- Pengamat sosial politik Okky Madasari menyatakan Generasi Z memiliki keberanian lebih besar dibandingkan generasi era Orde Baru.
- Generasi Z memanfaatkan media digital untuk menyuarakan kritik kreatif sebagai strategi bertahan di tengah ancaman intimidasi.
- Okky menekankan pentingnya pengorganisasian gerakan secara kolektif agar suara kritis anak muda memiliki dampak yang lebih kuat.
Suara.com - Pengamat sosial politik Okky Madasari menilai generasi muda saat ini, terutama Generasi Z, justru memiliki keberanian yang lebih besar dibanding generasi yang tumbuh pada era Orde Baru. Menurutnya, anggapan bahwa anak muda sekarang apatis dan tidak kritis merupakan tesis yang keliru.
Hal itu disampaikan Okky dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV saat membahas perkembangan kritik publik terhadap pemerintahan dan perubahan pola perlawanan generasi muda.
“Oh, salah. Salah. Itu salah tesis yang sangat salah,” kata Okky.
Ia menjelaskan, generasi yang tumbuh pada masa Orde Baru justru dibentuk dalam situasi penuh kontrol informasi dan ketakutan terhadap negara.
“Justru senior-senior kita, saya, Kang Darmawan (host), itu punya ketakutan. Karena apa? Kita dibentuk, dididik pada zaman Orde Baru. Tidak ada sumber informasi yang terbuka. Sumber informasi kita hanya buku yang kita baca,” ujarnya.
Menurut Okky, situasi berbeda dialami generasi muda hari ini yang tumbuh dengan akses informasi tanpa batas melalui media digital dan media sosial.
“Tapi generasi hari ini, generasi Z yang kemarin ikut demo di mana-mana, kebanyakan mereka lahir dari orang tua-orang tua generasi seperti kita yang mindset-nya sudah berubah,” ucapnya.
Ia bahkan menyebut Generasi Z sebagai kelompok yang tidak mudah takut terhadap kekuasaan.
“Generasi Z ini enggak ada takut-takutnya. Merekalah yang nanti akan menjadi tulang punggung dari perjuangan kita,” katanya.
Dalam perbincangan itu, Okky juga menyoroti perubahan bentuk kritik publik yang kini lebih banyak muncul dalam bentuk meme, satire, hingga video berbasis kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, anonimitas dalam kritik digital bukan sekadar bentuk keberanian, melainkan strategi bertahan di tengah situasi yang dianggap represif.
“Bukan sekadar keberanian, tapi bagi saya itu siasat. Strategi,” ujar Okky.
Ia mengatakan publik saat ini menghadapi ketakutan untuk berbicara terbuka karena adanya ancaman kriminalisasi maupun intimidasi.
“Kita bisa tiba-tiba didatangin aparat, kita bisa tiba-tiba disiram air keras, kita bisa tiba-tiba ditersangkakan,” katanya.
Meski demikian, ia melihat keberanian publik belum sepenuhnya hilang. Kritik tetap muncul melalui berbagai bentuk ekspresi kreatif di media sosial.
“Ternyata publik tidak mau bungkam. Ternyata semuanya masih mau untuk terus bersuara, untuk terus dalam bentuk mungkin meledek, dalam bentuk lucu-lucuan. Tapi itu merupakan bukti bahwa ternyata keberanian itu tidak hilang,” tutur Okky.

Ia juga menilai generasi muda memiliki karakter yang lebih individual dibanding generasi sebelumnya. Kritik kerap dilakukan dari ruang masing-masing melalui media sosial sehingga gerakannya belum sepenuhnya terorganisasi.
“Jadi mereka terus juga bersuara lewat sosial media, lewat berbagai karya kreatif. Tetapi, dengan bentuk zaman yang berubah ini, memang kekurangannya adalah mereka lebih individual. Mereka melakukan kritiknya dari ruangan mereka sendiri-sendiri,” ujarnya.
Karena itu, Okky menekankan pentingnya pengorganisasian dan ruang pertemuan agar gerakan sosial memiliki daya dorong yang lebih kuat.
“Nah, makanya inilah yang tadi saya bilang bahwa dengan sedikit ada upaya untuk mengorganisasi, dengan sedikit ada upaya untuk menyatukan diri, dentumannya akan keras,” jelas Okky.
Ia mencontohkan kegiatan nonton bareng atau nobar film dokumenter “Pesta Babi” sebagai salah satu cara sederhana untuk membuat orang saling bertemu dan bertukar pikiran.
“Nonton bersama ini menjadi sebuah sarana dalam mengorganisasi diri. Paling enggak kemudian ada upaya untuk membuat satu sama lain bertemu, berinteraksi, berdialog, memikirkan langkah bersama,” katanya.
Meski mengaku telah kehilangan harapan terhadap pemerintah saat ini, Okky mengatakan optimismenya masih bertumpu pada generasi muda dan publik kritis.
“Kalau ditanya apakah saya patah arang pada pemerintah, iya sudah tidak berharap lagi saya. Tapi saya mempunyai harapan yang besar pada publik, pada teman-teman mahasiswa, pada teman-teman yang berkesadaran ini,” pungkas Okky.
Reporter: Dinda Pramesti K