- Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax akan memicu inflasi nasional.
- Harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
- Masyarakat berpotensi beralih ke BBM lebih murah untuk menekan pengeluaran akibat penyesuaian harga yang dilakukan oleh pemerintah tersebut.
Suara.com - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, angkat bicara mengenai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mengalami kenaikan signifikan.
Ia memastikan bahwa kenaikan harga tersebut akan memberikan dampak langsung terhadap laju inflasi nasional.
Sebagaimana diketahui, harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Misbakhun menegaskan bahwa setiap kenaikan harga komoditas energi, khususnya BBM yang dikonsumsi luas oleh masyarakat, akan selalu diikuti oleh kenaikan angka inflasi.
"Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi, pasti. Berapa persennya, 0 sekiannya itu kita belum tahu," ujar Misbakhun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
![Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/20/52634-bbm-pertamax-turbo.jpg)
Ia menjelaskan bahwa karakteristik Pertamax sebagai BBM yang menyasar konsumen rumah tangga dan pribadi memiliki pengaruh yang berbeda dibandingkan BBM industri.
Meski tekanan dari BBM industri biasanya lebih berat terhadap sektor produksi, Pertamax tetap memiliki pengaruh besar karena basis penggunanya yang luas.
"Karena kan Pertamax ini kan lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Bukan BBM industri yang biasanya memberikan tekanan yang paling berat," tambahnya.
Selain menyoroti inflasi, Misbakhun juga memprediksi adanya perubahan perilaku konsumen. Ia menilai ada potensi masyarakat pengguna Pertamax beralih ke jenis BBM yang lebih murah, yakni Pertalite, demi menekan pengeluaran.
"Pasti, orang kan begitu harga naik, orang kan mencari harga yang paling rendah," tuturnya.
Terkait seberapa besar dampak ekonomi yang akan ditimbulkan, Misbakhun menyatakan bahwa pihak legislatif bersama pemerintah akan terus melakukan kajian dan perhitungan mendalam.
Ia juga mencatat bahwa pemerintah sebelumnya sempat melakukan penundaan penyesuaian harga Pertamax, meskipun varian yang lebih tinggi seperti Pertamax Turbo sudah mengalami kenaikan terlebih dahulu.
"Untuk kalkulasinya, itu kan belum kita lakukan eksersisnya lebih dalam. Sudah dilakukan penghitungan-penghitungan, nanti akan kita lihat impact-nya seperti apa. Pemerintah kan sempat melakukan penundaan, sekarang mulai dilakukan penyesuaian harga," pungkasnya.