Indonesia Harusnya Bisa Lobi Israel Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Karena Ini

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:25 WIB
Indonesia Harusnya Bisa Lobi Israel Bebaskan 9 WNI yang Ditangkap Karena Ini
Penahanan 9 warga negara Indonesia oleh militer Israel di laut lepas memicu desakan restrukturisasi strategi diplomasi tanpa hubungan bilateral. (Antara)
  • Sembilan WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza ditangkap otoritas militer Israel.

  • Pemerintah Indonesia didesak menggunakan forum Board of Peace untuk membebaskan para relawan dan jurnalis.

  • Pihak keluarga menegaskan misi tersebut murni kemanusiaan tanpa membawa senjata, melainkan logistik bantuan.

Suara.com - Penahanan 9 warga negara Indonesia oleh militer Israel di laut lepas memicu desakan restrukturisasi strategi diplomasi tanpa hubungan bilateral. Pemerintah Indonesia kini dituntut melampaui batas diplomasi formal dengan memanfaatkan jejaring perdamaian multilateral yang melibatkan pemimpin dunia secara personal.

Langkah taktis ini dinilai menjadi jalan keluar paling realistis untuk menembus kebuntuan politik di wilayah konflik tersebut. Desakan tersebut menyasar pembebasan seluruh awak kapal misi kemanusiaan internasional yang dicegat secara sepihak oleh otoritas pertahanan Tel Aviv.

Inisiatif pembebasan ini memunculkan urgensi pemanfaatan panggung diplomasi informal kelas tinggi yang dinilai memiliki posisi tawar kuat. Melalui saluran non-konvensional, negara diyakini mampu menekan Israel tanpa harus mencederai prinsip politik luar negeri yang bebas aktif.

PM Israel Benjamin Netanyahu (tengah depan) dan istrinya, Sara (kanan depan), 9 Agustus 2017. [Jack GUEZ/AFP]
PM Israel Benjamin Netanyahu (tengah depan) dan istrinya, Sara (kanan depan), 9 Agustus 2017. [Jack GUEZ/AFP]

"Memang tidak ada hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel. Tapi kan kita tahu bahwa Indonesia masuk bagian dari Board of Peace dan Indonesia bahkan Pak Prabowo sempat satu forum dengan Netanyahu [Perdana Menteri Israel] dan Donald Trump," kata Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin dikutip dari BBC.

"Indonesia harus mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan Internasional yang ditahan," ujarnya.

Kementerian Luar Negeri Indonesia langsung merespons situasi darurat ini dengan menyusun strategi pelepasan melalui jalur khusus. Otoritas diplomatik berjanji mengerahkan segala instrumen yang tersedia agar seluruh warga negara yang ditahan bisa segera dipulangkan.

Di sisi lain, blokade ketat di perairan Mediterania Timur kembali memakan korban dari kalangan masyarakat sipil lintas negara. Operasi militer Israel di zona maritim internasional dituding melanggar hukum laut internasional karena menyasar kapal pembawa bantuan kemanusiaan.

Benjamin Netanyahu (ig/b.netanyahu)
Benjamin Netanyahu (ig/b.netanyahu)

Pusat misi Global Sumud Flotilla menyatakan bahwa armada mereka diserang dalam agresi ilegal di wilayah laut bebas. Penghadangan bersenjata itu terjadi pada jarak sekitar 460 kilometer sebelum mereka berhasil menyentuh garis pantai wilayah Gaza.

Pihak Tel Aviv membantah bukti visual penyerangan tersebut dengan melontarkan tuduhan balik mengenai adanya agenda provokasi politik. Mereka berdalih bahwa pelayaran sipil tersebut sengaja dirancang untuk memberikan dukungan strategis terhadap kelompok perlawanan Hamas.

Tuduhan sepihak itu langsung dipatahkan oleh perwakilan keluarga korban yang menegaskan bahwa manifestasi pelayaran murni logistik sosial. Logistik yang diangkut dalam misi tersebut murni merupakan pasokan medis dan bahan pangan pokok untuk warga sipil Palestina.

"Dia tidak membawa senjata, dia hanya membawa makanan, obat-obatan untuk orang yang membutuhkan di Palestina," kata Sutrawati Kaharuddin, ibunda Andi Angga Prasadewa, salah satu WNI yang ditangkap Israel.

Dari sudut pandang lain, dedikasi terhadap profesi jurnalisme menuntut keberanian moral yang besar di tengah ancaman fisik. Penugasan jurnalistik ke wilayah konflik sering kali menempatkan para pencari berita pada persimpangan antara tugas dan keselamatan jiwa.

Perjalanan panjang profesionalisme ini terekam jelas saat delegasi media mulai bergabung dengan aliansi sipil global di Afrika Utara. Proses seleksi dan kesiapan mental menjadi modal utama sebelum para jurnalis diizinkan mengarungi wilayah perairan paling berbahaya di dunia.

Awalnya, restu keluarga sempat tertahan akibat tingginya risiko keamanan yang harus dihadapi di medan blokade militer. Namun, komitmen mendalam terhadap panggilan profesi akhirnya melunakkan kekhawatiran orang tua yang melepas anaknya pergi ke medan tugas.

"Thoudy orangnya tenang," kata Hany Hanifah Humanisa, ibunda dari Thoudy Bada Rifanbillahi, jurnalis Republika sekaligus partisipan GSF.

"Saya khawatirnya IDF [militer Israel] yang macam-macam, menyakiti secara fisik," ujarnya.

Hany menceritakan bahwa putranya sempat batal berlayar pada pertengahan tahun lalu karena tidak mendapatkan izin resmi darinya.

"Saya tidak izinkan," kata Hany saat ditemui di Bandung, mengenang peristiwa Agustus 2025.

Namun, panggilan tugas jurnalistik kembali datang ketika pihak redaksi memberikan instruksi resmi untuk meliput pelayaran kemanusiaan global tersebut.

"Ketika mau berangkat, belum ada kepastian Thoudy berlayar atau tidak. Hanya ada tugas meliput kegiatan itu. Jadi seperti tugas liputan biasanya, saya izinkan," ujar Hany.

Keputusan krusial akhirnya diambil saat kapal bersiap bertolak dari wilayah transit di Turki setelah pertimbangan matang disepakati bersama. Hasrat untuk mendokumentasikan krisis secara langsung mengalahkan rasa takut terhadap potensi penahanan oleh otoritas militer asing.

"Mungkin ada pertimbangan tertentu dan mungkin sudah diprogramkan untuk konvoi kapalnya, dia minta izin lagi ke saya," kata Hany.

"Sama seperti orang tua lain, adakah orang tua yang mengantarkan anaknya ke risiko-risiko yang sudah jelas. Sebagai ibu, saya juga berpikir begitu," tuturnya.

"Tapi saya berpikir, sebagai ibu saya tahu betul keinginan dan passion anak. Saya berpikir, anak saya jangan hidup untuk ibu dan saudaranya, tapi untuk dirinya sendiri.

"Saya lihat passion Thoudy di situ. Saya tanya, berapa persen keyakinan untuk berangkat? Dia sempat bilang 80%.

"Kami obrolkan bahwa dia tahu betul risikonya dan tujuannya, baik dari sisi pribadi maupun profesionalismenya. Akhirnya saya dukung dia secara moral dan doa," kata Hany.

Komunikasi terakhir antara pihak keluarga dan awak kapal sempat terjalin beberapa jam sebelum terjadinya operasi penyergapan maritim. Dalam pesan penutupnya, para relawan mengonfirmasi posisi mereka yang masih berada di wilayah perairan internasional bebas.

Kini, fokus utama keluarga dan perusahaan media adalah menjaga stabilitas psikologis para korban selama berada di bawah interogasi Israel. Kontrol diri yang kuat di dalam tahanan dianggap sebagai faktor penentu keselamatan seluruh sandera sipil tersebut.

"Jangan sampai dia kehilangan kontrol dirinya yang bisa menyebabkan kerugian buat dirinya dan teman-teman-nya," kata Hany.

"Karena menurut Thoudy dan tim yang lain, itulah kuncinya," ujar Hany.

Insiden penangkapan ini menambah daftar panjang konfrontasi militer Israel terhadap armada kemanusiaan internasional yang mencoba menembus blokade Gaza. Global Sumud Flotilla merupakan koalisi masyarakat sipil lintas negara yang secara konsisten mengirimkan bantuan logistik melalui jalur laut.

Indonesia, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, selalu mengandalkan pihak ketiga atau forum multilateral dalam penyelesaian kasus kekerasan komparatif. Kasus penahanan sembilan WNI ini menjadi ujian terbaru bagi efektivitas diplomasi kemanusiaan Indonesia di panggung geopolitik Timur Tengah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Senjata Canggih Iran Siap Meledak Jika Donald Trump Nekat Perintahkan Pentagon Serang Teheran

Senjata Canggih Iran Siap Meledak Jika Donald Trump Nekat Perintahkan Pentagon Serang Teheran

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:05 WIB

Menlu Austria Ngamuk ke Anak Buah Benjamin Netanyahu: Perlakuannya Tidak Dapat Diterima!

Menlu Austria Ngamuk ke Anak Buah Benjamin Netanyahu: Perlakuannya Tidak Dapat Diterima!

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:47 WIB

Israel Tangkap Jurnalis RI, Mengapa Solusi Dua Negara Masih Dipertahankan?

Israel Tangkap Jurnalis RI, Mengapa Solusi Dua Negara Masih Dipertahankan?

Your Say | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:15 WIB

Terkini

Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun

Sebut Kelas Menengah Makin Rentan, Sosiolog UGM: Apabila Tak Diatasi Cepat, Dampaknya Akan Beruntun

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:21 WIB

Senjata Canggih Iran Siap Meledak Jika Donald Trump Nekat Perintahkan Pentagon Serang Teheran

Senjata Canggih Iran Siap Meledak Jika Donald Trump Nekat Perintahkan Pentagon Serang Teheran

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 11:05 WIB

Menlu Austria Ngamuk ke Anak Buah Benjamin Netanyahu: Perlakuannya Tidak Dapat Diterima!

Menlu Austria Ngamuk ke Anak Buah Benjamin Netanyahu: Perlakuannya Tidak Dapat Diterima!

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:47 WIB

Menteri PPPA Jadikan Keluarga Gus Dur Contoh Rumah Tangga Tanpa Kekerasan dan Bias Gender

Menteri PPPA Jadikan Keluarga Gus Dur Contoh Rumah Tangga Tanpa Kekerasan dan Bias Gender

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:37 WIB

Sudah Empat Hari, Kebakaran Gudang Plastik di Cengkareng Belum Tuntas Dipadamkan

Sudah Empat Hari, Kebakaran Gudang Plastik di Cengkareng Belum Tuntas Dipadamkan

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:27 WIB

TNI Kerahkan Pasukan dan Helikopter Buru OPM Usai 8 Pendulang Emas Dibunuh di Yahukimo

TNI Kerahkan Pasukan dan Helikopter Buru OPM Usai 8 Pendulang Emas Dibunuh di Yahukimo

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 10:12 WIB

Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila

Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:51 WIB

Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026

Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:39 WIB

Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk di Dunia, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar

Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk di Dunia, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 09:28 WIB

Narasi Viral Ternyata Rekayasa! Polisi: Model Ansy Jan De Vrie Bukan Korban Begal

Narasi Viral Ternyata Rekayasa! Polisi: Model Ansy Jan De Vrie Bukan Korban Begal

News | Kamis, 21 Mei 2026 | 08:52 WIB