiatif membangun tempat pengasuhan atau penampungan secara mandiri dengan tujuan agar bayi-bayi yang lahir dalam kondisi rentan tidak terlantar, tidak dibuang, atau bahkan tidak menjadi korban praktik aborsi. Karena itu, negara perlu hadir bukan semata dengan pendekatan hukum, tetapi juga dengan pendekatan sosial, kemanusiaan, dan perlindungan anak yang komprehensif,” jelasnya.

Namun demikian, Selly juga menyoroti adanya celah dalam sistem pengawasan sosial pemerintah daerah.

Ia menilai temuan belasan bayi yang baru diketahui setelah mencuat ke publik merupakan tanda bahwa fungsi deteksi dini dari instansi terkait belum berjalan secara maksimal.

"Kasus ini sekaligus menjadi cerminan bahwa sistem pengawasan dan pendampingan sosial kita belum berjalan optimal. Pemerintah daerah, khususnya dinas sosial dan unsur terkait di tingkat desa hingga kabupaten, harus memiliki sistem deteksi dini dan pemantauan yang lebih kuat terhadap kondisi masyarakat rentan maupun lembaga pengasuhan anak," katanya.

"Jangan sampai persoalan sebesar ini baru diketahui setelah menjadi perhatian publik. Artinya, ada ruang evaluasi dalam aspek pengawasan, pendampingan sosial, dan koordinasi antarlembaga,” sambungnya.

Sebelumnya, penemuan ini bermula dari laporan warga dan perangkat desa setempat yang merasa janggal dengan keberadaan belasan bayi di satu lokasi yang sama pada Jumat (8/5/2026).

Kasatreskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit, mengungkapkan informasi yang didapat bahwa bayi-bayi yang ditemukan tersebut awalnya dilahirkan di sebuah praktik bidan yang berlokasi di wilayah Banyuraden, Gamping, Sleman.

Awalnya hanya satu orang ibu yang menitipkan anaknya di bidan tersebut setelah lahir. Namun kemudian berkembang hingga ditemukan 11 bayi yang dititipkan.

Adapun dalam satu minggu terakhir, bayi-bayi itu dipindahkan ke sebuah rumah di wilayah Pakem. Pemindahan lokasi ke wilayah Pakem ini disebut bersifat sementara mengingat lokasi yang berada di Gamping sedang digunakan untuk kegiatan lain.

Mateus menegaskan bahwa sebagian besar bayi yang dititipkan memang lahir dari orang tua yang belum terikat perkawinan.

"Ya, untuk bayi ini mayoritas memang terus terang di luar pernikahan namun dari pemerintah pun akan mengupayakan bagaimana status terhadap orang tua dan anak ini," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Geger Temuan 11 Bayi di Sleman, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Mereka Jadi Korban

Geger Temuan 11 Bayi di Sleman, DPR: Negara Tak Boleh Biarkan Mereka Jadi Korban

News | Senin, 11 Mei 2026 | 17:44 WIB

RSUD Sleman Rawat Tiga Bayi Kasus Pakem, Perlakuan Selama di Penitipan Jadi Sorotan

RSUD Sleman Rawat Tiga Bayi Kasus Pakem, Perlakuan Selama di Penitipan Jadi Sorotan

News | Senin, 11 Mei 2026 | 15:44 WIB

Cuma Rp50 Ribu Per Hari, Polisi Ungkap Rahasia di Balik Penitipan Bayi Ilegal di Sleman

Cuma Rp50 Ribu Per Hari, Polisi Ungkap Rahasia di Balik Penitipan Bayi Ilegal di Sleman

News | Senin, 11 Mei 2026 | 14:12 WIB

Polisi Ungkap Kondisi 11 Bayi di Penitipan Sleman: Tiga Masih Dirawat di Rumah Sakit

Polisi Ungkap Kondisi 11 Bayi di Penitipan Sleman: Tiga Masih Dirawat di Rumah Sakit

News | Senin, 11 Mei 2026 | 13:28 WIB

Fakta Baru 11 Bayi di Sleman: Mayoritas Lahir di Luar Nikah

Fakta Baru 11 Bayi di Sleman: Mayoritas Lahir di Luar Nikah

News | Senin, 11 Mei 2026 | 12:40 WIB

11 Bayi Ditemukan Dirawat di Satu Rumah di Sleman, Polisi Selidiki Dugaan Penitipan Ilegal

11 Bayi Ditemukan Dirawat di Satu Rumah di Sleman, Polisi Selidiki Dugaan Penitipan Ilegal

News | Senin, 11 Mei 2026 | 12:23 WIB

Berstatus Juara, Garudayaksa FC Siap Bersaing di Super League 2026-2027

Berstatus Juara, Garudayaksa FC Siap Bersaing di Super League 2026-2027

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:27 WIB

PSSI Ingatkan Sepak Bola Indonesia Masih Diawasi FIFA Usai Ricuh Suporter

PSSI Ingatkan Sepak Bola Indonesia Masih Diawasi FIFA Usai Ricuh Suporter

Bola | Minggu, 10 Mei 2026 | 10:43 WIB

Persaingan Makin Panas, Ini Nominasi Penghargaan Individu Pegadaian Championship 2025/2026

Persaingan Makin Panas, Ini Nominasi Penghargaan Individu Pegadaian Championship 2025/2026

Bola | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:38 WIB

Orang Tua Akan Kirim Petisi, Desak Sanksi Dosen UGM yang Diduga Terlibat Daycare Little Aresha

Orang Tua Akan Kirim Petisi, Desak Sanksi Dosen UGM yang Diduga Terlibat Daycare Little Aresha

Video | Kamis, 07 Mei 2026 | 09:49 WIB

Terkini

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 22:10 WIB

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:50 WIB

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:31 WIB

Polisi Sita Dokumen dari Lantai 12 WIKA Tower, Buntut Kasus Korupsi Pabrik Gula

Polisi Sita Dokumen dari Lantai 12 WIKA Tower, Buntut Kasus Korupsi Pabrik Gula

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:27 WIB

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:20 WIB

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:17 WIB

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:14 WIB

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:02 WIB

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:55 WIB

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:44 WIB