Dalam naskah Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwtpa parwa I sarga 3 halaman 79, ikhwal "Sunda" dijelaskan sebagai berikut:
.... / telas karuhun hana ngaran desya sunda / tathapi ri sawaka ring rajya taruma // tekwan ring usana kangken ngaran kitha sundapura//
Terjemahan: ‘Sesungguhnya dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura (Kota Sunda)’.
Pada tahun 669 Masehi, Sri Maharaja Linggawarman, raja keduabelas Tarumanagara, mengakhiri kekuasaannya.
Sebagai penggantinya, Sang Tarusbawa, menantu Sri Maharaja Linggawarman, yang menikah dengan putrinya yang bernama Dewi Manasih. Adik Dewi Manasih, yaitu Dewi Sobakancana, diperisteri oleh Dapuntahyang Sri Jayanasa, raja Sriwijaya.
Berakhirnya pemerintahan Sri Maharaja Linggawarman, menandai pula berakhirnya kekuasaan Dinasti Warman di Tarumanagara karena nama kerajaan tersebut oleh Sri Maharaja Tarusbawa diganti sebutannya menjadi Kerajaan Sunda. Pergantian nama kerajaan, disebabkan, Sang Tarusbawa merasa perlu mengabadikan tempat kelahirannya, yaitu Sunda Sembawa (Bekasi).
Sang Tarusbawa, sebagai penerus tahta Tarumanagara, dengan nama gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa dinobatkan pada tanggal 9 Suklapaksa bulan Jesta tahun 591 Saka.
Titimangsa ini bila dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 18 Mei 669 Masehi. Berdasarkan kajian kami, tanggal ini kami usulkan kepada Gubernur Jabar sebagai Hari Jadi Tatar Sunda dan diterima serta sudah dibuatkan Pergubnya.
Sang Tarusbawa bukan keturunan dinasti Warman. Ia dilahirkan di Sunda Sembawa (Sundapura), sebagai raja keturunan pribumi di kerajaan daerah Sunda Sembawa. Ketika ia naik tahta, mengganti nama Tarumanagara, menjadi Kerajaan Sunda. Semenjak itulah, Kerajaan Sunda, tampil kembali dalam panggung sejarah di Nusantara.
Langkah Sang Tarusbawa berikutnya, memindahkan ibukota kerajaan dari Sundapura (Bekasi) ke Pakuan (Bogor). Gambaran berkenaan dengan hal tersebut tercatat dalam redaksi teks naskah lontar Fragmen Carita Parahyangan.
Kerajaan Galuh
Sementara Kerajaan Sunda lahir di sebelah Barat Tatar Sunda, di sebelah Timur, lahir Kerajaan Galuh sekitar 670. Dalam sumber tradisi, disebut bahwa Kerajaan Galuh didirikan oleh Sang Wretikandayun. Raja terkenal yang disebut dalam Prasasti Canggal, tahun 732 M adalah Sanjaya. Dalam naskah Carita Parahyangan, disebutkan ada 34 Raja yang memerintah Galuh hingga 1528. Ada beberapa raja yang terkemuka.
Pertama adalah Prabu Maharaja atau Prabu Linggabuana, yang memerintah antara tahun 1350-1357. Prabu Maharaja memiliki putri Dyah Pitaloka dan Wastukancana. Raja ini gugur di Bubat, ketika mengantar putrinya untuk dipersunting Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit. Tahta kemudian dipegang oleh Prabu Niskala Wastukancana dari 1371 hingga 1475.
Cucu Prabu Wastukancana, Sri Baduga Maharaja, menikahi putri Raja Sunda. Maka kekuasaan Galuh dan Sunda pun digabungkan. Untuk penobatannya sebagai Raja Sunda, Sri Baduga mengenakan mahkota yang dibuat oleh Prabu Bunisora, yang menjadi raja setelah Prabu Linggabuana gugur di Bubat. Mahkota yang dikenal sebagai mahkota Binokasih ini sebenarnya dibuat oleh Prabu Bunisora untuk penobatan Prabu Wastukancana (kakek Sri Baduga).
Sri Baduga membawa Kerajaan Sunda pada puncak kejayaannya. Ibukota Kerajaan disebut Pakuan Pajajaran. Wilayah kekuasaannya membentang dari Selat Sunda hingga Brebes di Jawa Tengah dan Cilacap di Selatan.
Ada kebiasaan di daerah Asia Tenggara, menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya karena pusat kesaktian kerajaan itu juga terfokus di ibukota, demikian pendapat Robert von Heine Geldern. Sejak abad ke-17, dalam naskah-naskah kuno, orang menyebut Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Pajajaran hingga sekarang masyarakat lebih mengenal Prabu Siliwangi adalah Raja Pajajaran yang legendaris.
Prabu Siliwangi memiliki banyak isteri dari berbagai wilayah kekuasaannya. Kelak keturunannya ini menjadi para bupati di masing-masing wilayah. Boleh dikatakan, bahwa kaum menak (bangsawan) yang menjadi bupati di Tatar Sunda, memiliki silsilah yang pada puncaknya adalah Prabu Siliwangi.
Mereka biasanya juga memiliki pusaka warisan leluhurnya, bisa berupa kujang, tumbak, keris, atau naskah kuno. Jadi kabupaten/kota yang memiliki warisan seperti ini, bisa saja ikut dalam kirab budaya. Mungkin tahun depan , pelaksanaan kirab bisa lebih dilengkapi lagi.