-
Aktivis Global Sumud Flotilla mengalami penyiksaan berupa sengatan listrik dan kekerasan fisik di tahanan Israel.
-
Lembaga Adalah menuduh otoritas Israel menjalankan kebijakan kriminal dan penghinaan terhadap relawan kemanusiaan internasional.
-
Armada bantuan kemanusiaan tersebut dicegat di perairan internasional saat mencoba menembus blokade Gaza.
Suara.com - Aktivis kemanusiaan internasional yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla mengalami penyiksaan berat selama berada di bawah penahanan otoritas Israel.
Lembaga hak asasi manusia Israel, Adalah, berhasil mendokumentasikan berbagai bukti kekerasan fisik dan psikologis yang menimpa para relawan tersebut.
Dikutip dari Anadolu, tindakan tidak manusiawi ini memicu gelombang kecaman internasional karena menargetkan misi bantuan sipil untuk warga Gaza.
![Massa dari Solidaritas Seni untuk Palestina mengikuti aksi solidaritas bagi WNI dan Jurnalis yang diculik Israel di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5/2026). [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/YU]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/20/20303-aksi-solidaritas-bagi-wni-dan-jurnalis-yang-diculik-israel-global-sumud-flotilla.jpg)
Sedikitnya tiga aktivis dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit akibat menderita cedera yang sangat serius.
Puluhan peserta aksi lainnya diduga mengalami patah tulang rusuk hingga kesulitan bernapas akibat penganiayaan berulang.
Tim hukum Adalah mengonfirmasi adanya kesaksian yang konsisten mengenai penggunaan alat sengatan listrik terhadap para tahanan.
Para relawan kemanusiaan tersebut dipaksa bertahan dalam posisi tubuh yang menyakitkan serta merendahkan martabat manusia.
![Militer Israel mulai mencegat kapal dalam konvoi kemanusia untuk Gaza, Global Sumud Flotilla, yang berlayar menuju Jalur Gaza dari Turki. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/19/83131-tentara-israel.jpg)
Saat dipindahkan menuju Pelabuhan Ashdod, mereka dipaksa berjalan membungkuk penuh dan berlutut dalam durasi yang sangat lama.
Kesaksian lain mengungkap tindakan diskriminatif sipir Israel yang mencopot paksa jilbab sejumlah aktivis perempuan di armada.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bahkan mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis diborgol dengan wajah menghadap lantai.
Sikap arogan tersebut memperkuat bukti adanya kebijakan kriminal berupa penyiksaan sistematis yang dijalankan secara terbuka oleh Israel.
Hingga saat ini, akses informasi mengenai lokasi, status hukum, dan kondisi riil para tahanan masih dibatasi ketat.
Global Sumud Flotilla bertolak dari distrik Marmaris, Turki, sebagai upaya menembus blokade ketat Israel di Jalur Gaza.
Namun, militer Israel mencegat kapal pembawa bantuan kemanusiaan ini saat masih berada di wilayah perairan internasional.
Pencegatan brutal ini bukan yang pertama, setelah sebelumnya konvoi 345 peserta dari 39 negara juga diserang di perairan Kreta.