-
Video intimidasi menteri Itamar Ben-Gvir memicu keretakan besar di dalam kabinet Benjamin Netanyahu.
-
Negara-negara Barat kompak mengecam perlakuan tidak manusiawi terhadap ratusan aktivis kemanusiaan Gaza.
-
Netanyahu memerintahkan deportasi cepat bagi seluruh aktivis guna meredam eskalasi konflik diplomatik.
Di sisi lain, respons internal ini dinilai terlambat oleh kelompok hak asasi manusia yang melihat adanya pola kekerasan sistemik. Lembaga hukum Adalah menuduh otoritas Israel sengaja melanggengkan kebijakan kriminal yang merendahkan martabat manusia.
Adalah menyatakan hal ini mengikuti pola perlakuan buruk serupa oleh otoritas Israel terhadap aktivis dalam misi flotilla sebelumnya "di mana Israel menghadapi nol akuntabilitas."
Suhad Bishara, pengacara dari Adalah, mengungkapkan bahwa tim hukum mendeteksi adanya tindak kekerasan fisik yang dialami para tahanan. Berdasarkan pemeriksaan, beberapa aktivis bahkan harus dilarikan ke fasilitas medis akibat luka tembak senjata non-letal.
Bishara mengatakan kepada The Associated Press bahwa sekelompok dari 11 pengacara yang mengunjungi para tahanan mengetahui setidaknya ada dua aktivis yang dirawat di rumah sakit setelah ditembak dengan peluru karet "tanpa alasan, tanpa pembenaran apa pun."
Juru bicara Flotilla, Rania Batrice, menilai keberanian Ben-Gvir mengunggah video tersebut merupakan dampak langsung dari absennya sanksi tegas global selama ini. Ia mendesak komunitas internasional untuk mengambil langkah konkret yang lebih masif daripada sekadar kecaman tertulis.
"Jika mereka melakukan itu kepada orang Eropa, Amerika, dan orang-orang dari Afrika Selatan serta seluruh dunia, bayangkan apa yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina," kata Batrice kepada AP dalam sebuah wawancara daring.
Sikap keras juga ditunjukkan oleh sekutu-sekutu dekat Israel di Eropa yang merasa warga negaranya diperlakukan secara tidak manusiawi. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, langsung melayangkan protes keras dan menuntut transparansi penuh atas insiden tersebut.
Cooper mengatakan video tersebut "melanggar standar paling dasar dari rasa hormat dan martabat" dalam bagaimana orang harus diperlakukan.
Kecaman serupa datang dari Roma yang menilai tindakan tersebut mencederai hukum humaniter internasional secara terang-terangan. Pemerintah Italia bahkan langsung memanggil perwakilan diplomatik Israel untuk meminta pertanggungjawaban.
Italia mengutuk perlakuan terhadap aktivis yang ditahan sebagai pelanggaran martabat manusia dan menyebut video Ben-Gvir "tidak dapat diterima."
Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, turut mengambil langkah tegas dengan memerintahkan jajarannya untuk memanggil Duta Besar Israel di Ottawa. Sementara itu, Turki dan Yunani mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras kebrutalan moral tersebut.
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan perilaku tersebut "secara terbuka menunjukkan kepada dunia pola pikir yang kejam dan biadab" dari pemerintah Israel.
Kementerian Luar Negeri Yunani menyebut tindakan Ben-Gvir "tidak dapat diterima dan sepenuhnya patut dikutuk" serta menyatakan telah mengajukan protes resmi.
Kelompok Hamas tidak tinggal diam dan memanfaatkan momentum ini untuk menyerang balik legitimasi moral pemerintah Israel di mata publik dunia. Mereka menyebut rekaman penahanan tersebut sebagai bukti nyata dari degradasi moralitas aparat keamanan Israel.
Hamas menyebutnya sebagai "adegan pelecehan dan penghinaan" terhadap para aktivis, serta mengatakan hal itu menunjukkan "dekadensi moral dan sadisme" Israel.