- Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia menggelar aksi #HitamkanUI di Tugu Makara pada Rabu sore, 20 Mei 2026.
- Mahasiswa memproklamasikan kematian reformasi dengan menutup logo UI dan membuat makam simbolis sebagai bentuk duka mendalam.
- Aksi tersebut dilakukan sebagai protes atas enam masalah fundamental, termasuk korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan hukum oleh penguasa.
Suara.com - Suasana di Tugu Makara Universitas Indonesia (UI) mendadak kelam pada Rabu sore (20/5/2026). Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI menggelar aksi simbolik bertajuk #HitamkanUI.
Bukan sekadar demonstrasi, aksi ini adalah proklamasi atas apa yang mereka sebut sebagai "Kematian Reformasi".
Berdasarkan pantauan Suara.com, massa mulai memadati lokasi sekitar pukul 17.15 WIB dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka mendalam.
Pemandangan mencolok terlihat saat peserta aksi menutup logo kebanggaan UI pada Tugu Makara dengan kain putih.
IKM UI memaknai aksi sebagai kematian atas reformasi yang telah diperjuangkan sejak 28 tahun lalu, yang tertuang dalam enam tuntutan.
Kematian itu diartikan sebagai ketakutan negara pada rakyat yang turun ke jalan untuk demonstrasi dibandingkan pada ketidakadilan, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang bercokol dalam institusi negara.
Dalam aksinya, IKM UI juga membuat 'makam reformasi' bertuliskan R.I.P Reformasi yang sekelilingnya terdapat 12 lilin yang menyala.

IKM UI menegaskan bahwa hukum kini bukan lagi pelindung masyarakat, melainkan alat intimidasi untuk menjaga singgasana kekuasaan. Ada enam alasan fundamental yang melandasi mosi "Kematian Reformasi" ini:
- Hukum telah ditekuk untuk menjadi tameng bagi penguasa dan pedang bagi rakyat kecil. Benar sudah bahwa negara ini tidak lain dari negara kekuasaan.
- Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak lagi menjadi musuh negara. Ia telah dinormalisasi, dilembagakan, dan diwariskan dalam setiap sekat pemerintahan.
- Sistem ekonomi kerakyatan telah dikebiri lewat pelepasan tanggung jawab negara atas pemenuhan hajat hidup orang banyak dan penyerahan kedaulatan sumber daya alam pada segelintir oligarki.
- Negara dengan sengaja memelihara ketiadaan keadilan. Penghapusan sejarah dan upaya-upaya lainnya untuk membuat generasi baru melupakan trauma masa Orde Baru.
- Hantu dwifungsi telah ditarik kembali dari neraka untuk menduduki ruang-ruang sipil melalui regulasi yang cacat formil dan materiil
- Penggaungan “Era Reformasi” di buku-buku pelajaran akan perlahan menjadi dongeng pengantar tidur. Reformasi telah benar-benar mati di tangan-tangan yang haus akan kekuasaan.
Reporter: Cornelius Juan Prawira