Suara.com - Filter rokok menjadi salah satu jenis sampah plastik yang paling banyak mencemari lingkungan di dunia. Limbah ini tidak hanya menumpuk di jalanan, sungai, dan pesisir, tetapi juga berpotensi melepaskan mikroplastik serta zat beracun ke dalam ekosistem.
Menjelang Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei lalu, American Thoracic Society bersama mitra Forum of International Respiratory Societies (FIRS) kembali mendesak negara-negara untuk menindaklanjuti keputusan yang dihasilkan dalam Konferensi Para Pihak ke-11 (COP11) Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau.
Dikutip dari laporan Phys.org, salah satu rekomendasi penting dalam COP11 adalah mendorong negara-negara mempertimbangkan regulasi yang lebih ketat terhadap komponen produk tembakau dan nikotin yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Mikroplastik dan Zat Beracun dari Filter Rokok
Dalam pernyataan pasca-COP11, European Respiratory Society (ERS) menegaskan bahwa filter rokok merupakan sumber pencemaran lingkungan yang signifikan. Selain menambah volume limbah, filter juga berkontribusi terhadap polusi dan emisi.
Sebagian besar filter rokok terbuat dari selulosa asetat, sejenis plastik yang membutuhkan waktu lama untuk terurai. Ketika terfragmentasi di lingkungan, material tersebut berubah menjadi partikel mikroplastik yang dapat mencemari tanah, sungai, dan laut.
ERS menyebut mikroplastik dari filter rokok berisiko tertelan oleh berbagai organisme, termasuk biota laut. Selain itu, limbah tersebut juga dapat melepaskan zat beracun seperti nikotin dan senyawa kimia lain ke lingkungan sekitarnya.
Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa limbah filter rokok dapat didaur ulang secara aman dan efektif dalam skala besar.
Tidak Membuat Rokok Lebih Aman
Di sisi kesehatan, ERS menilai keberadaan filter selama ini menimbulkan persepsi keliru bahwa rokok menjadi lebih aman untuk dikonsumsi.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan filter tidak menghilangkan risiko kesehatan akibat merokok. Bahkan, desain filter diduga dapat mendorong perokok menghirup asap lebih dalam hingga mencapai bagian tepi paru-paru, yang berpotensi meningkatkan risiko adenokarsinoma paru-paru.
Selain itu, filter juga dinilai membuat rokok terasa lebih ringan sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk, termasuk di kalangan perokok muda.
Larangan Dinilai Jadi Solusi
Laporan tersebut turut mengkritik berbagai program pembersihan dan daur ulang filter rokok yang diklaim sebagai solusi lingkungan. Menurut FIRS dan ERS, pendekatan tersebut berisiko menjadi bentuk greenwashing karena dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab industri tembakau terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Associate Professor of Public Health di Imperial College London sekaligus Ketua Komite Pengendalian Tembakau ERS, Filippos Filippidis, menegaskan bahwa produk tembakau dan nikotin tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga memperburuk pencemaran lingkungan.
Menurutnya, langkah paling efektif untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan menghapus dan melarang produk-produk yang menghasilkan limbah sekali pakai.
"Menghapuskan dan melarang filter rokok, serta sistem pengiriman nikotin elektronik sekali pakai, adalah satu-satunya jalan ke depan untuk mengurangi, dan pada akhirnya menghilangkan, beban lingkungan yang sangat besar yang ditimbulkan oleh produk-produk ini," ujarnya.
Penulis: Vicka Rumanti