-
Militer Israel resmi melancarkan serangan udara balasan ke wilayah barat dan tengah Iran.
-
Ledakan besar mengguncang tiga kota utama Iran, merusak stabilitas gencatan senjata April lalu.
-
Donald Trump mencoba mengintervensi Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan demi menyelamatkan negosiasi.
Suara.com - Militer Israel secara resmi meluncurkan agresi udara balasan yang menyasar sejumlah pos logistik dan markas pertahanan strategis di wilayah Iran.
Operasi ofensif ini langsung memicu rentetan ledakan hebat yang bergemuruh di zona barat hingga wilayah tengah teritorial Iran.
Dikutip dari Al Jazeera, kepanikan global kembali mencuat setelah jaringan komunikasi lokal melaporkan adanya guncangan hebat di pusat-pusat kota pertahanan musuh.

Kondisi darurat ini dikonfirmasi langsung oleh otoritas penyiaran setempat melalui pesan kilat di saluran digital mereka.
"Beberapa ledakan terdengar di Teheran, Tabriz dan Isfahan," tulis TV pemerintah.
Hingga saat ini, otoritas terkait masih melakukan investigasi mendalam terkait tingkat kerusakan infrastruktur di lapangan.
Pemerintah Iran juga belum merilis pernyataan resmi mengenai jumlah korban jiwa akibat penetrasi udara tersebut.
Langkah agresif Tel Aviv ini merupakan respons spontan setelah wilayahnya dihujani proyektil jarak jauh pada hari sebelumnya.
Pihak Teheran sendiri menegaskan bahwa tindakan defensif mereka merupakan balasan atas manuver provokatif di garis depan perbatasan.
"IDF (militer Israel) akan menyerang musuh dengan kekuatan penuh, segera setelah lampu hijau diberikan," kata Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, seperti dikutip AFP.
Konfrontasi terbuka ini menandai runtuhnya komitmen perdamaian yang sempat disepakati oleh kedua belah pihak beberapa bulan lalu.
Situasi sengketa yang semakin tidak terkendali ini mengancam stabilitas geopolitik dan ekonomi di seluruh kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang meningkat tajam ini memicu respons cepat dari pemimpin global yang mengkhawatirkan dampak buruk perang terbuka.
Upaya komunikasi intensif terus diusahakan demi meredam ambisi militer dari masing-masing negara yang bertikai.
"Saya akan menelepon Bibi (Netanyahu) sekarang and memberitahunya untuk tidak membalas," kata Trump kepada Axios.
Pemerintah Amerika Serikat menilai bahwa aksi saling balas ini dapat merusak peta jalan diplomasi yang sedang dirancang.
Kekhawatiran terbesar adalah tertutupnya pintu dialog yang dapat menjerumuskan kawasan tersebut ke dalam krisis berkepanjangan.
"Masing-masing dari mereka bersenang-senang. Israel melakukan serangannya dan Iran juga melakukan serangannya. Kita tidak memerlukan serangan lain," imbuhnya.
Ketegangan antara dua kekuatan besar di Timur Tengah ini kembali membara pasca-insiden berdarah di perbatasan Lebanon pekan lalu.
Aksi saling serang proyektil ini secara de facto merusak gencatan senjata yang disepakati sejak April lalu.
Dunia internasional kini menyoroti bagaimana respon lanjutan dari Dewan Keamanan PBB untuk mencegah kehancuran total regional.
Sikap keras kepala kedua negara membuat prospek perdamaian jangka panjang di Timur Tengah kian menemui jalan buntu.