-
Militer Israel mengadang armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Siprus.
-
Ratusan relawan perdamaian internasional ditahan secara ilegal di fasilitas penjara terapung Israel.
-
Turkiye mengutuk keras aksi pembajakan laut ini dan mendesak pembebasan seluruh warga sipil.
Suara.com - Penghadangan paksa terhadap armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh militer Israel di perairan internasional memicu ketegangan geopolitik baru terkait legalitas blokade laut Gaza. Dalam kapal itu juga ada jurnalis asal Indonesia.
Aksi sepihak di wilayah zona selamat Siprus ini dinilai mengabaikan hukum maritim internasional demi mempertahankan isolasi total terhadap wilayah Palestina.
Operasi militer yang dilancarkan pada siang hari ini menandai eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir terhadap upaya pengiriman bantuan kemanusiaan jalur laut. Sebanyak puluhan kapal yang membawa bantuan logistik dan ratusan aktivis dari berbagai negara dicegat secara agresif jauh sebelum memasuki wilayah konflik.
![Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/24/17793-ilustrasi-tentara-israel-di-gaza-ist.jpg)
Pihak penyelenggara menyatakan kemarahan mendalam atas tindakan penangkapan relawan perdamaian yang dilakukan di luar yurisdiksi hukum Israel tersebut. Mereka menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk normalisasi pelanggaran hak asasi manusia di wilayah perairan bebas.
“Global Sumud Flotilla sedang diserang! Penjajah Israel sekali lagi secara ilegal dan keras mencegat armada internasional kapal kemanusiaan kami dan menculik sukarelawan kami.”
Laporan dari lapangan yang ditulis Al Jazeera, menunjukkan adanya penggunaan metode gangguan elektronik berskala besar untuk memutus rantai komunikasi antar-vessel di Laut Mediterania. Selain intervensi fisik, militer juga menggunakan frekuensi radio khusus untuk mengacaukan koordinasi navigasi armada sipil tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan hilangnya kontak dengan salah satu kapal utama pembawa logistik kemanusiaan setelah didekati oleh kapal perang. Pihak otoritas hukum yang mendampingi misi menegaskan bahwa serbuan ini dilakukan saat seluruh kapal berada pada posisi yang aman dari hukum blokade sepihak.
“Armada kami berada di perairan internasional pada saat dimulainya agresi militer dan operasi terhadap armada kemanusiaan yang damai ini.”
Hingga saat ini, sinyal bahaya telah dikirimkan secara berkala karena posisi kapal masih berada dalam pengawasan wilayah penyelamatan darurat Siprus. Berdasarkan konvensi hukum laut PBB, negara terdekat memiliki tanggung jawab penuh untuk merespons ancaman keamanan di zona tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Israel bersikeras bahwa segala bentuk upaya penembusan jalur laut menuju Gaza akan ditindak secara tegas tanpa pengecualian. Pihak kementerian luar negeri mereka mengklaim tindakan ini sah demi menjaga perimeter keamanan wilayah perairan mereka.
“Mengubah arah dan segera kembali.”
Penangkapan ini memicu reaksi diplomatik yang luas, terutama setelah identitas sejumlah relawan yang ditahan mulai teridentifikasi oleh publik. Salah satu sosok yang dipastikan ikut ditangkap adalah seorang dokter yang juga merupakan kerabat dekat dari kepala negara Irlandia.
Kondisi para tahanan yang kini diinterogasi di pusat detensi terapung memicu kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga dan komunitas internasional. Pemerintah Irlandia yang dikenal vokal terhadap isu Palestina langsung memantau ketat perkembangan kasus ini.
“Sangat menyedihkan mendengar kabar bahwa saudara perempuan saya dan dokter Margaret Connolly berada di antara mereka yang ditahan.”
Konflik seputar pengiriman bantuan ini berakar dari kebijakan blokade ketat yang diterapkan terhadap wilayah Gaza sejak tahun 2007 silam. Kebijakan tersebut secara konsisten menuai kritik tajam dari berbagai organisasi kemanusiaan dunia karena dampaknya yang merusak tatanan hidup warga sipil.