Singgung Nasib Bambang Tri hingga Jonan, Sobary Beberkan Cara Jokowi Matikan Karier Politik Lawan

Dwi Bowo Raharjo

Jum'at, 15 Mei 2026 | 18:14 WIB
Singgung Nasib Bambang Tri hingga Jonan, Sobary Beberkan Cara Jokowi Matikan Karier Politik Lawan
Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi saat memberikan keterangan kepada wartawan di rumahnya. [Suara.com/Ari Welianto]
  • Peneliti senior LIPI, Mohamad Sobary, mengkritik Presiden Jokowi karena dinilai menggunakan jalur hukum untuk membungkam suara kritis.
  • Sobary menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi mematikan karier intelektual tokoh yang berbeda pendapat melalui tuduhan pencemaran nama baik.
  • Munculnya gugatan publik mengenai ijazah Jokowi dianggap Sobary sebagai simbol kemunduran pengaruh politik sang presiden saat ini.

Suara.com - Peneliti Senior LIPI, Mohamad Sobary, melontarkan kritik pedas terhadap gaya kepemimpinan presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Ia menyoroti pola pembungkaman terhadap suara-suara kritis yang dinilainya kerap diselesaikan melalui jalur jeruji besi.

Secara blak-blakan, Sobary menyebut Jokowi sebagai sosok yang "terlatih membunuh orang". Namun, terminologi "membunuh" yang ia maksud bukan dalam konteks fisik, melainkan upaya mematikan karakter, karier, hingga daya intelektual seseorang yang berani berseberangan dengan penguasa.

Pernyataan keras ini disampaikan Sobary saat hadir dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV.

Salah satu poin yang ia garis bawahi adalah nasib Bambang Tri Mulyono, penulis buku “Jokowi Undercover” yang harus berhadapan dengan hukum setelah mempersoalkan ijazah sang Presiden.

"Jokowi terlatih membunuh orang. Bung Bambang Tri kan dibunuh kehidupan intelektual, kehidupan jurnalisme dibunuh itu. Dimatikan dengan cara menghukum," tegas Sobary dikutip Jumat (15/5/2024).

Senjata Pencemaran Nama Baik

Sobary menilai saat pemerintahan Jokowi ada kecenderungan di mana instrumen hukum digunakan sebagai alat pelindung citra presiden.

Menurutnya, segala bentuk kritik yang dianggap mengancam reputasi penguasa akan dengan mudah ditarik ke ranah kepolisian dengan dalih pencemaran nama baik.

"Segala sesuatu dihadapi dengan ringan, yang mengancam dianggaplah itu pelecehan, dianggaplah itu pencemaran nama baik. Pencemaran nama baik lalu dilaporkan polisi," lanjut Sobary.

Kritik dari peneliti senior ini menambah daftar panjang diskusi publik mengenai batasan antara penegakan hukum dan perlindungan terhadap kebebasan berpendapat di era pemerintahan saat ini.

Lakon 'Patine Jokowi'

Sobary membandingkan fenomena perlawanan rakyat saat itu dengan lakon ketoprak zaman dulu yang berjudul "Patine Gusti Allah" (Matinya Tuhan) yang populer di era Lekra. Namun, dalam konteks saat ini, Sobary menyebutnya sebagai lakon "Patine Jokowi" atau kematian politik Jokowi.

Kolase foto Bambang Tri Mulyono, mendapat pembebasan bersyarat dari Lapas Sragen (kiri) dan buku buatan Bambang berjudul 'Jokowi Undercover' (kanan). [Suara.com]
Kolase foto Bambang Tri Mulyono, mendapat pembebasan bersyarat dari Lapas Sragen (kiri) dan buku buatan Bambang berjudul 'Jokowi Undercover' (kanan). [Suara.com]

"Ini lakon 'Patine Jokowi'. Kematian politiknya. Kematian politik, kematian pengaruh Jokowi mati oleh serangan bukan serangan, tapi oleh pertanyaan mengenai ijazah," tegas Sobary.

Ia menilai, munculnya tokoh-tokoh seperti Dokter Tifa, Roy Suryo, hingga gerakan dari mahasiswa di Yogyakarta yang menggugat ijazah Jokowi di pengadilan, merupakan kekuatan yang tidak diduga oleh sang presiden.

"Dua orang ini (Kanjeng dan Dokter Tifa) dilengkung tidak bisa, tapi juga tidak patah. Dia tidak getas sama sekali. Mau dilengkung ya manut dilengkung aja melengkung tapi balik lagi nglawan (melawan). Dan inilah kekuatan yang bakal membuat dia ditelanjangi," kata dia.

Matinya Tokoh-Tokoh Kritis

Selain Bambang Tri, Sobary juga menyinggung nasib para tokoh intelektual dan praktisi yang berseberangan secara data dan analisis dengan pemerintah, seperti (almarhum) Rizal Ramli dan Faisal Basri, hingga Ignasius Jonan yang "mati" secara jabatan.

Ia mencontohkan bagaimana Jonan, yang dikenal berintegritas, harus tersingkir karena memberikan pertimbangan rasional terkait proyek kereta cepat yang dianggap merugikan rakyat.

"Jonan mati lah politiknya. Itu patinya Jonan. Jonan mati secara politik dalam perspektif penguasa. Tapi Jonan hidup sepanjang masa dalam perspektif politik kerakyatan," kata Sobary.

Bagi Sobary, kondisi pemerintahan Jokowi saat itu sudah berada pada tahap "telanjang bulat", di mana pencitraan kesederhanaan tidak lagi mampu menutupi kebohongan politik.

"Sudah tidak ada penutup apapun. Tidak punya apa-apa lagi yang bisa menyembunyikan kebohongannya, yang bisa menyembunyikan pura-puranya, yang bisa menyembunyikan psikologi politiknya Jokowi," pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Projo Bicara Soal Kesehatan Jokowi, PSI Langsung Buka Suara

Projo Bicara Soal Kesehatan Jokowi, PSI Langsung Buka Suara

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 14:51 WIB

Pengamat Sebut Akan Bawa PSI ke Senayan, Agenda Jokowi Keliling Indonesia Bukan Silaturahmi Biasa

Pengamat Sebut Akan Bawa PSI ke Senayan, Agenda Jokowi Keliling Indonesia Bukan Silaturahmi Biasa

Video | Jum'at, 15 Mei 2026 | 14:14 WIB

PSI Siap Kawal Jokowi Safari ke Penjuru Nusantara, Bestari Barus: Sudah Agenda Sejak Awal

PSI Siap Kawal Jokowi Safari ke Penjuru Nusantara, Bestari Barus: Sudah Agenda Sejak Awal

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 14:10 WIB

Bestari Barus Tegaskan Jokowi Bagian dari PSI: Akan Turun ke Masyarakat pada Saatnya

Bestari Barus Tegaskan Jokowi Bagian dari PSI: Akan Turun ke Masyarakat pada Saatnya

News | Jum'at, 15 Mei 2026 | 13:58 WIB

Terkini

Kritik Kunjungan LN Prabowo, Mahfud MD: Terlalu Sering Itu Boros, Produknya Harus Jelas!

Kritik Kunjungan LN Prabowo, Mahfud MD: Terlalu Sering Itu Boros, Produknya Harus Jelas!

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 00:05 WIB

Detik-detik Wamen Imipas Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ajudan Dorong Awak Media

Detik-detik Wamen Imipas Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ajudan Dorong Awak Media

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 23:11 WIB

Silmy Karim Diburu KPK, Menteri Imipas Angkat Bicara

Silmy Karim Diburu KPK, Menteri Imipas Angkat Bicara

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:45 WIB

Megawati Bakal Terima Penghargaan dari Timor Leste, PDIP Jajaki Kerja Sama Strategis

Megawati Bakal Terima Penghargaan dari Timor Leste, PDIP Jajaki Kerja Sama Strategis

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:32 WIB

Prabowo ke Petugas MBG: Tak Mau Bekerja Baik, Silakan Minggir!

Prabowo ke Petugas MBG: Tak Mau Bekerja Baik, Silakan Minggir!

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:22 WIB

Dadan Hindayana Ditahan, Irma Suryani Prihatin DPR Tak Punya Alat Sanksi untuk Mitra Kerja

Dadan Hindayana Ditahan, Irma Suryani Prihatin DPR Tak Punya Alat Sanksi untuk Mitra Kerja

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:06 WIB

Jabar Raih Penghargaan Terbaik Dalam Anugerah Kearsipan 2026, Bukti Hormati Setiap Jejak Sejarah

Jabar Raih Penghargaan Terbaik Dalam Anugerah Kearsipan 2026, Bukti Hormati Setiap Jejak Sejarah

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:52 WIB

KPK Sita 7 Mobil hingga Emas dalam OTT Imigrasi Jakbar

KPK Sita 7 Mobil hingga Emas dalam OTT Imigrasi Jakbar

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:38 WIB

KPK Ungkap Wamen Imigrasi Silmy Karim Diduga Terlibat Kasus Izin Tinggal WNA

KPK Ungkap Wamen Imigrasi Silmy Karim Diduga Terlibat Kasus Izin Tinggal WNA

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:27 WIB

Tolak Wacana Rusun, Korban Kebakaran Kemayoran Minta Pemerintah Bantu Bangun Rumah Lagi

Tolak Wacana Rusun, Korban Kebakaran Kemayoran Minta Pemerintah Bantu Bangun Rumah Lagi

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:15 WIB